9. Kedai es krim dan lamaran romantis

1602 Words
Jika hari Senin untuk sebagian orang adalah hari yang paling tidak dinanti, maka untuk Kamalea malah sebaliknya. Sebelum ada Deon yang muncul di hidupnya, hari Senin berjalan biasa saja. Tidak Kamalea benci, tidak juga ia istimewakan. Malah, setiap hari rasanya sama saja. Yang berbeda hanya jika libur dia bisa bangun siang, sementara hari kerja ia harus bangun pagi. Namun, selama ini tidak pernah menjadi masalah untuk wanita yang memang selalu memiliki energi positif yang tampak tidak pernah ada habisnya ini.   “Liat tuh Kakak kamu, dia setiap hari keliatan semangat terus. Makanya sering dapat bonus dari bosnya.” Ucapan mamanya langsung menyambut kedatangan Kamalea yang terlihat repot menenteng, tas, sepatu, dan juga beberapa barang lain.   “Eh, eh, ada apa ini nama Kakak disebut-sebut?” Kamalea memilih duduk di samping Kino yang sedang memanyunkan bibir dengan muka bantal.   “Biasa. Malam begadang, paginya males. Padahal udah tahu hari ini ada kelas pagi,” omel mamanya lagi sembari menyorongkan segelas s**u yang disambut Kamalea dengan senyum mengembang.   “Kakak kayaknya lagi seneng banget?” Soraya mengalihkan perhatiannya sejenak dari anak bungsunya ke anak pertamanya yang memang seperti terus menunjukkan senyum itu. Hari-hari sebelum ini memang Kamalea sering terlihat ceria, tetapi entah mengapa hari ini dan beberapa hari belakangan ini Kamalea seperti terlihat lebih cerita. Bahkan perona yang anak gadisnya itu pulas pada pipinya terlihat begitu terang meskipun tidak berlebihan.   “Kaya Kakak pernah nggak seneng aja,” cibir Kino yang merasa jika kakaknya memang sering menunjukkan kadar senyum yang kadang terlalu berlebihan.   “Sirik aja lo.” Kamalea mengacak rambut Kino yang sudah ditata rapi seperti aktor-aktor korea. Wanita itu terkikik geli saat adiknya tampak kesal dan seperti ingin mengumpat, tetapi tidak berani karena ada kedua orangtuanya.   “Kakak punya pacar?” Bukan suara mamanya, tetapi itu suara papanya yang sejak tadi diam. Abdi terlihat menutup koran yang tengah dibaca. Laki-laki itu memang jarang berbicara, hanya akan menengahi saat terjadi keributan yang mulai keluar dari batas.   “Belum. Kenapa, Pa?” tanya Kamalea penasaran. Ia yakin papanya tidak akan bertanya tanpa alasan. Jika laki-laki itu sudah bersuara, artinya ada sesuatu yang penting.   “Kalau belum, anak temen Papa ada yang mau kenalan sama kamu,” ujar Abdi sembari menyeruput kopinya.   “Yang ketemu kita kemarin itu, Pa?” Bukan Kamalea yang bertanya, melainkan Soraya. Dan anggukan kepala adalah jawaban yang suaminya berikan.   “Anaknya baik kok, Kak. Kenalan aja dulu,” bujuk Soraya yang sebenarnya mulai khawatir karena Kamalea tidak juga menunjukkan gelagat dekat dengan laki-laki. Sebagai ibu ia tidak ingin terlalu menuntut, tetapi jika anaknya mulai terlihat tidak berada di jalan yang benar, maka ia harus meluruskan. Setidaknya ia ingin tahu jika Kamalea ini masih normal.   Kamalea tampak meringis, lalu menggaruk pelipisnya yang terasa gatal. “Gimana, ya.”   “Kamu udah ada pacar?” tanya Soraya saat sadar ada aura lain yang kini putrinya berikan.   Kamalea sebenarnya bingung harus menjawab apa. “Belum jadi pacar, si, Ma. Tapi—“   “Lagi deket?” tebak mamanya yang segera mendapat anggukan dari Kamalea.   “Orangnya serius sama kamu?” Abdi ikut menimpali. Kalau sudah berurusan dengan hal sepenting ini ia akan bersikap sedikit protektif.   Kamalea menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Jawaban apa yang harus ia berikan? Sementara Deon saja belum memberikan kode untuk menuju ke hal serius. Meski ia yakin laki-laki itu tengah mendekatinya saat ini. Namun, tentu saja itu bukan jaminan jika sebentar lagi Deon akan melamarnya. Ah tidak, itu terlalu jauh, mereka bahkan baru mengenal selama satu bulan.   “Baru kenal, Pa,” jawab wanita itu pada akhirnya. “Tapi orangnya baik kok. Dia bos di kantor Lea,” imbuh Kamalea dengan wajah serius.   “Kamu yakin?” Kali ini mamanya yang menimpali. Ada sedikit rasa lega karena ternyata kekhawatirannya tidak terjadi. Kamalea masih anak gadisnya yang normal, menyukai lawan jenis seperti seharusnya.   Kamalea langsung mengangguk cepat. “Yakin banget.”   “Kapan mau dikenalin Papa?” Abdi merasa umur Kamalea bukan lagi usia untuk bermain-main.   “Nggak lama lagi, kok. Lea bakalan ajakin ke rumah.” Wanita itu yakin tidak sampai sebulan lagi pasti bisa membawa Deon ke rumahnya sebagai seorang kekasih. Atau, calon suami jika boleh.   *   “Dia pernah bahas-bahas masa depan nggak sama lo?” tanya Mita saat Kamalea menceritakan perihal obrolan dengan keluarganya pagi tadi. Biasanya Kamalea akan lebih nyaman bercerita pada Revka, tetapi sahabatnya itu sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Dan lagi, Revka seperti tidak terlalu menyukai Deon. Entah apa alasannya, Kamalea sendiri juga tidak mengerti.   “Nggak ada, si, tapi sering nyeletuk-nyeletuk gitu.” Kamalea mengunyah kerupuk di piring gado-gadonya. Mereka sengaja makan di luar karena memang Kamalea berkata ingin menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan Deon.   “Nyeletuk gimana?” Mita juga tengah menikmati makanan yang sama.   “Ya gitu, kayak yang nyerempet-nyerempet.”   Mita memutar bola matanya malas mendengar kalimat ambigu yang Kamalea ucapkan. “Ya contohnya seperti apa, Lea!” ujar wanita itu dengan nada gemas.   Kamalea malah terkekeh geli tanpa dosa, lalu menceritakan apa saja obrolannya dengan Deon yang ia ingat. Termasuk yang soal tugas istri dan memasak serta membereskan rumah hari itu. Di mana Deon mengatakan jika laki-laki itu tidak masalah memiliki istri yang tidak bisa memasak dan juga membereskan rumah.   “Wah, kalau itu mah udah kayak kode kalau menurut gue,” ujar Mita yang diam-diam merasa iri pada Kamalea. Namun, meski begitu ia akan ikut bahagia jika memang pada akhirnya Kamalea berhasil dengan Deon.   Kamalea tampak tersenyum semakin lebar. “Beneran?”   Mita mengangguk, awalnya sedikit ragu, tampak berpikir, tetapi selanjutnya mengangguk yakin.   “Tebakan lo, berapa lama lagi?” tanya Kamalea penuh harap. Bukannya menjawab, Mita malah berdecap malas.   “Lo pikir gue cenayang?” ujar wanita itu yang dibalas kekehan geli oleh Kamalea. Selanjutnya keduanya mengobrolkan banyak hal, tidak menyadari jika tidak jauh dari mereka ada ratu gosip Andin yang sejak tadi memasang telinga tajamnya.   “Sialan, padahal gue lebih cakep ke mana-mana, tapi kenapa dia yang nyangkut, si,” bisik wanita itu seraya pergi dengan langkah sepelan mungkin.   *   “Harusnya nggak usah repot-repot gini lah, Mas. Aku yang nggak enak loh.” Kamalea meringis sungkan pada Deon yang membukakan pintu mobil untuknya.   “Nggak papa, kebetulan aku meeting nggak jauh dari sini. Kenapa nggak sekalian, kan?” Deon tersenyum, Kamalea pun ikut tersenyum dan segera naik ke dalam mobil.   “Tadi kenapa nggak bareng Fajar?” tanya Deon saat sudah berhasil duduk di belakang kemudi.   Kamalea yang baru saja memasang sabuk pengaman segera menoleh. “Mas Fajarnya mau jemput istrinya,” jawab Kamalea apa adanya. Dia tadi memang ada urusan di luar bersama Fajar. Ada sesuatu yang mereka kerjakan bersangkutan dengan urusan kantor. Namun, terpaksa pulang masing-masing karena arah mereka berbeda, dan juga laki-laki itu harus menjemput istrinya.   “Berarti memang jodohnya kamu buat dianter aku, ya,” ujar Deon dengan senyuman mengembang, tetapi wajah laki-laki itu fokus ke arah jalanan.   Kamalea yang mendengar itu tentu saja mengartikan jika laki-laki ini tengah menelusupkan maksud tertentu. Apa benar yang Mita katakan? Jika ini termasuk salah satu kode yang Deon kirimkan untuk membuatnya berpikir jika memang laki-laki ini ingin mengarah ke jenjang yang lebih serius? Kalau tidak, untuk apa semua perhatian yang Deon berikan padanya? Bahkan laki-laki ini mau repot-repot menjemput dirinya seperti ini.   “Kamu mau langsung pulang?” tanya Deon menyita kembali fokus Kamalea yang tengah membayangkan dirinya dan Deon duduk di kursi pelaminan.   “Emangnya Mas Deon mau ke mana?” tanya Kamalea balik, Deon malah tertawa kecil.   “Nggak ada agenda sebenarnya, tapi lagi males langsung pulang.”   Kamalea tampak berpikir, lalu menjentikkan jarinya. “Aku punya satu tempat yang bisa didatengin.”   Deon tersenyum, lalu segera mengangguk saat merasa tempat yang Kamalea tunjukkan pasti akan menyenangkan.   *   “Nggak suka, ya?” tanya Kamalea karena ekspresi Deon saat tiba di sebuah kedai es krim yang menurutnya tempat menyenangkan malah hanya biasa saja. Tidak seantusias biasanya.   “Emm, perlu dicoba dulu.” Deon mengembangkan senyum dan keduanya masuk ke dalam kedai yang tidak terlalu ramai.   Ternyata kedai itu tidak sesederhana yang ada di bayangan Deon. Setelah tiba di dalam, ia baru tahu letak istimewanya tempat ini. Didesain dengan begitu unik dan juga nyaman. Meski sebenarnya lebih cocok jika mereka mengajak anak kecil, tetapi tidak salah juga jika dijadikan tempat menenangkan diri.   “Mas duduk dulu, ya. Aku pesen.” Kamalea segera melesat ke arah pemesanan dan membiarkan Deon memilih tempat duduk. Tidak butuh waktu lama untuk Kamalea kembali dengan dua eskrim yang di-mix dengan kopi kekinian itu.   “Nggak buruk, kan, Mas?” tanya Kamalea sembari duduk. Ia pikir Deon akan menunjukkan wajah bosan, tetapi ternyata tidak. Laki-laki itu malah tampak nyaman sembari mengedar pandang.   “Untuk menghilangkan penat cocok kok.” Deon terus mengedar, mencoba menikmati dekorasi feminin yang kini tersaji. Kesan romantis memang sangat kental terasa.   “Biasanya suka ada yang nyewa buat acara lamaran di sini.” Kamalea tidak memiliki maksud apa pun saat mengatakan itu.   “Kamu suka dilamar di tempat romantis kayak gini?” tanya Deon entah dengan maksud terselubung atau tidak. Namun, tentu saja hal itu sontak membuat Kamalea mematung dengan wajah merah.   “Memang cocok untuk acara romantis,” ujar Deon lagi belum menyadari ekspresi yang kini Kamalea berikan.   “Iya, aku pengin suatu saat ada yang ngelamar dengan cara romantis.” Kamalea mengatakan itu sembari menatap wajah Deon penuh arti. Namun, segera memalingkan wajah saat mata Deon beralih menatapnya.   “Suatu saat pasti ada,” ujar Deon yang memaksa Kamalea untuk kembali menatapnya. Pandangan keduanya sempat bersirobok di udara. Namun, hanya sesaat, karena Deon pamit untuk mengangkat telepon yang masuk. Meninggalkan  Kamalea dengan jantung yang terus berdegub hebat seperti ingin keluar dari tempatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD