PAMAN LAY PART 2

2026 Words
Louis terus berjalan menuju rumahnya, terlihat dari arah Luar Irene tampaknya sudah pulang selepas kerja. Dan benar saja! Ketika Louis telah memasuki rumahnya, Irene sudah menunggu Louis sembari menghisap sebatang rokok. “ dari mana saja kau? “ Tanya Irene dengan Logat dinginnya. “ aku baru saja pergi ke rumah paman “ Jawab Louis sambil memposisikan dirinya untuk menduduki sofa “ bagaimana kabarnya? “ tanya Lagi Irene. Louis mengambil sebatang rokok Irene yang masih berada di dalam kardus rokoknya di meja. “ ku pikir dia baik baik saja “ Kata Louis sembari menyalakan korek api. “ hmm baguslah “ ujar Irene menghisap rokoknya Kedua kakak adik itu pun terus menghisap rokoknya, seraya menunggu waktunya tengah malam. “ Kau besok libur bekerja bukan? “ Ujar Louis bertanya Irene mengiyakan pertanyaan tersebut dengan menganggukkan kepalanya pelan-pelan. “ Aku ingin bekerja paruh waktu, bantu aku mencari pekerjaan itu “ kata Louis. Irene membulatkan matanya lebar-lebar “ bekerja paruh waktu? Tidak usah. Biar aku yang bekerja “ Sentak Irene. “ aku tidaak bisa menjadi manusia jika aku hanya berdiam diri. Sampai kapan aku menjadi mata-matamu Irene? “ Kata Louis merengek lagi. Irene melempar kardus rokok kepada Louis, “ apa gunanya kau bekerja paruh waktu? Itu tidak akan membalaskan dendam kita. Cukup lah kau jadi mata mataku saja “ Celetuk Irene dengan nada tinggi Irene kemudian masuk ke kamarnya setelah mengoceh kepada Louis, dan Louis pun tidak bisa menjawab ocehan Irene lagi. Alhasil mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk tidur. *** Matahari kini telah timbul dari ufuk timur, perlahan-lahan matahari pun naik sepenggalan. Steve tertidur di ranjangnya, dan hawa dingin dengan cepat menyengat kulit putih nan lembutnya sehingga itu membuat Steve terbangun. “ hawa nya dingin sekali “ ucap Steve bangun dari tidurnya. Ia pun kemudian meneguk segelas air putih yang tersedia di laci sebelah tempat tidurnya. Saat hendak pergi keluar ia di kejutkan dengan ayahnya yang tiba-tiba bergegas pergi lebih pagi dari biasanya. “ ayah, hendak kemana? “ tanya Steve pada ayahnya Tetapi ayah nya hanya melewatinya dan mengabaikan pertanyaannya. Steve memasang muka datarnya yang tampak kesal karena ayahnya. Lalu ia menuju ke meja makan untuk sarapan. “ kemana ayahmu pergi, pagi pagi sekali “ ucap ibunya sambil menyiapkan piring untuk Steve. “ ah entahlah apa peduliku “ jawab Steve datar. *** Zacklee bergegas untuk pergi bukan untuk menuju kantornya, tetapi ia ingin pergi menuju rumah Mihaw untuk menyelesaikan misi nya. Dan dengan laju sedang mobil yang di tumpangi Zacklee akhirnya melaju menuju tempat tujuan. Setelah selang beberapa menit, sampailah Zacklee di rumah Mihaw. Ia mendobrak pintu dengan keras tanpa sopannya walau pintunya tak di kunci. Terlihat Lay masih duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. “ apa rencanamu? “ tanya Mihaw. “ aapakah dia sanggup untuk berlari? “ tanya balik Zacklee “ tidak, dia pingsan semalaman karena aku telah memberinya pukulan “ jawab Mihaw. “ Lepaskan saja “ kata Zacklee seraya melipatkan tangannya. Mihaw terkejut dengan jawaban Zacklee “ aku berjuang untuk menangkapnya. Dan kau akan melepaskannya begitu saja? “ Ujar Mihaw komplain “ aku tidak melepaskannya untuk hidup tenang, aku melepaskannya untuk ku bawa ke penjara “ jawab Zacklee Mihaw pun lega mendengar jawabannya. “ aku tidak puas jika dia mati begitu cepat, penderitaannya masih kurang. Biar dia menderita di penjara “ Lanjut Zacklee konfirmasi. Mihaw mengangguk mengerti, ia akhirnya melepaskan tali yang di ikatkan ke tangan dan kaki Lay. “ berapa lama polisi akan datang? “ tanya Mihaw “ sebentar lagi “ jawab Zacklee sembari melirik jam tangan brandednya. Mihaw dan Zacklee menunggu polisi untuk datang. Beberapa menit kemudian paman Lay bangun dari pingsannya. “ aaa dimana aku? “ ucap paman Lay pelan. “ kau di rumahku, kau sedang menunggu nasibmu “ jawab Mihaw. “ hah? Apa yang kau maksud? “ kata Paman bertanya sambil memegang kepalanya yang terasa berat. “ polisi akan datang jadi bersiaplah untuk menerima hukuman atas putraku tuan Lay yang terhormat “ celetuk Zacklee sembari merapikan jasnya. Selang beberapa waktu sirine pun berbunyi dari kejauhan, paman Lay pasrah menerima nasibnya. Dan polisi akhirnya datang menjemput paksa paman Lay. “ jalani hidup dengan baik Lay, hahahah selamat bersenang-senang “ Lanjut Mihaw meledek. Dan Lay hanya menatap kepada Zacklee yang kejam “ kelak kau akan membayar karma mu Zacklee “ Kata paman menatap sinis. Tapi Zacklee hanya menjawab nya dengan senyum tipis yang santai. Paman pun masuk ke dalam mobil polisi setelah polisi menangkapnya. *** Steve berdiri di depan cermin seraya memerhatikan penampilannya. Beberapa gantung pakaian pun ia coba untuk membuat penampilannya terlihat cocok dan keren. “ akhirnya yang ini cocok “ guman Steve tersenyum. Kemudian ia mengambil secarik kertas yang di simpannya di dalam laci. Secarik kertas itu berisikan alamat Irene. Dengan buru-buru ia pergi mencari alamat tersebut, sesampainya di gang tempat jalan menuju rumah Irene, ia melihat Irene dari kejauhan. Ia tengah mengunci gerbang rumahnya. Irene terlihat sangat rapi dengan setelan kemeja putih di baluti rompi hitam dan rok pendek berwarna hitam berjalan menggunakan sepatu hak tingginya. Sungguh perempuan yang anggun dan cantik. Tapi sayang, dibalik keanggunannya ada pisau yang tersembunyi di saku bajunya. Tapi wajah Steve tetap bersemu merah ketika melihat sosok Irene. Tepat sekali, ia adalah wanita idaman bagi Steve. Anggun, Cantik, dingin dan sedikit mengintimidasi. Lamunan Steve terhenti seketika, saat tiba-tiba Irene mulai berjalan menuju ke suatu arah. “ kemana dia hendak pergi? “ gerutu Steve dalam hatinya Langkah demi langkah Steve mengikuti Irene, dan ternyata tempat yang Irene kunjungi adalah sebuah bar. “ sore-sore begini dia pergi ke bar? “ gerutu lagi Steve di hatinya. Tapi tampaknya bar masih belum buka, untuk apa Irene ke bar sore-sore begini. Rasa penasaran pun terus menghantui Steve. 3 jam Steve menunggu dan memantau di balik bar. Tapi Irene tak keluar-keluar. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki membuka bar nya. Dan dengan sigap Steve langsung masuk dan mengunjungi bar itu. “ terlalu banyak pria disini, dan ada beberapa wanita juga “ ucap Steve. Steve terus mencari-cari keberadaan Irene, dan akhirnya matanya mulai tertuju pada seorang barista yang tengah membuat sebuah coctail di bar. Dia adalah Irene. Lalu Steve duduk di sofa yang tersedia di Bar tersebut. Sesekali ia menatap dan terus memantau Irene agar tidak di goda oleh para pria. Ahhh ternyata Steve telah mencintai Irene. Lama akhirnya Steve menunggu Irene. Ini sudah tengah malam, tapi Bar belum kunjung tutup. Berkali-kali Steve membalik-balikkan badannya untuk mencari posisi duduk yang nyaman karena bosan. Tapi tetap saja ia bosan! Alhasil Steve memutuskan untuk menunggu Irene di luar. Irene akhirnya selesai bekerja, ia kemudian segera bergegas untuk pulang. Steve yang hampir tertidur akhirnya sadar setelah Irene keluar dari Bar. Steve kemudian mengikuti Irene dari belakang. “ sudah jam berapa ini? “ ucap Irene sembari menoleh pada arloji nya. “ ahh sudah tengah malam. Aku harus bergegas “ tambah Irene. Ia mulai mempercepat langkahnya agar sampai menuju rumah. Tapi lagi-lagi ia peka terhadap sesuatu yang di belakangnya. Bola matanya mulai melirik ke arah kanan dan ia pun dengan langkah kilat spontan membalikkan badannya. Dan tak di sangkanya Steve lah orang yang mengikuti Irene dengan langkahnya yang sedikit sempoyongan. “ Dasar bocah lemah, masih beraani mengikutiku “ ucap Irene sambil melotot. “ ahhhh akhirnya aku sudah menemukanmu “ ujar Steve dengan logat mabuknya. Tangan Steve mulai meraba pada pundak Irene, dan Irene pun menepisnya. Tapi Steve terus merabanya. “ lepaskan, jangan menyentuhku “ Tepis Irene Steve tidak merespon apa-apa. Ia menyandarkan kepalanya ke pundak Irene. “ menjauhlah dariku sekarang! 1.... 2.... “ teriak Irene sembari memberi peringaatan dengan hitungan Tapi Steve tidak menjawabnya karenaa Steve telah pingsan dalam pundak Irene. “ hei bocah,.... “ panggil Irene. Irene akhirnya mengangkat kepala Steve dan menatap wajahnya. “ Dasar b*****h ini, sialan kau pingsan? “ Celetuk Irene Steve tetap teguh dalam diamnya. “ aku biarkan saja dia. “ Ucap irene seraya meletakkan Steve di jalanan. Dan setelah itu meninggalkan Steve yang di gelatakkannya di jalan. Lalu sesuatu yang di duga-duga terjadi. Saat Irene melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah, Steve malah menarik Kaki Irene dengan kedua tangannya. “ kali ini, takkan kulepaskan kau... “ “ siapa namamu? Irene ? Atau hantu perempuan danau ? “ Steve terus mengoceh dalam mabuknnya. Sedang Irene tengah menarik-narik kakinya yang di tarik oleh Steve. “ hei, tolong aku... perutku...sedikit...mual... “ tambah Steve sambil tertawa seperti orang gila. “ huwwek huweek “ lanjut Steve pura-pura muntah Irene terus saja membulatkan matanya, ia terus menatap Steve yang ingin muntah di kakinya. “ jangan berani kau mual di kakiku “ Ujar Irene kesal Tiba-tiba ponsel yang berada di dalam saku Steve berbunyi, itu adalah sebuah panggilan dari ibunya. Naamun Steve, pingsan lagi dalam sekejap. Alhasil Irene pun mengangkat ponsel itu. “ halo putraku, kau pergi kemana hingga larut seperti ini? “ tanya ibu Steve. “ halo. Putramu sedang pingsan sekarang. Ia berada di tepi jalan, jadi jemputlah sebelum dia mual terlalu banyak. “ jawab Irene ketus dan dingin. “ apa? Steve pingsan? Bagaimana dia bisa pingsan? “ tanya lagi ibu Steve. “ dia minum, jadi jemput saja “ jawab Irene. “ halo, bolehkah kau menemani putraku sebentar? Aku akan menjemputnya sekarang “ Suruh ibu Steve memohon. “ sayangnya..saya tidak punya banyak waktu “ Sahut Irene Irene dengan spontan menutup telpon dari ibu Steve, kemudian ia pergi meninggalkan Steve. Tapi Steve menahannya lagi. “ temani aku sebentar hingga ibuku datang “ ucap Steve terbata-bata. “ ibuku pasti akan datang sebentar lagi “ Tambah Steve terbata-bata lagi. “ aku tidak ada waktu untuk itu, lepaskan kakiku “ Sentak Irene. “ baiklah, aku akan memeluk kakimu hingga ibuku datang. “ Sahut Steve sambil memeluk kaki Irene bak anak kucing. “ jangan konyol, dan berhenti bersikap seperti itu. Menggelikan! “ Jawab Irene sinis. Steve terus saja memeluk kaki Irene, seketika Irene mengingat kenangan masa lalu nya. *** Hujan tak henti-henti nya jatuh ke bumi. Membasahi seluruh isi bumi, Ranting dan dedaunan semuanya bersenang ria menyambut datangnya hujan. Terdengar suara Katak-katak memanggil hujan dengan porak poranda. Dua anak kecil berseragam sekolah tengah duduk di sebuah Tempat duduk sembari menggoyang-goyangkan kakinya. Anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki terus saja memandangi tumbler yang di selempangkan di lehernya dengan muka kusut, dan satu anak perempuan tersenyum sumringah seraya meratapi hujan. “ Giselle, apa ibu akan datang? “ Tanya Leon pada kakaknya. “ kau tidak percaya ibu akan datang? “ Jawab Giselle pada Leon. “ apakah ibu pernah lalai menjemput kita? “ Tanya Giselle pada adiknya. Leon yang mendengar pertanyaan Irene mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian bibir mungil nya yang datar berubah menjadi sebuah senyuman manis. “ ibu kita pasti akan datang sebentar lagi “ Jawab Leon percaya. “ nah begitu kau harus percaya pada ibu. Biar ku temani kau menunggu ibu sambil bermain air hujan ya? “ Ucap Giselle tersenyum Girang. Leon tersenyum dan dengan sengaja memeluk Giselle dengan erat. “ mengapa kau memelukku? “ Tanya Giselle. “ aku akan memelukmu sampai ibu datang, kakak “ Jawab Leon sembari menunjjukan barisan gigi putih nan rapinya Mereka pun saling berpelukan hingga akhirnya ibu mereka datang sambil membawa 2 payung. “ itu ibu datang “ Teriak Leon saat melihat ibu dari kejauhan. Giselle dan Leon pun menghampiri ibunya tidak peduli walau hujan melanda. “ hei hati-hati ini hujan, ibu tidak ingin kalian demam “ ucap ibu nya. “ ini 1 payung untuk Gisell dan 1 payung ini untuk ibu dan Louis “ lanjut Ibunya. “ ahhh ibu curang, harusnya aaku bersama ibu “ Gerutu Giselle cemberut imut. “ tidak boleh, Giselle kan sudah besar “ Kata Leon meledek. “ iya ssudah aku mengalah “ Ujar Giselle pasrah. Ibu mereka pun tertawa melihat Drama anak-anaknya dan Mereka bertiga pun akhirnya tertawa terbahak-bahak. Itulah kenangan masa lalu yang di alami Irene sebelum keluarganya meninggal. *** Bola mata Irene kemudian menyoroti Steve yang tergeletak di bawahnya. Seketika Air mata Irene menetes dengan pelan setelah mengingat kenangan masa lalunya. “ apa sekarang sedang hujan? “ tanya Steve yang mengelus-elus kaki Irene. Air mata Irene menetes tepat pada hidung Steve, sehingga Steve berasumsi bahwa langit tengah meneteskan air suci nya. “ baiklah Steve biar ku temani kau hingga ibumu datang “ Ucap Irene sedikit sesak karena mengingat masa lalunya. Hati Irene kemudian luluh setelah Ia teringat kkenangan masa lalu nya saat ia tengah menunggu ibu nya bersama Louis setelah pulang sekolah di kala hujan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD