Quality Time

1106 Words
Abiyan dan Berliana duduk di balkon kamar mereka, sinar matahari senja menerangi wajah mereka yang penuh harapan. Setelah melewati beberapa masalah rumah tangga, mereka memutuskan untuk mulai menyelesaikan konflik mereka dan berniat untuk menjadi lebih saling terbuka lagi. Ya, setelah pergulatan sebagaimana suami istri lakukan, Abiyan membuka topik pembicaraan yang mengarah pada masalah yang menimpa mereka beberapa waktu lalu. Awalnya Berliana tidak ingin membahas hal itu dan memutuskan akan mencari tahu sendiri. Lagipula dia tidak puas dengan jawaban yang suaminya berikan. Tapi, pagi itu Abiyan memberikan janji bahwa sepulang dia dari kantor, dia akan menyelesaikan semua masalahnya dengan Berliana. Mau bagaimana lagi, Berliana membuka pintu, mengizinkan bila pria itu ingin menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka berdua. Abiyan menggenggam tangan Berliana dengan erat, “Sayang, aku ingin kita mulai mengatasi masalah kita dengan lebih jujur. Aku merasa kita perlu menjadi lebih terbuka satu sama lain.” ucap Abiyan. Dia menatap Berliana dengan harap, tapi Berliana malah sebaliknya. “Aku sudah sangat terbuka selama ini mas. Mungkin akhir-akhir ini kamu yang seolah membangun tembok tinggi diantara kita, aku malah merasa kamu yang tertutup dan sering tidak jujur.” “Aku enggak tahu permasalahan kita ini awalnya seperti apa. Tapi yang jelas penyebab kita sering berselisih paham, itu ulah ibu dan adik-adikku. Tapi aku janji, mulai sekarang mereka tidak akan mencari masalah lagi dengan kamu. Mereka akan berhenti mengganggu kamu, Lin.” Berliana tersenyum penuh harapan, “Aku juga berpikir seperti itu, mas. Ibu dan adik-adik kamu terlalu ikut campur dalam rumah tangga kita. Tapi ada benarnya juga yang kamu katakan mas, mungkin kita bisa mulai terbuka satu sama lain, seperti dulu. Kita harus berani berbicara tentang apa yang ada di hati kita, baik itu kekhawatiran, keinginan, atau perasaan yang kita rasakan.” “Ya, kita harus memulai dari awal. Seperti sedia kala, ya kan Lin. Kita saling memberikan kepercayaan dan komunikasi yang jujur. Aku ingin mendengar apa yang kamu pikirkan dan kamu mendengar apa yang aku pikirkan, tanpa takut akan hal apapun.” Berliana mengalihkan pandangannya, menatap lurus kearah taman yamg ada di depan. Perasaannya jadi kalut sendiri, tak tahu kenapa dia merasakan ini secara tiba-tiba. “Itu benar, mas. Salah satu hal yang ingin aku sampaikan adalah perasaanku tentang bagaimana aku merasa diabaikan dalam beberapa situasi. Aku ingin lebih diperhatikan dan didengar oleh kamu. Baik itu masalah pribadi kita ataupun masalah ku dengan ibu dan adik-adik mu.” “Iya, maafkan aku.” “Aku juga ingin kamu seperti dulu. Punya waktu untuk aku, bukan malah sering lembur dan luar kota seperti sekarang.” “Maafkan aku, Lin. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu. Kadang-kadang aku terlalu terfokus pada pekerjaanku dan—-“ “Lupa waktu.” balas Berliana. “Aku mengerti. Tetapi aku juga harus lebih terbuka tentang apa yang aku butuhkan. Kadang-kadang aku menahan perasaan dan harapanku sendiri, dan itu hanya membuatku merasa tidak dihargai. Kadang aku ingin kamu lebih lama menetap di rumah atau pulang kantor saat menjelang magrib, seperti biasanya. Tapi apa, kamu malah lembur dan memilih diam di kantor.” “Aku ingin kita memprioritaskan waktu bersama, seperti kencan tanpa gangguan dari pekerjaan atau masalah lainnya. Aku ingin kita bisa saling mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara tentang apa pun yang ada di pikiran kita. Aku cuma butuh quality time antara kamu dan aku.” Mereka menggenggam tangan satu sama lain dengan erat, saling memberikan dukungan dan harapan. Abiyan dan Berliana sadar bahwa perjalanan mereka untuk menyelesaikan masalah rumah tangga tidak akan mudah, tetapi mereka siap untuk menghadapinya dengan keberanian dan rasa kepercayaan diri mereka. Dalam momen itu, mereka merasakan perasaan cinta yang terus membara, dan berjanji untuk saling mendukung dan menjadi pasangan yang lebih baik dalam perjalanan mereka menuju masa depan yang cerah. Namun, sepertinya hanya Berliana yang merasakan cinta setiap harinya. Entalah apa yang dirasakan Abiyan saat ini. Yang jelas dia sudah berada di situasi yang sangat sulit, antara Berliana dan wanita itu. *** Setelah melewati serangkaian perdebatan dan pertengkaran, mereka memutuskan untuk memberikan waktu dan perhatian yang lebih banyak satu sama lain. Dalam upaya untuk memperbaiki hubungan mereka, Abiyan dan Berliana merencanakan berbagai kegiatan yang dapat mereka lakukan bersama. Contohnya seperti sekarang, Abiyan tidak berangkat ke kantor dan memilih diam di rumah dan membuat daftar rencana mereka kedepannya. Niatnya setelah ini mereka akan memasak bersama untuk sarapan pagi, lalu menonton film di pagi hari. Dan siangnya abiyan berencana membawa Berliana untuk menghabiskan waktu berdua di mall. Jalan-jalan sekalian makan malam di luar. “Ini kurang garam sayang.” “Masa sih mas. Sini aku cicipi.” Berliana cantik dengan dress selutut dan apron yang melekat di tubuhnya. Rambutnya digelung asal dan wajah tanpa make up. “Ih iya, kurang garam sedikit nih mas. Coba tambahin, tapi sedikit aja.” perintahnya. Berliana kembali berkutik dengan sayuran yang tengah dia masak. Rasanya sudah pas tanpa kurang apapun. Yaa, pagi ini Berliana memutuskan memasak bersama suaminya, tanpa bantuan oleh asisten rumah tangga. Itung-itung awal yang membahagiakan, bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Abiyan. Rasanya sudah lama mereka tidak seperti ini. *** 2 minggu berlalu Selama akhir pekan, Abiyan dan Berliana sering mengatur perjalanan ke tempat-tempat yang mereka sukai. Mereka memilih tempat-tempat yang tenang dan alami, seperti pantai atau pegunungan, untuk menghindari stres dari kehidupan sehari-hari. Di sana, mereka bisa menikmati keindahan alam, berjalan-jalan di sekitar, atau hanya duduk bersama sambil menikmati cahaya matahari terbenam. Perjalanan ini memberikan mereka waktu untuk berbicara tanpa gangguan dan menikmati kebersamaan mereka. Abiyan sendiri memutuskan untuk rehat sejenak dari pekerjaan kantor dan memperdayakan semuanya kepada sang asisten. Dan sejenak melepas penat yang akhir-akhir ini mengganggunya. “Gantian mas. Nonton film horor dong, jangan action mulu.” “Enggak ah.” “Takut ya.” “Enggak. Tapi kamu itu loh, orangnya penakut.” “Ih ngaco, mana ada.” Selain kegiatan di luar rumah, Abiyan dan Berliana juga menghabiskan waktu bersama di dalam rumah. Mereka mengadakan malam film di mana mereka menonton film-film favorit mereka sambil bersantai di sofa. Mereka juga sering memasak makanan bersama, berbagi tugas-tugas rumah tangga, atau hanya duduk di teras rumah sambil minum teh dan berbicara tentang apa pun yang mereka inginkan. Mereka juga memutuskan untuk kembali fokus dengan program kehamilan mereka. Benar, mereka akan memperbaiki semuanya. Selama waktu yang mereka habiskan bersama, Abiyan dan Berliana berusaha untuk saling mendukung dan menghargai satu sama lain. Mereka berbicara tentang harapan dan impian mereka, serta mencari cara untuk mencapainya secara bersama-sama. Mereka berbagi tawa, kegembiraan, dan kadang-kadang bahkan air mata, tetapi mereka berusaha untuk tetap saling mendukung dan memperbaiki hubungan mereka. Waktu yang mereka habiskan bersama setelah beberapa kali terlibat dalam masalah rumah tangga membantu Abiyan dan Berliana untuk menemukan kembali ikatan emosional diantara mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD