The Truth I Tried to Deny

1026 Words
Berliana duduk di ruang rapat direksi. Tatapannya menyapu sekeliling ruangan sebelum akhirnya berhenti pada sebuah map cokelat tebal di hadapannya—berisi laporan keuangan perusahaan selama setahun terakhir. Direksi yang hadir dalam rapat dadakan ini adalah direktur SDM, COO perusahaan, serta kepala keuangan. Bahkan Berliana tak luput menyuruh kepala audit internal untuk datang menghadap dirinya. Bisa dibilang ini inspeksi dadakan yang membuat semuanya gelagapan. Terlebih Abiyan sedang tidak ada di kantor dan rapat pun berjalan tanpa sepengetahuan CEO mereka. “Seperti yang Ibu minta,” ujar Yusuf sambil mendorong map itu sedikit ke depan, “ini laporan keuangan perusahaan selama lima tahun terakhir. Data ini sudah Ibu Charina periksa langsung sebelum beliau menyerahkannya kepada saya.” “Charina berhalangan hadir?” tanya Berliana singkat. “Iya, Bu. Beliau sedang di luar kota untuk urusan audit eksternal. Tapi seluruh laporan ini sudah mendapat persetujuan beliau.” “Baik,” jawab Berliana. “Silakan jelaskan.” Yusuf mengangguk. “Baik, Bu.” Entah mengapa udara di ruangan itu terasa semakin menyesakkan. Jantung Berliana berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia takut—takut pada apa pun yang akan ia dengar setelah ini. Takut pada kebohongan lain yang selama ini luput dari penglihatannya. Andai semalam ponselnya tak bergetar karena email dari pihak bank, mungkin hari ini ia tak akan datang ke perusahaan. Dan mungkin juga, ia tak akan sekhawatir ini pada Abiyan. “Secara umum, tidak ada kejanggalan besar dalam laporan perusahaan, aman-aman saja,” Yusuf membuka penjelasan dengan nada tenang. “Namun, dalam dua tahun terakhir, terdapat beberapa transaksi yang secara langsung dilakukan oleh Pak Abiyan menggunakan dana perusahaan.” Berliana menegakkan punggungnya. Apakah ini lain dari 700 juta itu? “Pertama, transaksi senilai tiga miliar rupiah untuk pembelian rumah di kawasan Jakarta Selatan. Kemudian pada bulan Januari, terdapat pengeluaran sebesar lima ratus enam puluh tujuh juta rupiah untuk pembelian tanah di daerah Bandung. Dan 10 hari yang lalu—” Yusuf berhenti sejenak sebelum meneruskan penjelasannya, “Terdapat transfer sebesar tujuh ratus juta rupiah dari rekening perusahaan ke rekening pribadi Pak Abiyan.” Bukan tanpa sebab Berliana mengumpulkan keempat orang ini di dalam satu ruangan. Selain mereka sudah bekerja sejak kepemimpinan Fathan, mereka juga orang yang sangat Berliana percaya di dalam perusahaan. Jadi informasi apapun yang terlontar dari mereka, Berliana tidak akan meragukannya. Mereka adalah orang kepercayaan Berliana, meskipun dia sendiri sudah lama tidak ikut campur urusan perusahaan. Tidak ada yang tahu tentang ini, termasuk Abiyan yang berstatus sebagai suaminya. Sejak dulu hidup Berliana selalu berprinsip, termasuk tidak akan memberitahu siapa orang disekitarnya yang paling dia percaya. Bagi Berliana orang kepercayaan adalah kelemahan yang tanpa disadari dan bisa menjadi boomerang dikemudian hari. Meskipun sudah menikah dan saling berkomitmen untuk terbuka pada pasangan masing-masing, Berliana tetap pada prinsipnya. Mungkin orang akan menilai Berliana terlalu berlebihan, tapi inilah namanya prinsip. Jika tidak berprinsip, namanya orang plin-plan! Walaupun menjadi orang kepercayaan, mereka tidak berinteraksi berlebihan ataupun seolah dekat dengan Berliana. Maka dari itu seluruh karyawan pun tidak pernah tahu siapa orang yang paling Berliana percaya. Mungkin setelah menikah dengan Abiyan, mereka jadi berpikir bahwa Abiyan lah orangnya. "Maaf Bu sebelumnya jika saya lancang bertanya. Apakah Bu Berlin sedang ada masalah dengan Pak Abiyan? Karena akhir-akhir ini bapak terlihat aneh dan lebih menghabiskan waktu di kantor, baik jam makan siang ataupun diwaktu pulang." Anastasia mencoba mengutarakan apa yang menggangu pikirannya akhir-akhir ini. Karena kelakuan Abiyan juga berimbas pada internal perusahaan. "Tidak, memangnya kenapa?" Tidak ada yang ditutup-tutupi oleh Anastasia. Wanita itu menceritakan semuanya, bahkan hal sekecil apapun dia ceritakan tanpa terlewat sedikitpun. Keseharian Abiyan dan tingkah aneh Abiyan akhir-akhir ini yang katanya sering meninggalkan pekerjaan di kantor. Berliana mengembuskan nafas panjang, ini sesuatu yang tidak ingin Berliana dengar. Semua yang dia dengar hari ini, sukses membuat kepalanya terasa penuh. Tidak pernah membayangkan akan mendengar kenyataan ini. Hari ini. "Oke, saya rasa sudah cukup. Yusuf tolong rekap semua data transaksi dan juga bukti kalau Pak Abiyan sudah menggunakan uang perusahaan untuk urusan pribadinya. Suruh Charina kirimkan lewat email ke saya.” "Dan kamu, saya ucapkan terima kasih karena sudah menjaga kepercayaan saya. Dan saya sangat puas sekali dengan kinerja kamu selama ini, meksipun saya tidak lagi memimpin perusahaan sepenuhnya." Berliana menjabat tangan Anastasia. "Sama-sama Bu, senang bisa berkerja dengan ibu dan menjadi orang kepercayaan Bu Berliana." *** Berliana selalu percaya, kebohongan adalah sesuatu yang bisa ia cium sejak awal. Entah dari nada suara yang berubah, tatapan yang menghindar, atau jeda terlalu panjang sebelum sebuah jawaban. Ia merasa cukup cerdas untuk mengenali semuanya. Tapi pada Abiyan, insting itu seolah mati. Ia duduk sendiri di ruang direksi yang kini sunyi. Meja panjang berlapis kayu gelap itu masih dipenuhi map-map cokelat, sebagian terbuka, sebagian lagi tertutup rapi—seolah sengaja menunggu untuk dibaca ulang. Berliana tidak segera meraih apa pun. Tangannya diam di atas meja, jemarinya saling mengunci, napasnya terasa pendek. Tidak. Pasti ada penjelasan. Sejak awal, pikirannya menolak bekerja sama. Berliana memilih mengulang kalimat yang sama dalam kepalanya, bahwa Abiyan tidak mungkin seperti itu. Ia suaminya. Orang yang ia pilih untuk berdiri sejajar dengannya. Orang yang ia percayai memimpin perusahaan yang diwariskan ayahnya. Rasanya terlalu berlebihan jika hanya karena beberapa transaksi, ia menuduh macam-macam. Mengingat malam-malam ketika Abiyan pulang lebih larut dari biasanya, alasan-alasan sederhana yang dulu diterimanya tanpa curiga. Rapat mendadak, klien penting, lembur dan lain sebagainya. Semua terdengar masuk akal karena ia ingin mempercayainya. Denial adalah bentuk perlindungan paling halus, rasanya seperti orang bodoh. Masih memikirkan perkataan Anastasia tentang Abiyan akhir-akhir ini. Artinya waktu itu juga Abiyan tidak sedang di luar kota, tapi kenapa beralasan seperti itu padanya? Bahkan tidak ada agenda luar kota untuk sebulan kedepan. “Di mana dia?” Tatapan matanya terus terkunci pada satu pemandangan yang sejak tadi mengganggu indra pengelihatannya. Tak terasa buliran air mata jatuh tanpa terkendali, sebagaimana seperti layaknya wanita pada umumnya. Berliana juga bisa menangis saat bohongi oleh orang yang dia cintai. Dia tidak pernah tahu apa yang dilakukan Abiyan di kantor. Memakai uang perusahaan sebanyak itupun Abiyan tidak menceritakannya pada Berliana. Apalagi transaksi terakhir sebesar 700 jt, merupakan awal mula pertengkarannya dengan Abiyan. Sampai sekarang pun Abiyan tidak menjawab untuk apa uang itu ia pakai. “Hari ini aku terlihat sangat bodoh.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD