8. Pembukaan kafe

1669 Words
Kamalea merasa seperti dejavu saat keluar rumah dan mendapati Revka juga sedang keluar dari rumahnya. Keduanya tampak saling melempar pandang, mengernyit, lalu seperti biasanya, bersikap tak acuh sampai teriakan Kamalea lebih dulu terdengar.   “Mau kerja lo?” tanya wanita itu seraya mendekat ke arah Revka yang sedang melangkah ke motornya.   “Ada kerjaan,” jawab laki-laki itu malas sembari melirik penampilan Kamalea yang tidak seperti biasa.   “Mau ke mana lo?” tanya Revka balik sembari meneliti wajah Kamalea yang menggunakan make up tipis. Agak tidak sinkron karena baju yang wanita itu gunakan adalah pakaian olahraga, tetapi untuk apa memakai make up segala?   “Mau jogging lah, nggak liat udah seksi gini?” Kamalea berpose layaknya model sementara Revka malah bergidik ngeri.   “Perasaan, tiap weekend lo kerja terus?” tanya Kamalea yang melihat penampilan Revka tidak terlihat formal, tetapi rapi seperti ingin mendatangi acara khusus.   Revka yang sedang memanasi mesin motornya menoleh sekilas ke arah Kamalea. “Lo lupa?”   Kamalea mengangkat alis sebagai tanda tidak mengerti dengan maksud lupa yang laki-laki itu katakan. “Lupa soal?”   Revka mendesah kecil, sedikit kesal, tetapi tetap menjelaskan apa yang wanita itu lupakan. “Gue lagi ada bisnis baru kalau lo lupa,” ujarnya sembari melajukan motornya. Meninggalkan Kamalea yang masih berdiri mematung, mencoba mengingat bisnis apa yang laki-laki itu maksud.   “Astaga! kenapa gue bisa lupa?” Wanita itu menepuk kepalanya sendiri. Ia ingat sekarang, Revka sedang membuka usaha kafe bersama dengan temannya. Dan—bukankah ini minggu pertama kafe Revka buka? Kamalea hanya bisa meringis bodoh, sembari memukul kepalanya sekali lagi. Merasa bersalah karena ia melupakan hari penting untuk Revka.   *   “Enak. Kamu pinter rekomendasiin tempat makan, atau selera kita yang memang cocok, ya?” Deon tertawa kecil, begitu pun dengan Kamalea. Wanita itu bersyukur karena Deon selalu suka dengan tempat makan yang ia pilihkan.   “Padahal aku suka takut Mas Deon nggak cocok loh. Tapi kalau memang nggak cocok jangan pura-pura cocok ya, Mas,” ujar wanita itu seraya menyuap sendok bubur terakhirnya.   Deon mengangguk, bubur di mangkuknya sudah tandas sejak tadi. Kini keduanya tengah menikmati keramaian orang yang memenuhi taman komplek tidak jauh dari rumah Kamalea.   “Memang selalu ramai kayak gini, ya?” Deon menggerakkan kepalanya ke arah samping saat tidak langsung mendapat jawaban. Ternyata, Kamalea malah sedang sibuk dengan ponselnya. Hal yang sedikit lain karena biasanya wanita itu selalu memusatkan perhatian untuknya.   “Kenapa? Ada masalah?” tanya Deon saat menyadari wajah yang Kamalea tunjukkan seperti menunjukkan sebuah kegelisahan.   Kamalea menggeleng, lalu memasukkan ponselnya yang tidak menunjukkan notifikasi apa pun. Ia sedang menunggu pesan balasan dari Revka. Namun, laki-laki itu malah seperti sengaja tidak membaca pesannya, padahal sejak tadi statusnya online.   “Inget temen aku yang waktu itu?” tanya Kamalea sembari menatap ke arah Deon yang kini tampak mengerutkan kening, mencoba mengingat teman yang Kamalea maksud.   “Revka, yang akun bilang, temen, tetangga, dan juga sahabat.” Kamalea mencoba mengingatkan. Deon yang awalnya lupa terlihat mengangguk, sepertinya sudah mengingat orang yang wanita ini maksud setelah mendengar tiga kata itu. Teman, tetangga, sahabat.   “Kenapa dia?” Kamalea pun segera menjelaskan apa yang terjadi. Termasuk perkiraannya yang menganggap Revka marah karena ia melupakan hal penting yang sedang sahabatnya itu kerjakan.   “Wajar dia marah, kamu lupain dia padahal status kalian sahabat,” ujar Deon dengan senyuman manis. Sementara Kamalea yang mendengar kalimat itu mengerucutkan bibir dengan wajah lucu. Deon pun dibuat tertawa geli oleh ekpresi itu, tetapi sepertinya Kamalea tidak menyadarinya.   “Cowok bisa ngambek juga ternyata,” gerutu wanita itu.   Deon kembali tertawa kecil dengan gelengan kepala. “Ya cowok kan juga manusia biasa Lea. Apalagi yang melupakan itu orang yang dia anggap penting.”   “Tapi lupa juga, kan, manusiawi, Mas.” Kamalea mencoba membela diri dan Deon tidak berusaha mendebat, laki-laki itu mengangguk maklum.   “Memang acaranya jam berapa, si?” tanya Deon sembari melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.   “Jam sepuluh, apa sebelas gitu, deh, kayaknya.” Dan ini baru jam sembilan pagi.   “Aku anter mau?” Tawaran yang sangat menggiurkan sebenarnya, tetapi tentu saja Kamalea tidak akan langsung menerimanya. Walaupun hanya sedikit. dia harus memiliki harga diri, bukan?   “Aku jadi ngrepotin lagi, dong?” Kamalea meringis sungkan. Padahal dalam hati sudah bersorak begitu girang.   “Nggak papa, kebetulan aku free, kok.” Deon mengatakan itu dengan senyum menawan yang nyaris membuat Kamalea meleleh. Walaupun sudah terlalu sering melihat, tetapi entah mengapa senyum Deon tidak lantas membuatnya bosan. Apalagi, di mata Kamalea kadar senyum itu makin bertambah menawan setiap harinya.   “Beneran, neh?” tanya Kamalea seolah tengah memastikan. Masih ada wajah sungkan yang ia pasang sebagai tameng.   Mau tidak mau Deon pun dibuat tertawa geli. “Beneran lah. Mau?”   “Mau,” jawab wanita itu dengan penuh semangat. Melepas segala topeng sok sungkan yang sejak tadi tercetak jelas. Deon lagi-lagi tertawa karena Kamalea benar-benar begitu lucu di matanya.   *   Kamalea segera turun dari mobil bersama Deon yang tampak semakin tampan dengan kemeja pendek berwarna abu. Jeans hitam yang menjadi bawahan membuat penampilan laki-laki itu tampak santai, tetapi tetap berkelas. Kamalea sendiri memakai dress katun berwarna biru—yang jika diperhatikan sekilas seperti senada dengan warna abu pada baju Deon.   Kalau saja boleh, tentu saja Kamalea ingin menggandeng lengan laki-laki itu seperti seorang pasangan kekasih. Namun, sayangnya hubungan mereka bahkan tidak memiliki nama spesial selain teman. Atau, lebih tepatnya malah kacung dengan bos. Meskipun kedekatan mereka kini seperti mengarah ke sebuah hubungan yang— memiliki arti lebih, tetapi Kamalea tidak akan terlalu percaya diri sebelum Deon menyatakan cinta padanya. Baru membayangkannya saja, pipi Kamalea sudah bersemu merah.   “Lea, maaf, aku angkat telpon bentar, ya,” ujar Deon saat merasakan ponselnya bergetar di dalam saku kemejanya. Kamalea pun mengangguk, dan segera melangkah terlebih dulu, meninggalkan Deon yang kembali melangkah ke arah parkiran mobil.   “Masih inget lo ada gue di dunia ini?” Sambutan sinis itulah yang Kamalea dapat saat mendekati Revka. Laki-laki itu tengah duduk sendiri entah menyiapkan apa. Acara sepertinya belum dimulai, terlihat dari suasana yang masih terlihat sepi.   Kamalea hanya berdecap malas, memilih mengabaikan sikap Revka ia mengedar pandang. Sebelum akhirnya kembali fokus pada Revka yang ada di depannya. “Acaranya jam berapa, si, Rev?” tanya Kamalea.   “Jam satu,” jawab Revka enteng. Kamalea pun menganga tak percacaya mendengar jawaban itu.   “Bukannya lo bilang jam sepuluh?” protes wanita itu yang merasa tidak enak pada Deon jika harus menunggu sampai beberapa jam ke depan.   “Kapan gue ngomong? Perasaan waktu itu gue belum bilang acaranya jam berapa.” Reva mendengkus malas, lalu pergi meninggalkan Kamalea yang mengikutinya.   “Lo kenapa si, Rev, sinis gitu sama gue?” Kamalea sadar jika sikap Revka tidak seperti biasa.   “Pikir aja sendiri,” jawab laki-laki itu. Dan kemudian benar-benar meninggalkan Kamalea yang tampak kebingungan.   “Lea!” Panggilan itu mengalihkan perhatian Kamalea yang tengah menatap punggung Revka yang berjalan menjauh.   “Emm, maaaf banget, kayaknya aku mesti pergi sekarang.” Deon tampak meringis tidak enak pada Kamalea yang kini mengerutkan kening.   “Ada masalah?”   Laki-laki itu tampak menimbang, lalu menggeleng. “Bukan masalah penting, tapi harus aku selesain sekarang,” katanya dengan senyum tipis.   Kamalea pun langsung mengangguk. Ia memang senang ada Deon di sini, tetapi kalau laki-laki ini memiliki urusan lain, maka ia tidak akan bersikap egois dengan menahannya.   “Ya udah nggak papa. Ini acaranya juga ternyata belum dimulai,” ujar Kamalea dengan senyum menenangkan.   “Oh gitu, jadi kamu mau dianterin pulang atau—“   Kamalea segera menggelemg, “Enggak perlu. Aku nungguin aja, sekalian bantu-bantu Revka.”   “Ya udah kalau gitu, aku cabut dulu, ya!” Deon segera pergi setelah mendapat anggukan dari Kamalea. Namun, langkah laki-laki itu terhenti, lalu membalik badan pada Kamalea yang kini mengangkat alis sebagai isyarat tanya.   “Kalau mau pulang kabarin aja, siapa tahu aku udah free.” Kamalea tersenyum, lalu segera menganguk. Dan setelah itu, Deon benar-benar pergi dari kafe.   “Jadi kalian udah pacaran?” Kamalea berjengit kaget karena Revka sudah muncul kembali di sampingnya.   “Ngapain nanya-nanya, katanya nggak mau tahu?” cibir Kamalea yang mengingat betul bagaimana respon terakhir yang Revka berikan saat ia ingin bercerita perihal hubungannya dengan Deon.   “Kapan gue ngomong gitu?” tanya Revka tak acuh. Ia memang akhir-akhir ini begitu sibuk dengan persiapan pembukaan kafe, sehingga tidak memiliki waktu untuk sekadar mendengar cerita tidak penting yang keluar dari bibir Kamalea.   “Ya nggak ngomong langsung, si, tapi sikap lo itu.” Kamalea mengekor langkah Revka yang kini duduk di salah satu meja. Tampak beberapa orang masih menyiapkan segala t***k bengek persiapan pembukaan kafe.   “Lo harusnya tahu kalau gue lagi sibuk.”   “Hmm, sekarang gue tahu.”   “Jadi kalian udah sampai tahap mana?” Meski kadang berpikir kisah percintaan Kamalea itu bukan urusannya, entah mengapa kali ini Revka ingin sekali tahu.   “Ya masih gitu-gitu aja,” jawab Kamalea santai.   “Gitu-gitu aja tuh yang kayak gimana?” Revka mengernyit malas.   “Ya masih biasa aja, nggak ada yang spesial,” jawab Kamalea datar, tetapi tidak lama ada senyuman yang terbit. “Kecuali sikap dia yang semakin manis.”   Revka mendengkus malas, lalu menyentil dahi Kamalea yang tertutup poni miring. “Jarang terlalu baper, nanti kecewa.”   “Nggak bakalan, dia itu jodoh gue!” ujar Kamalea yakin. Ada senyum yang menguar penuh di wajahnya. Revka yang melihat itu hanya bisa menghela napas sembari menggelengkan kepalanya.   “Bodo amatlah, terserah lo. Gue udah siapain stok tisu yang banyak semisal nanti lo mau nangis.” Revka mengatakan itu sembari tergelak kencang. Namun, selanjutnya mengaduh karena Kamalea mencubit lengannya dengan cubitan kecil di area lengan.   “Resek lo!” ketus Revka sembari mengelus lengannya yang terasa perih.   “Bodo!”   Revka sudah ingin membalas, tetapi urung karena salah satu panitia acara memanggilnya. Kamalea sendiri memilih duduk diam sembari memperhatikan sekeliling. Sampai, matanya menangkap satu sosok wanita yang kini menatapnya dengan tatapan aneh. Tunggu! Itu bukannya bos Revka? Sejak kapan dia di situ? Dan kenapa sejak tadi Revka terlihat mengabaikannya?                                                                                                                      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD