“ tuan Lay, maaf ponselmu dari tadi terus berdering “ ucap salah satu polisi yang menjaga para tahanan.
Paman Lay duduk termenung dengan memangku tangannya pada kedua kakinya di atas ranjang kecil yang di sediakan oleh Kantor polisi tersebut. Setiap kali ia terus menggenggam tangannya yang di dekatkan ke mulut untuk menahan hawa dingin.
“ dari siapa pak? “ Tanya paman Lay.
“ kau bisa melihatnya sendiri tuan “ ujar Polisi itu sembari memberikan ponselnya.
Paman Lay terpaku melihat username yang telah menelvonnya, Louis keponakanku! Yaa beberapa panggilan tak terjawab dari Louis. Membuktikan seberapa khawatirnya ia kepada pamannya.
Mata paman Lay berkaca-kaca, ia berpikir untuk memberi tahu Louis karena ia tak ingin keponakan kesayangannya terus risau terhadapnya.
“ ahh,aku belum siap untuk berbicara dengannya. Ungkapkan saja apa yang terjadi padaku “ Kata paman berkaca-kaca.
Polisi itu mengangguk pelan mendengarkan perintah paman Lay. Ia menikmati dinginnya malam di balik jeruji besi, yaa meskipun memang benar bahwa ia jelas salah karena ingin mencelakai seseorang. Dengan pasrah ia menerima semua konsekuensinya.
***
“ Irene, Paman ditahan di kantor polisi “ kata Louis sangat Khawatir.
“ apaa? “ jawab Irene ternganga.
Mata Irene membulat, tiidak percaya apa yang terjadi pada pamannya. Tanpa banyak bicara ia dan Louis mulai bergegas ke Kantor polisi untuk membezuk pamannya.
Beberapa kali Irene menatap Adiknya Louis di dalam taksi, sama seperti saat-saat kejadian yang menimpa keluarganya saat pembunuhan. Louis tak banyak bicara dan terus diam dengan tatapan kosong.
“ Louis kita telah sampai “ Ujar Irene.
Louis terus termenung dengan pikiran kosongnya.
“ Louis kita telah sampai “ ucap Irene dengan nada tinggi
Louis sontak terkejut dengan teriakan Irene.
Mereka turun dan berlari masuk menuju kantor polisi. Mereka kemudian bergegas meeminta waktu pada polisi untuk berbicara dengan pamannya.
Beberapa menit kemudian, polisi memanggil paman Lay untuk di bawa menemui Irene dan Louis.
“ paman apa yang terjadi padamu? “ Tanya Louis kepada pamannya.
“ apa ada masalah yang terjadi? “ Lanjut Louis.
“ Louis, aaku memintamu agar kau tak khawatir bukan? “ Jawab Paman Lay.
“ bagaimana aaku tak khawatir jika kau dalam kondisi seperti ini paman? “ ucap Louis.
Irene berdiri mendengarkan obrolan Louis dan pamannya. Selanjutnya obrolan masih terus berlanjut.
“ ceritakan semuanya kepadaku “ Ujar Louis.
“ baiklah, aku berusaha untuk mencelakai seseorang “ jawab pamannya.
“ siapa yang kau celakai? “ tanya Louis.
“ ehem, putra emas Zacklee “ Jawab pamannya lagi.
“ Zacklee? “ kata Louis semakin tidak menyangka.
Irene yang mendengar nama Zacklee sontak memotong pembicaraan. Ia dengan spontan merampas Telepon yang digunakan untuk membezuk para tahanan.
“ ada apa dengan Zacklee? “ Celetuk irene mengernyitkan keningnya.
“ aku berusaha mencelakai putranya. Karena aku membencinya “ Ujar paman.
“ mengapa? Mengapa kau membenci Zacklee? “ Kata Irene.
“ yaa, karena aku tau apa yang Zacklee lakukan pada keluargamu “ Jawab paman Lay.
“ paman, mengapa kau melakukan cara bodoh ini “ Gerutu Irene kesal.
“ aku pun tidak akan mmasuk penjara jika tidak karena mihaw “ lanjut paman Lay.
Irene terbelalak sekali lagi mendengar nama Mihaw
“ yaa mihaw adalah selingkuhan bibimu dulu. Jadi dia bekerja sama dengan Zacklee. “ ucap paman.
“ lalu lukamu? “ Tanya Irene.
“ ahh, ini hanya luka biasa. Mihaw yang melakukan ini “ ujar paman Lay tertawa kecil.
“ Mihaw, dia sedikit berbahaya “ Gumam Irene sembari mengingat saat dahalu ia tingal di rumah paman dan melihat laki-laki terus datang untuk menemui bibi. Ternyata itu adalah mihaw.
“ Paman, aku mohon kepadamu. Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Kau tak perlu ikut bergabung untuk menyakiti Zacklee dan keluarganya. Biarkan dia berhadapan denganku. Aku bersumpah demi nama ibuku, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri “ Ungkap Irene mengepalkan tangannya.
Setelah sekian lama ia berbincang-bincang, tak terasa waktu bezuk telah habis. Waktunya Louis dan Irene pulang ke rumahnya.
Tapi meskipun telah sampai di rumah, tak ada niat sekalipun yang terbesit di antara Louis dan Irene untuk tidur. Sesekali Irene meneguk beberapa alkohol yang di belinya yang di temani dengan sebatang rokok.
Ia terus menghisap rokok tersebut seraya melihat indahnya bulan di balik jendela. Tak lupa ia terus memikirkan soal Zacklee yang membuat darahnya semakin naik.
“ aku mempunyai rencana yang bagus “ ucap Irene pada Louis.
“ aku punya rencana untuk menghabisi mihaw “ Lanjut Louis.
Irene membalikkan tubuhnya ke arah Louis dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“ tepat sekali, kita tengah memikirkan hal yang sama “ Gumam Irene.
“ Baiklah besok kita akan memulai rencananya “ Kata Louis.
Irene mengagguk pelan, dan meneguk alcohol yang tersedia di mejanya. Ia kemudian tersenyum dengan senyumannya bak seorang psikopat.
“ baiklah apa strategi yang ingin kau lakukan? “ Louis bertanya pada Irene.
“ hmm, kau hanya perlu menyiapkan apa perlu kita siapkan. Sekarang kita tidur terlebih dahulu, dengan begitu kita akan lebih cepat menyelesaikan misi “ Kata Irene misterius.
Louis menghela napas dan beranjak pergi ke kamarnya untuk tidur.
Keesokan harinya, Louis bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sudah terlihat sibuk menyiapkan sesuatu. Louis memegangi senapan dan menguji coba nya pada pohon.
Sedang Irene masih terlihat baru bangun dari tidurnya. Ia menghampiri Louis yang tengah asyik bermain dengan senjata api tersebut.
“ wow, kau terlihat cocok dengan benda ini “ ucap Irene memuji.
“ yaaa, ternyata ini berfungsi dengan baik “ kata Louis.
“ Paman menyimpan banyak senjata api, beruntunglah “ Lanjut si Irene.
Irene menepuk pundak Louis, dan ia hendak beranjak pergi untuk menyiapkan sesuatu yang lain.
“ kerjakan dengan baik, aku akan menyiapkan sesuatu yang lain “ Ujar Irene.
“ kau tidak ingin pergi bekerja? “ tanya Louis.
“ itu tidak penting “ jawab Irene singkat.
***
Hari yang cerah, suasana terasa lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Steve kini tampaknya sudah berpakaian sangat rapi. Dengan setelah hoodie putih dan celana jeans hitam dengan style robekan di bagian lututnya.
Ternyata ia ingin pergi ke bandara, bersama seorang gadis yang sebaya dengannya. Gadis itu juga tampaknya sangat necis dan juga terlihat lebih stylist.
“ aku harap kau baik-baik saja di kanada “ ucap Steve dengan menepuk bahu sahabatnya.
“ iyaa terima kasih. Tunggulah aku, hingga aku bisa menyelesaikan studiku di kanada“ Kata Anna tersenyum tipis.
“ ya baiklah “ Ucap Steve singkat.
Anna memeluk tubuh Steve deengan erat, tapi Steve tak membalas pelukannya.
“ lebih baik kau segera pergi, jangan sampai tertinggal oleh pesawat “ Ujar Steve sembari melepas pelukan hangan dari anna.
Anna mengangguk tanda mengerti, dan ia melangkahkan kakinya untuk berangkat ke kanada.
Langkah demi langkah, Anna meninggalkan Steve hingga jejak batang hidungnya sudah tak lagi nampak. Steve pun akhirnya pergi meninggalkan bandara.
***
Mobil Van terparkir di depan halaman rumahku. Rupanya Louis yang membawa mobil Van tersebut. Segala bahan-bahan telah di persiapkan dan semuanya sudah di masukkan ke dalam mobil Van.
“ Sekarang kita hanya perlu menyiapkan mental “ Ujar Louis pada Irene.
“ tentu saja “ Jawab Louis.
Louis melirik ke arah jam tangannya, masih terlalu pagi. Tapi setidaknya mereka hanya perlu bersiap-siap untuk menyelesaikan misi mereka. Apakah hanya Zacklee yang bisa membuat seseorang menderita? aku pun bisa membuat seseorang lebih menderita.
“ Louis cepat pergi, dan terus buntuti Mihaw jangan sampai kehilangan jejaknya “ Perintahku pada adikku.
Kini aku hanya tinggal duduk manis menunggu datangnya malam dan menanti informasi dari Louis. Ini bukan akhir, tapi ini adalah permulaan ku membalas dendam pada Zacklee.
Aku menekuk kaki kananku di atas kaki kiriku, sembari ku nikmati pembalasan ini bersama secangkir kopi. Sungguh syahdu! Karena sudah lama aku tidak melakukan hal-hal yang jahat.
“ apa, rokok ku semua habis? “ Kesalku saat ku membuka kardus rokok yang tak terlihat satu pun batang rokok yang tersisa.
Tidak nikmat rasanya jika hari-hari ku tak ku nikmati bersama benda kecil bernama rokok. Sangat berbeda bukan aku dengan wanita lainnya?! aku pun akhirnya beranjak pergi untuk membeli rokok sialan.
“ maaf, apa kau merokok? “ tanya sang kasir kepadaku.
“ tidak, ini untuk pamanku “ jawabku mengelak.
“ yaa, tidak mungkin perempuan cantik sepertimu ingin merokok “ Ujar sang kasir itu lagi.
“ jika kau tau, mengapa kau bertanya” ketus irene sembari merotasikan matanya.
Aku mengambil beberapa kardus rokok yang ku beli dan aku pun beranjak untuk pulang. Saat ku membalikkan badanku, rupanya aku telah menabrak seseorang.
“ hai “ Ucap Steve menyapa dengan senyum tipisnya.
“ berengsek sekaali, aku menemuimu lagi “ Kataku mengumpat.
“ yaa dunia itu sempit, senang sekali aku bertemu denganmu “ ucap Steve sok akrab.
“ aku tidak senang “ Celetuk Irene.
“ yaa tidaak masalah. Kau merokok? “ Tanya Steve setelah melihat beberapa kardus rokok berada di genggamanku.
“ ya, aku merokok. Mengapa? “ Jawab Irene dengan nada tinggi.
Mata Steve terbelalak lebar, sedang sang kasir tadi juga sangat terbelalak lebar lebih lebar dari mata Steve.
“ bukankah rokok tidak baik untuk wanita? “ Ucap Steve.
“ aku tidak peduli, lalu? Apakah aku harus membeli sebuah s**u imut berwarna merah jambu dan bergambar beruang sepertimu? “ Ejek Irene setelah melihat s**u stroberi yang di genggam oleh Steve.
Mata Steve meengarah pada s**u yang di pegangnya.
“ tidak, ini untuk adikku “ ucap Steve mengelak.
“ dasar bocah ingusan “ gerutu Irene deengan nada pelan
Tiba-tiba sesuatu menghentikan pembicaraan, ponsel Irene berbunyi. Louis rupanya tengah menelpon Irene untuk memberi informasi. Akhirnya Irene beranjak sesegera mungkin untuk pulang.
“ hei hei, apa maksudmu memanggilku seperti itu? “ Teriak Steve yang hendak mengejar.
“ maaf pak, kau belum membayar s**u imutmu “ Ucap sang kasir menghentikan Steve yang ingin mengejar Irene.
***
“ ya halo bagaimana Louis? “ Tanya ku pada Louis lewat Ponsel.
“ halo, telah berhasil menemukan mihaw. Aaku akan mengikutinya, sampai bertemu nanti malam” Jawab Louis memberi informasi.
Irene menutup panggilan setelah Louis memberikan informasi. Waktunya persiapan untuk melakukan pembalasan.
Menit berganti menjadi jam, Sekarang sudah memasuki pukul 6 malam. Akhirnya langit sudah gelap. Aku terus menunggu informasi dari Louis.
***
Louis terus mengikuti Mihaw, ia berhenti di sebuah tempat. Tempatnya sedikit gelap dan sepi dari kerumunan orang. Mihaw tampak bertemu dengan beberapa orang, dan seseorang memberi sebuah sesuatu dan Mihaw membayarnya dengan uang. Inilah kesempatan emas bagi Louis untuk menjalankan aksinya.
Saat beberapa orang itu pergi meninggalkan Mihaw, Louis berjalan mengendap-endap dan menendang kepala Mihaw dari belakang. Tepat sasaran! Mihaw pingsan di tempat. Tak lupa Louis memberikan Lokasi terkininya untuk di bagikannya kepada Irene.
Louis menyeret Mihaw dan memasukkannya ke dalam mobil Van dan ia membawa Mihaw ke tempat tujuan. Sedang Irene kini tengah pergi ke lokasi tempat Louis menendang Mihaw.
***
Aku berdiri di depan cermin dan mulai menyoroti cermin itu. Awal yang baik untuk mencari peluang membalaskan dendamku pada Zacklee.
Aku memakai Celana jeans hitam, di padu padankan dengan Baju hitam dan memakai Sepatu boot berwarna hitam. Tidak seperti biasanya memang, tapi aku terlihat lebih seperti badgirl berpakaian seperti ini.
Dan dengan langkah cepat aku mulai menuju ke lokasi. Sesampainya di sana, ahh sangat pintar kunci mobil Mihaw di letakkan di sebelah mobil Mihaw itu terparkir. Ku kendarai mobil Mihaw itu untuk ku bawakan ke lokasi penting. Sembari ku hisap sepuntung rokok yang ku beli untuk menemaniku.
Akhirnya dengan laju cepat, aku telah sampai di depan Gudang. Yaa! Gudang kosong. Gudang ini adalah milik Mihaw, aku mengetahui ini semua dari paman Lay. Terparkir di depannya mobil Van yang di kendarai Louis..
Aku masuk ke dalam gudang tersebut, dan Louis tengah mengikat Mihaw di tempat duduk. Mihaw masih belum siuman, aku pun membantu Louis meletakkan beberapa bahan bakar minyak di sudut gudang.
Setelah semua perangkap selesai, aku mulai menialankan misiku bersama Louis. Beberapa menit kemudian, Mihaw terbangun dari pingsannya dengan kondisi tangan yang telah terikat.
“ aku dimana? “ Tanya Mihaw terbata-bata.
Aku memiringkan bibirku ke kanan, dan ku angkat alisku ke atas. Aku dan Louis saling menatap seakan-akan kami tengah berkata “ SAATNYA PEMBALASAN “