Husband Have A Mistress?

1207 Words
“Tumben lo ngajak gue keluar? Lagi ada masalah ya?” “Gak juga sih. Ya gue cuma pingin aja keluar. Kenapa? Lo keberatan ya Lin?” “Hooh sepertinya. Hahaha.” Mereka berdua terlibat obrolan singkat, sampai pada Sania yang menyinggung persoalan rumah tangga sahabatnya. Berliana. “Gimana masalah lo sama Abiyan? Aman kan?” “Iya. Beberapa waktu lalu kita baikan, dan dia juga udah minta maaf buat kesalapahaman antara kita.” “Ya okelah kalau gitu.” Berliana memperhatikan raut wajah Sania, yang seolah ragu dengan ucapannya sendiri. “Kenapa San?” “Gapapa, emangnya kenapa?” “Lo kayak gimana gitu pas dengar gue udah baikan sama Abiyan. Kenapa?” Yap, tepat sekali. Berliana sangat pintar membaca ekspresi wajah, apalagi Sania yang tidak pandai menyembunyikan mimik wajahnya. “Gue bisa baca ekspresi wajah lo yang kayaknya masam banget kalau denger gue sama suami baikan.” singgung Berliana, dia terus menatap wanita yang ada di hadapannya. Dia sangat tahu, ada banyak pertanyaan di kepala wanita itu. “Sok tahu lo, si paling bisa baca ekspresi wajah?” Berliana hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Sania tersenyum tipis, wanita di hadapannya masih saja menjadikan ‘denial’ sebagai tameng hidupnya. Atau tameng ketenangan hatinya? “Salah sih sebenarnya. Lo bisa baca ekspresi wajah tapi ada s&k nya kan? Gak berlaku buat semua orang.” “Hmm gimana ya Lin. Gue bingung mau ngomongnya.” lanjut Sania. Wanita itu tak berniat berbicara lagi. Meskipun ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Berliana. Tapi sepertinya Berliana enggan jika membahas tentang itu. “Bingung kenapa?” tanya Berliana. Wanita itu dibuat penasaran dengan perkataan Sania. “Hmm, sorry nih ya. Tapi, suami lo punya selingkuhan?” *** Atas dasar apa Sania bertanya seperti itu. Sania merasa curiga bahwa Abiyan, suami dari sahabatnya, sedang berselingkuh dengan wanita lain. Dia tidak ingin mempercayai pikirannya, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya curiga belakangan ini. Dia tidak akan berspekulasi seperti ini kalau tidak melihatnya secara langsung. Dan baru hari ini dia berani mengungkapkan kecurigaannya, langsung di hadapan Berliana. Ya meskipun jika nanti Berliana tidak akan percaya. Setelah merenungkan situasi ini selama beberapa waktu, Sania merasa perlu memberitahukan kecurigaannya kepada Berliana. Lagipula jika ini tidak benar adanya, mereka harus bersyukur. Tapi jika sebaliknya, maka Berliana juga harus mencari tahu kelakuan suaminya ketika di belakangnya bukan? Semua pria itu sama, punya nafsu untuk memiliki lebih dari satu wanita, tergantung bagaimana cara mereka kontrol hal itu. Tidak semua sih, tapi kebanyakan dan banyak juga yang tidak terlihat. “Atas dasar apa lo ngomong kayak gini?” “Gue tahu lo pasti gak percaya apa yang gue bilang. Tapi, gue sempat lihat suami lo sama perempuan lain—” “Lo salah lihat paling.” dengan cepat Berliana memotong ucapan Sania. “Enggak. Gue yakin gue enggak salah lihat. Ya walaupun gue gak lihat jelas siapa perempuan itu, tapi familiar banget proporsi tubuhnya.” “Tapi gue tetap berpikiran positif kok. Siapa tahu wanita itu rekan kerja atau saudara jauh gitu.” Lanjut Sania, dia memelankan suaranya. Jelas dari ekspresi Berliana, wanita itu sudah tidak mood di pembahasan ini. “Terus kalau udah berpikiran positif kayak gitu, ngapain masih nuduh kalau itu selingkuhan suami gue?” Sania memutar bola matanya, “Namanya juga pikiran Lin. Enggak bisa dikontrol. Ya kali kalau lo jadi gue, masa lo enggak kepikiran yang aneh-aneh.” “Tapi berarti benar ya, dia kerabatnya?” tanya Sania lagi. “Ya mana gue tahu.” jawab Berliana. Dia masih sebal saat Sania bertanya seperti itu. Menanyakan apakah Abiyan punya selingkuhan? Oh no!!! “Berarti benar dong selingkuhannya.” Plak Dengan sengaja Berliana memukul tangan Sania dengan sendok yang dia pegang. Ucapan wanita itu terlalu frontal dan tidak di saring terlebih dahulu. “Gak mungkin ya suami gue selingkuh, dia itu cinta banget sama gue. Asal lo tahu aja.” “Jadi, besok-besok jangan asal cetus kayak tadi. Gimana kalau omongan lo barusan di dengar sama orang yang kenal sama Abiyan? Bahayanya lagi kalau di dengar sama Ibu atau adik-adiknya Abiyan. Bisa jadi perang dunia ke 10, dan gue kena imbasnya lagi.” “Ya maaf Lin. Kan ini murni pemikiran gue.” “Iya, tapi jangan di ulangi lagi.” “Iya-iya sorry.” Sania merasa sangat penasaran dan tidak bisa menghilangkan rasa curiga di kepalanya. Ia mencoba untuk bertanya kepada Berliana, tapi malah kena marah wanita itu. *** “Sayang, nanti malam mau enggak makan di luar? Kayaknya kita udah lama deh enggak keluar berdua.” Abiyan berdiri di dekat pintu kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggangnya. “Mau enggak?” tanya Abiyan sekali lagi. Berliana menatap Abiyan, sebenarnya wanita itu ingin menerima ajakan makan malam dari suaminya. Tapi sayang sekali, Berliana terlanjur janji untuk menemani Adrian jalan-jalan sekaligus berkunjung ke rumah mami Lucy. “Gimana kalau besok aja mas? Pas lunch.” “Emang kenapa? Kamu enggak bisa?” “Sebenarnya aku udah ada janji mau berkunjung ke rumah mami Lucy. Kamu masih ingat kan mami Lucy?” Abiyan mengangguk, dia berjalan mendekati Berliana dan berdiri dihadapan wanita cantik tersebut. “Udah balik dari luar negeri?” Berliana mengangguk “Ya gapapa kalau gitu. Nanti ke sana sama siapa? Aku antar ya?” tanya Abiyan. Dia tak keberatan kalau Berliana hari ini tidak bisa. Abiyan tak akan mengekang istrinya, mau ke manapun Berliana pergi, yang penting dia tahu tujuan wanita itu. Sekiranya aman-aman saja, maka Abiyan tak akan masalah. “Gak usah mas. Nanti aku dijemput sama Adrian, anaknya mami Lucy.” “Loh bukanya dia juga di luar negeri ya sayang?” “Udah balik, beberapa hari yang lalu.” “Oh yauda, gapapa.” “Maaf ya mas. Tapi besok kita lunch bareng gimana?” Abiyan tersenyum singkat, “Ada rapat penting besok. Jadi enggak bisa deh.” “Ya udah deh. Oh iya kamu ngajak aku malaka malam, emang free? Bukannya kamu akhir-akhir ini lembur. Pulang ke rumah, tapi nanti juga berangkat ke kantor lagi.” “Sebenarnya enggak, ya setelah makan malam, aku balik kantor. Kamu tahu sendiri perusahaan lagi ada tender besar.” Berliana mengangguk paham, dia juga tahu kalau sedang ada tender besar. Tapi selama dia memegang perusahaan, sekalipun ada tender besar, Berliana tidak akan mau untuk lembur dan selalu pulang ke rumah tepat waktu. “Kamu mau menginap di rumah tante Lucy?” tebak Abiyan, yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar. “Emang boleh?” “Boleh. Emangnya kenapa harus aku larang? Kamu udah lama juga kan enggak berkunjung ke sana.” “Makasih ya mas.” “Sama-sama sayang.” Abiyan membungkuk dan mengecup singkat bibir ranum milik istrinya. Tapi dengan cepat Berliana mengalungkan tangan ke leher Abiyan dan menahan pria itu untuk tetap berada di posisinya. “I love you, mas.” Cup Berliana tersenyum, dia mendekatkan wajah dan memulai ciuman panas di pagi hari ini. Tangannya tak tinggal diam, bergerak mengelus d**a bidang suaminya. Abiyan mengerang dan semakin mendekatkan diri sampai tak ada jarak yang tersisa. “Sudah berapa lama?” bisik Abiyan menggoda. “Enggak tahu.” “Aku kangen.” “Mas!” teriak Berliana saat Abiyan mendorong tubuh wanita itu sampai terbaring terlentang di atas kasur. “Dua jam mungkin lebih dari cukup untuk sore ini. Bagaimana?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD