Denial

1027 Words
Satu minggu berlalu.. Selama Abiyan di luar kota, selama itupun Berliana tidak kembali ke rumah. Dia memilih tinggal sementara dengan Sania di rumah wanita itu. Selain menghindari bertemu dengan mertua dan iparnya, Berliana juga tidak ingin merasa kesepian. Karena ini merupakan waktu terlama Abiyan keluar kota, sudah seminggu dan katanya pria itu akan kembali dua hari lagi. “By the way, kemarin gue lihat adik ipar lo.” cetus Sania, wanita itu fokus dengan layar televisi didepan nya. Berliana yang mendengarnya menoleh, acuh tak acuh, “Siapa?” “Adik Abiyan yang bungsu, kemarin gue lihat dia di mall, keluar bareng mertua lo.” Berliana menyengrit, yang dimaksud Sania adalah Dina? Tapi setahu Berliana, Dina masih berada di Singapura dan berlum kembali. Tapi tidak tahu lagi jika adik iparnya itu sudah memutuskan untuk pulang. “Berarti dia udah balik dari Singapura.” “Ngapain dia disana?” Berliana mengedikan bahu, sebenarnya Berliana juga tidak terlalu tahu kenapa adik iparnya memutuskan pergi ke Singapura waktu itu. Setahunya setelah kelulusan, Dina kembali ke Indonesia, tapi selang beberapa minggu kembali lagi ke Singapura. Yaa, seperti yang Berliana pernah bilang, dia membiayai semua keperluan keluarga Abiyan. Bahkan Berliana membiayai full kuliah adik bungsu Abiyan. Yang mana Dina memaksa ingin berkuliah di luar negeri dan selama wanita itu kuliah, mulai dari tempat tinggal sampai uang saku, semua Berliana yang memenuhi. Jika membiayai sekolah adik Abiyan, hanya Dina yang sampai bangku perkuliahan. Adik Abiyan lainnya tidak ingin melanjutkan pendidikan, dan lebih memilih membuat bisnis yang akhirnya cuma berujung pada kerugian. “Abis lulus, dia balik lagi ke Singapura. Gue juga gak tahu dia ngapain.” “Eh wait, wait. Abis lulus terus balik lagi ke Singapura? Dia sekolah di Singapura?” Sania bingung, dan terkejut saat Berliana mengangguk sebagai jawaban. “Jangan bilang lo yang biayain dia?” Sekali lagi Berliana mengangguk, “Selama Dina kuliah emang gue yang biayain. Biaya apartement sampai uang saku juga gue yang tanggung.” Hal itu sukses membuat Sania bertepuk tangan, gila. Hanya satu kata yang akan Sania ucapkan. Gila! “Gila sih lo. Ya ampun gak habis pikir gue. Sumpah Lin, kenapa lo juga yang biayain dia? Kan ada suami lo, dia juga kan pegang jabatan sebagai CEO, gak mungkin juga kalau gak mampu biayain kuliah adiknya di luar negeri. Kenapa harus lo sih?” Dipikir-pikir apa yang dikatakan Sania ada benarnya. Kenapa Berliana yang membiayai? Ada Abiyan yang statusnya sebagai CEO di perusahaannya, dan jelas Abiyan mampu untuk membiayai adiknya berkuliah. Tapi, selama ini malah wanita itu yang memenuhi segala kebutuhan adik iparnya. “Gatau, gue juga gak tahu kenapa bisa gue yang biayain dia.” “Gue nih kalau jadi ibunya Abiyan, gue sungkem ke lo sih Lin, gue malu banget sumpah. Pasti gue bakalan baiik-baikin lo sih, soalnya lo udah baik banget.” heran, Sania heran. Wanita itu berdecak kesal, kenapa bisa ada keluarga yang tidak tahu malu seperti itu? Dan bagaimana bisa Berliana bertahan di lingkungan toxic selama 10 tahun lamanya. Dia yang menikah tidak selama itu saja rasanya tidak kuat kalau orang tua suaminya sudah ikut campur urusan rumah tangganya. “Mertua gue juga gitu sih, dia gak suka sama gue tanpa sebab. Tapi seengaknya mertua gue berasal dari keluarga kaya, jadi dia juga gak pernah porotin gue. Tapi dia nyebelin.” “Ini udah gak kaya, morotin gue, manfaatin kekayaan gue, dan dia gak suka sama gue. Gak tau diri kan?” Nah, itu dia “Lah, terus ngapain lo betah lama-lama jadi menantunya kocak?” “Karena gue cinta sama anaknya.” “Anaknya gak cinta sama lo!” **** Sore itu Berliana memutuskan pulang ke rumah, yang pertama didapatinya adalah ibu mertua beserta adik-adik iparnya yang berkumpul di ruang tamu. Mereka asyik menonton televisi di depannya. Tidak berniat menyapa, Berliana langsung berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Masih bisa Berliana dengar jika ibu mertuanya tengah mengoceh dibawah sana. Sepertinya wanita paruh baya itu kesal saat Berliana hanya melewatinya tanpa menyapa seperti biasanya. Rasanya juga menjengkelkan jika menyapa seseorang namun ujungnya diabaikan. Jadi Berliana putuskan tidak menyapa mereka mulai dari sekarang. Cling Cling Ekor matanya melirik ke arah ranjang, suara notifikasi ponsel terdengar dari dalam tasnya. Tidak berniat melihat notifikasi apa yang masuk, Berliana malah mengabaikan dan berlalu menuju lemari kayu di kamarnya. “Lama-lama rasanya hambar juga, 10 tahun pernikahan rasanya gak ada artinya lagi. Baik aku dan mas Abiyan sama-sama tidak bisa memperbaiki hubungan ini, aku rasa komunikasi kita jauh lebih buruk dari sebelumnya.” Tangannya mengambil amplop putih yang ia simpan rapi di dalam lemari. Amplop putih tersebut terlihat jelas logo dari salah satu rumah sakit. Amplop yang entah sudah berapa lama dia simpan dan tidak pernah sekalipun ditunjukkan pada suaminya. “Aku juga pingin punya anak. Aku juga pingin kayak istri-istri lainnya, aku juga pingin disayang mertua, rukun sama ipar.” ucapnya, langkahnya mundur, ada rasa sakit yang menghantam dadanya. Rasanya sangat sakit, sakit sekali. Tubuh Berliana lunglai, wanita itu menjatuhkan diri diatas lantai marmer yang dingin. Tatapan matanya menatap kosong ke arah amplop putih tersebut. Semua yang terjadi akhir-akhir ini berputar kembali bagai kaset rusak. Memenuhi kepalanya, membuat Berliana stress. Dia mulai mempertanyakan segalanya. Apa arti pernikahan mereka. Apa arti sepuluh tahun yang sudah mereka lalui bersama. Hanya ada kata jangan, jangan sampai sepuluh tahun menjadi waktu yang terbuang sia-sia. Momen kebersamaan mereka, momen romantis keduanya, momen awal-awal pernikahan mereka, yang dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian, kembali Berliana ingat. Tidak ada yang Berliana lupakan, bahkan dia tidak bisa menghilangkan memori manis itu dari ingatannya. Tapi, kenapa jauh lebih banyak momen mereka berdebat dan bertengkar selama sepuluh tahun ini, daripada momen manis yang mereka ciptakan. Rasanya sakit, sakit yang tidak bisa Berliana deskripsikan dengan kata-kata. Buliran air mata itu jatuh membasahi pipi, semakin deras kala ingatannya memutar semua memori yang dilalui selama pernikahan mereka. Denial dengan apa yang terjadi, masa bodoh, acuh dan tak pernah peduli, merupakan tameng untuk diri Berliana sendiri. Dia tak pernah siap mengahadapi sesuatu yang dia sendiri tak ingin memikirkannya. Namun, semesta selalu berusaha menyadarkannya lewat orang-orang dan sesuatu yang terjadi belakangan ini. “Kenapa kamu gak mau berusaha mas. Tuhan pun gak bakalan memberi kalau hambanya saja gak mau berusaha.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD