TAHANAN

1844 Words
Louis terus saja menatapi Jam dinding, Jarum jam kini telah menuju pukul 12.00. Tapi yang menjadi permasalahan adalah bukan jam 12.00 siang melainkan ini sudah pertanda tengah malam. Ia menggigit kuku nya beberapa kali, sembari menelvon kakak perempuan satu-satunya. Tetapi tidak ada respon sama sekali. “ Irene, kemana dia? “ Tanya Louis pada diri nya sendiri khawatir. Beberapa kali mata nya mulai lemah dan tidak bisa melawan rasa kantuknya. Alhasil, ia merebahkan kepalanya di sofa. Dan tanpa sadar ia menutup matanya dan mulai tertidur di sofa. *** “ baiklah Steve, akan ku temani kau hingga ibumu datang “ Ucap Irene pada Steve sembari mengusap derai air matanya. Steve dengan perlahan akhirnya melepaskan tangannya yang menarik kaki Irene. Dan Irene menempatkan tubuhnya dengan duduk di samping Steve. “ Terima kasih, “ jawab Steve terbata-bata. Steve sejenak membangunkan tubuhnya yang sempoyongan dengan duduk di samping Irene. Mereka pun duduk berduaan di tepi jalan. Beberapa menit mereka menunggu, tidak ada satu patah kata pun yang terlontar dari bibir indah Irene. Yaaa seperti biasa, Irene yang bersikap sinis dan dingin tampaknya saangat irit untuk mengeluarkan kata-kata. Suasana yang tegang berubah menjadi momen paling menjijikkan saat Steve memuntahkan semua isi perutnya. “ huwwekkkkk huweekkkkk “ Irene membuka matanya lebar-lebar setelah melihat Steve yang muntah di hadapannya. “ menyebalkan “ gerutu Irene kesal. “ huwweekkkkk huwweekkkkkk" Kini Irene menjadi sangat jijik melihat semua isi perut Steve yang keluar. Ia menepuk-nepukkan tangannya ke punggung Steve supaya Steve bisa berhenti memuntahkan isi perutnya. Dengan kekuatan Ekstra Irene menutup matanya agar ia tidak ikut muntah, tetapi tetap saja. Saat Irene membuka matanya sebelah, entah mengapa matanya terkonsentrasi pada muntahan Steve, akhirnya Irene pun ikut muntah karena jijiknya. “ huwwwekkkk huwweeek “ Namun tidak ada sesuatu yang keluar dari perut Irene. “ hei mengapa kau mual di depanku? “ Komplain Steve. “ Hei bagaimana aaku tidak muntah, apa saja yang kau makan. Mi instan, nasi , s**u semuanya kau makan . Lihatlah mi instan, nasi dan s**u yang kau muntahkan. Ahhhh menjijikkan sekali “ Gerutu Irene sambil menunjuk-nunjuk muntahan Steve yang berisi Mi, nasi dan s**u Stroberi yang berkombinasi menjadi muntahan haha. “ perutku rasa nya tidak enak “ Tambah Irene mengeluh. “ apa kau perlu bantuanku “ Ucap Steve yang ingin menyentuh Irene. “ Jangan mendekat, aduhh kepalaku “ Ketus Irene sambil memegangi kepalanya yang mulai berat. Tiba-tiba sebuah mobil datang mendekat ke arah Steve dan Irene. Itu adalah mobil milik ibu Steve. “ itu ibumu bukan? pergilah dari sini “ Usir Irene. Setelah Ibu Steve datang Irene pun dengan cepat beranjak pergi. Steve ingin menahan Irene lagi, tapi ibunya menarik tangan Steve dan mengajaknya pulang. *** Irene Akhirnya sampai di depan rumahnya, Ia berusaha untuk mmembuka pintu rumahnya tapi terkunci dari dalam. “ Louis, buka pintunyaa “ Teriak Irene. Louis tidak mendengar apapun, karena ia hanyut dalam tidurnya. “ berengsek, kemana Louis tidak menjawab “ Gerutu Irene “ terpaksa aku harus mendobrak pintu ini. Maafkan aku pintu “ Lanjut Irene. Ia pun dengan mental baja nya mendobrak pintu rumahnya, dan itu mengejutkan Louis yaang tengah tertidur. “ Irene, kemana saja kau haa? “ Tanya Louis dengan nada tinggi. Irene menghiraukan pertanyaan dari adiknya, dan mulai merebahkan badannya ke Sofa dengan kondisi tak berdaya. “ dasar b*****h, aku bertanya kau malaah menghiraukanku? “ umpat Louis. “ diamlah Louis, perutku mulas. Aku ingin tidur “ jawab Irene dengan mata tertutup. Louis pun memahami kondisi kakak kesayangannya. Ia akhirnya mulai pergi ke kamarnya untuk tidur. *** Steve terus terbaring di ranjangnya, ini sudah siang. Tidak biasanya ia bangun terlambat. Mungkin karena semalam ia tidue telat hingga tengah malam dan tubuhnya sempoyongan karena banyak minum. Untunglah alarm yang berada di laci kamarnya membangunkannya. “ eummm ini sudah siang? “ ucap Steve memegangi kepalanya yang berat. “ apa !! Sudah jam 9 ? “ Lanjut Steve terbelalak setelah melihat jam kecil di sampingnya. Steve pun dengan berat memaksakan tubuhnya untuk mandi. Beberapa menit telah berlalu, Steve pun menyelesaikan mandinya. Dengan memakai celana dalam dan tubuh yang setengah telanjang, ia berdiri di depan sebuah kaca lebar sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah karena keramas. Mata Steve mulai tersorot pada bagian hidungnya. Ia mengingat kejadian tengah malam yang menimpanya. “ Semalam aku melihat mata Irene berkaca-kaca. Mengapa dia meneteskan air matanya? “ tanya Steve pada dirinya sendiri. “ aku pikir itu hujan “ celetuk Steve lagi. Tiba-tiba terlintas di benak Steve untuk mengunjungi Irene lagi di Rumahnya. Ia kemudian bergegas mempersiapkan dirinya untuk menemui Irene. *** Louis berdiri di depan rumah Pamannya selama beberapa waktu. Pintu yang biasanya di biarkan terbuka kini telah berubah menjadi tertutup rapat. Beberapa kali ia membuka paksa pintu rumah itu, hingga tangannya kesakitan. Dan beberapa kali ia memanggil nama pamannya tapi tidak ada jawaban. “ apa paman tidak ada di dalam? “ tanya Louis pada dirinya sendiri. Ponsel pun sampai ia keluarkan untuk menghubungi pamannya, tetap saja tidak ada jawaban. Rasa khawatir terus menghantuinya. “ paman kemana kau? “ gerutu lagi si Louis. Setelah beberapa lama ia berdiri, alhasil ia beranjak pergi dari tempat pamannya. *** Steve terus berlari ke arah rumah Irene, berharap ia akan menemuinya. Tetapi sayangnya, tidak ada orang yang keluar. Bahkan ia sempat mengintip lewat jendela. “ mungkin Irene sedang berada di kedai sekarang “ katanya. Ia kemudian pergi untuk menjumpai wanita yang di puja-pujanya. Louis yang baru datang dari rumah pamannya melihat Steve keluar dari pintu gerbang rumahnya. “ siapa lelaki itu? “ ujar Louis bertanya-tanya. Ia ingin mengejarnya, tetapi Steve lari dengan gesit hingga membuat Louis masa bodo untuk mengejar Steve. Steve terus bertekad untuk menemui Irene. Ia mulai menumpangi mobilnya untuk menuju ke kedai tempat Irene bekerja yang lumayan jauh dari rumahnya. Hingga beberapa saat setelah mobilnya melaju begitu cepat, ia sampai di depan kedai. Irene mengetahui Steve tengah ingin menemuinya. Itu terlihat dari balik jendela. “ arghhh dasar berengsek, mengapa b*****h itu datang kembali “ ucap Irene meenghela napas. Steve pun menghampiri Irene yang tengah asyik membersihkan meja kasirnya dengan kain lap. “ hai “ kata Steve menyapa. Irene sama sekaali tidak menatap nya , yang ada ia hanya menatap sinis dengan matanya yang sangat menyihir semua orang. “ hei kau, aku ingin memesan “ ujar Steve pada pelayan yang lain. Pelayan itu mengangguk dengan pelan. Sedang Irene sendiri terus sibuk dengan pekerjaannya dan bertingkah seolah-olah tidak ada Steve di hadapannya. Tetapi dengan kekuatan penuh cinta, Steve terus saja menunggu Irene dengan duduk di Kursi yang tersedia di kedai. Selang beberapa lama, pelayan akhirnya datang dengan membawa segelas bubble tea original yang biasa di pesan oleh Steve. “ permisi, ini bubbletea yang kau pesan. Selamat menikmati “ Ucap pelayan itu sepenuh hati. Steve terus menatapi pelayan itu. “ Apakah aku memesan bubbletea? “ Ujar Steve bertanya. “ maaf? Bukankah kau memesannya tadi “ jawabnya. “ tidak! Aku tidak memesan bubbletea “ sahut Steve. “ lalu apa yang kkau pesan? “ Tanya pelayan itu. “ kedai ini dan seisinya “ Celetuk Steve. Pelayan lain yang mendengarkan pembicaraan Steve dan pelayan tadi memasang muka terkejut. Terkecuali Irene yang masih saja Sibuk membersihkan Meja dan sangat tidak peduli. Sedang pelayan yang Steve ajak bicara ternganga hingga nampan yang ia pegang jatuh ke bawah. “ hebat “ Kata pelayan itu dengan mulut terbuka. “ boleh aku bertemu dengan pemiliknya ? “ Tanya Steve untuk memancing Irene. Irene yang mendengarkan itu, akhirnya terpancing. Dengan tatapan sinisnya ia berjalan menghampiri Steve. “ berhenti berbicara omong kosong. Kedai ini tidak di jual “ Ucap Irene dengan ketus. “ mengapa? Mengapa kau mencegahku? “ Ucap Steve Irene menarik tangan Steve dan membawa nya keluar dari kedai. Ia menggenggam tangan Steve dengan kuat. Bahkan lebih kuat dari cengkeraman burung elang. Kemudian Irene menghempas kan tangan Steve. “ aku tiidak ingin melihatmu di mana-mana. Pastikan ini terakhir kalinya kau datang kesini. Kau mengerti? “ Ucap Irene sembari menunjuk-nunjuk ke arah Steve. “ mengapa kau terganggu? “ Tanya Steve pelan. Irene menghiraukan pertanyaan tersebut, Ia memilih pergi meninggalkan Steve masuk ke dalam seraya menghela napas. Tapi Steve mencegahnya. “ kau harus menjawab ku dulu “ ujar Steve menggenggam tangan Irene yang hendak beranjak pergi. Irene hanya menatapnya dengan sinis. “ Pak.. pak tolonglah aku, dia tadi memegang pantatku “ Teriak Irene di depan khalayak ramai dengan Drama nya Mata Steve yang damai sontak terbelalak lebar. Dan para pejalan kaki menghampiri Steve. “ wahhh anak nakal...bisa-bisanya kau berbuat tidak Lazim. Apa kau tidak pernah merasakan lembutnya pantatmu hingga berani memegang p****t wanita? “ Kata seorang bapak-bapak. “ ahh maaf ini salah paham, wanita ini... “ ucap steve tapi perkataannya di potong oleh bapak-bapak tadi. “ ayo, kau pergi saja dari sini “ kata bapak itu sembari menjewer telinga Steve. “ tidak tidak aaku tidak melakukannya “ Kata Steve. “ kau ini, sudah memegang p****t orang sembarangan masih mengelak juga ,ayo pergi! “ ketus bapak bapak itu. Steve meninggalkan Irene dengan kondisi di jewer oleh bapak-bapak pengguna jalan. Bapak itu menyuruh paksa Steve pulang. Steve menoleh ke arah Irene dan Irene mengangkat alis kanannya sembari mengangkat jari tengahnya. “ dasar b*****h “ gerutu Irene kesal. *** Hari akhirnya telah berganti menjadi petang. Matahari yang memasang sinar terangnya kini telah berjalan ke ufuk barat untuk berubah menjadi senja. Louis terus saja mondar-mandir di depan sofa. Ia memgangi dagunya dengan khawatir memikirkan pamannya. “ paman kemana saja ? “ tanya Louis pada dirinya sendiri Ia mengambil ponselnya untuk menelvon kakaknya. “ Halo, irene? Aku berkunjung ke rumah paman tapi dia tidak ada. Aku sungguh khawatir “ Ucap Louis. “ lalu? Apa kau pikir paman bersamaku? “ Kata Irene. “ bukan, apa yang hharus ku lakukan? “ Tanya Louis khawatir. “ cukup diam dan jangan ganggu aku “ Jawab Irene yang di ikuti dengan menutup telpon. “ Halo halo? Irene ? arghhh berengsek “ Umpat Louis Louis duduk di sofa untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Irene kini sudah waktunya untuk pulang. Tak lupa ia membawakan sesuatu untuk di makan bersama adiknya. Ia berjalan menuju arah pulang seperti biasa, ia terus menjadi sorotan banyak orang karena aura nya yang dingin namun sangat cantik. suara telepon berdering, Itu milik Louis. setelah berselang lama. Ponselnya mulai bergeming, panggilan itu dari pamannya. “ halo, paman kau dimana? “ tanya Louis deengan sangat khawatir. “ halo, maaf ini saya Aparat keamanan di kantor polisi daerah chaniago. Saya ingin menyampaikan bahwa pamanmu sedang dalam masa tahanan. Dia ingin menyampaikan pesan ini kepadamu “ ucap Polisi menggunakan ponsel paman Lay. “ hah? siapa ini? Tidak mungkin pamanku..” Celetuk Louis. “ saya hanya ingin menyampaikan ini kepada anda. Selebihnya terima kasih “ Kata polisi memotong pembicaraan. “ tidak mungkin “ gerutu Louis sedikit tak percaya Irene akhirnya telah sampai ke rumahnya. Ia melihat adiknya yang tengah kebingungan. “ hei adik, ada masalah apa? “ kata Irene sembari melempar makanan yang di bawanya ke sofa. “ Irene, paman sekarang ditahan di kantor polisi “ kata Louis sedikit berkaca-kaca. “ apaa? “ jawab Irene ternganga. Irene seketika diam membatu karena tak percaya apa yang di katakan oleh Louis. Meskipun Irene sedikit enteng mengenai kabar pamannya, ia sama sekali tak menduga bahwa pamannya tengah di penjara. Apa yang akan Louis dan irene lakukan kedepannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD