Kamalea mencoba untuk tidak memikirkan apa yang sedang terjadi. Mengais-ngais pikiran positif yang nyaris tidak tersisa. Mencoba berpikir jernih, dan mencari alasan yang masuk akal kenapa Deon melupakan janjinya, dan malah asyik bercengkerama dengan teman-temannya. Menjadikan keluarganya seperti orang d***u, menunggu seseorang yang bahkan mungkin tidak menganggap acara makan malam itu penting. Kamalea bukan tipe orang yang senang berprasangka buruk pada orang lain. Apalagi pada sosok yang sedang ia kagumi, dan ia yakini mempunyai sikap baik. Namun, jika kejadiannya seperti tadi malam, bagaimana caranya ia bisa berpikir positif? Maka, saat sosok yang membuatnya bingung itu kini berdiri di pintu masuk gerbang perumahannya, Kamalea bingung harus bersikap seperti apa. Haruskah ia marah? Me

