Berliana duduk di ruang tamu, merenungkan perjalanan panjang yang telah dia dan Abiyan lalui beberapa waktu dalam memperbaiki rumah tangga mereka. Beberapa bulan terakhir ini, mereka berhasil menyelesaikan masalah-masalah mereka dan merasa hubungan mereka semakin membaik setiap harinya. Berliana merasa tenang dan bahagia jika terus seperti ini. Ya, Berliana harap ini akan bertahan dengan waktu yang lama.
Berliana tersenyum puas, ketika melihat suaminya datang menghampirinya, “Mas, akhir-akhir ini rasanya rumah tangga kita semakin harmonis. Aku merasa tenang dan bahagia.”
Abiyan duduk di sebelah Berliana, merangkul pinggang wanita itu, “Iya, aku juga merasakannya. Ini adalah hasil dari kerja keras kita bersama dan tekad kita untuk memperbaiki hubungan kita. Aku sangat senang melihatmu bahagia, sayang.”
“Terima kasih, mas. Aku benar-benar merasakan perubahan dalam hubungan kita. Dan yang terpenting, tidak ada lagi gangguan dari ibu dan adik-adikmu. Rasanya lebih intim dan kita bisa fokus satu sama lain.”
Abiyan tersenyum, dia semakin mengeratkan rangkulannya. Jauh di lubuk hatinya, Abiyan kembali merasa ketakutan setelah mendengar perkataan dari Berliana barusan.
Dia kembali terlempar ke kenyataan.
“Aku senang karena berhasil menetapkan batas-batas yang seharusnya antara rumah tangga dengan keluargaku. Lagipula aku harus bersyukur karena gertakan ku waktu itu, ibu beneran tidak lagi datang dan mengganggu mu.”
“Aku tahu itu bukan keputusan yang mudah buat kamu mas. Kamu sangat dekat dengan keluargamu, dan aku khawatir tentang dampaknya pada hubungan kita. Tapi aku senang bahwa kamu memilih untuk mendukung dan melindungi perasaanku.”
“Kamu dan hubungan kita adalah prioritasku, Berliana. Memang sulit untuk menemukan keseimbangan antara keluarga dan pasangan, tapi aku yakin kita melakukannya dengan baik. Dan aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu akan berada di pihakmu.”
“Terima kasih, ya mas. Aku sangat menghargai dukunganmu. Ini memberiku rasa aman dan percaya diri yang lebih besar dalam hubungan kita. Aku harap ibu dan adik-adikmu bisa menerima aku apa adanya dan tidak terus menerus menyudutkan aku.”
Abiyan mengangguk, Tari dan yang lainnya memang harus menerima Berliana. Bagaimanapun juga kehidupannya yang layak ini berkat bantuan Berliana. Keterlaluan sekali kalau sampai Tari dan lainnya melupakan itu.
Yang penting, Berliana jangan sampai tahu alasan dibalik Tari yang tak menyukainya. Selain alasan, ‘anak orang kaya itu selalu sombong, pencitraan, munafik dan suka merendahkan’
***
Beberapa minggu kemudian, Abiyan dan Berliana duduk bersama di ruang makan, menikmati makan malam mereka.
“Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku merasa kita telah melewati begitu banyak hal, dan aku ingin kita berkomitmen untuk tetap terbuka satu sama lain.”
“Tentu, sayang. Aku juga merasa hal yang sama. Kita harus menjaga komunikasi yang jujur dan transparan agar kita tidak jatuh ke dalam pola lama.”
“Oh iya mas. Bicara tentang keterbukaan satu sama lain, mungkin bisa dimulai dengan mas yang jujur tentang uang 700 juta itu. Gimana?”
Abiyan mengerjap, dia terdiam cukup lama, sampai pada akhirnya mengangguk dan setuju untuk membicarakan masalah itu.
“Jadi, jika ada masalah atau ketidaknyamanan, baik dari pihakku atau pihakmu, mari kita bicarakan secara terbuka dan mencari solusi bersama.” ucap Berliana.
“Sebenarnya uang 700 juta dari perusahaan, itu aku pakai buat menutupi kerugian material pembangunan hotel di Surabaya.”
“Kerugian? Kok bisa?”
“Dua bulan dari dimulainya pembangunan, pembangunan terhenti, katanya materialnya enggak datang selama berminggu-minggu. Posisi ditempat pembangunan itu enggak ada yang di kerjain lagi. Dapat laporan itu aku langsung turun lapangan, dan ternyata uang pendanaan pembangunan hotel di korupsi sebesar 1.3 M.”
“Mas? Kamu kok enggak bilang-bilang sih ke aku. Seenggaknya kamu kasih tahu aku lah mas.”
“Maaf Lin. Waktu itu emang aku lagi kacau banget, masalah kantor itu ada aja. Dan aku milih gak cerita ke kamu, karena ini kesalahan aku, kelalaian dan aku.”
“Terus dari 1,3 M. 700 juta ambil uang perusahaan, sisanya pakai uang kamu dong?”
“Iya.”
“Ya ampun mas.”
“Maaf Lin.”
***
Berliana duduk di kedai kopi favoritnya, menikmati secangkir kopi hangat sambil menikmati keheningan di sekitarnya. Tiba-tiba, Sania datang, dan masuk kedai dengan senyuman cerah di wajahnya.
Sania berjalan menghampiri meja Berliana, “Lama ya nunggunya? Maaf ya, biasa jalanan macet.”
“Gapapa, lagian gue juga belum lama nunggunya.”
“Oh iya, gimana nih kabarnya? Dengar-dengar ada yang habisin berminggu-minggu buat quality time berdua. Gimana?”
Berliana tersenyum mendengarnya, “Ya, begitulah. Hubungan gue dan Abiyan udah membaik sih. Semua permasalahan udah terselesaikan.”
“Gitu? Ya syukurlah kalau gitu. Soalnya dari raut wajah lo nih ya, kelihatan banget bahagianya.”
“Ya gimana gak bahagia, lo tahu? Gue ngerasa quality time gue ini, mengingatkan gue saat pertama kali gue dan Abiyan jadi suami istri. Harmonis banget, adem ayem.”
“Emang sekarang enggak harmonis gitu?”
“Ya lo tahu sendiri kan, biang resek dan biang masalah di rumah tangga gue? Untungnya mereka enggak ganggu lagi akhir-akhir ini. Ya gue berharap selamanya mereka enggak ganggu rumah tangga gue.”
Di sela-sela obrolan mereka, Sania tiba-tiba membahas mengenai perusahaan dan struktur kepemimpinannya. Yang mana itu mengganggu pikiran Berliana.
“Gimana, sama lo yang rencananya mau kembali masuk ke perusahaan?”
“Lagi gue pikirin sih.”
“Lah, emangnya belum yakin?”
“Bukan gitu, gue cuma cari waktu yang pas aja. Lagian gue gak mau ini mengganggu hubungan gue sama suami gue. Lagian, bisa kapan aja gue masuk lagi ke perusahaan.”
Berliana menyesap kopinya, menikmati perpaduan pait dan manisnya, “Setelah melalui perjalanan yang panjang dan menghadapi masalah dalam rumah tangga. Gue rasa gue harus lebih fokus ke masalah pribadi gue dan membangun hubungan yang lebih baik lagi dengan Abiyan. Gue ingin menempatkan kebahagiaan kami sebagai prioritas utama.”
“Ya, setidaknya untuk sekarang.” lanjutnya.
Sania hanya bisa geleng-geleng kepala. Melihat Berliana sekarang, sepertinya wanita itu sedang dalam mood yang bagus. Tak seharusnya Sania rusak dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat mood Berliana berantakan.
Ya, mungkin untuk hari ini dia ikuti saja keinginan Berliana yang ingin fokus dulu ke masalah rumah tangganya.
“Itu suatu pendekatan yang bagus. Kita perlu memberi ruang pada diri kita sendiri untuk tumbuh dan mengejar apa yang benar-benar membuat kita bahagia. Gue ikut senang lihat lo begitu berani mengambil langkah ini.”
“Gue masih mau menikmati masa-masa ini. Lagipula rumah tangga gue sekarang tentram banget tanpa gangguan ibu mertua dan adik ipar gue.”
“Tapi Lin, kok aneh ya. Maksud gue, tumben mereka gak ganggu lo lagi? Kok bisa sih?”
“Gue gak tahu jelasnya gimana. Tapi Abiyan bilang, dia gertak ibunya dan ternyata gertakan itu mempan. Tapi sebenarnya gue agak ragu sih. Apalagi gue paham betul gimana sifat keras mertua gue.”
“Ya, lo tetap pantau aja deh. Siapa tahu kan mereka gak ganggu lo karena ada alasan tertentu. Ya intinya tetap waspada aja deh Lin dan jangan sampai kecolongan.”