Hari sudah malam, Langitpun sudah merubah warnanya menjadi Gelap gulita. Bulan terpampang pada Indahnya Langit dan Bintang bertaburan yang membuat malamku menjadi lebih Indah, Aku terbangun dari tidurku di gelap gulita ini.
Ku lihat pemandangan langit malam dari sisi jendela, sembari menikmati angin sepoi-sepoi di malam hari.
Dan ke sekian kalinya, Air mataku kembali menetes mengingat masa laluku bersama keluargaku.
“ Lihat itu sudah ke-enam kalinya ada pesawat terbang lewat di angkasa “ ujarku pada ayah.
“ ahh kau menghitungnya? Anak ayah sudah pintar.
menghitung rupanya “ jawab ayah memujiku.
“ ayah, Bintangnya berbentuk layang-layang “ kataku lagi
“ wahhh iya giselle benar, Bintangnya cantik sepertimu “ Ujarnya.
“ Giselle memang cantik seperti ibu ayah “ sahut ibu
Sontak lelucon ibu membuatku dan ayah tertawa. Rutinitas malamku bersama ayah adalah, Melihat Bintang di malam hari. Dan hal-hal yang paling ku ingat ketika ayah berkata.
“ ada bintang jatuh, kita harus berdoa “
“ Ayah itu kan hanya mitos “ ucap ibu.
Lantas ayah kembali tertawa bersamaku, yang tersisa hanya kenangan. Kenangan bersama ibu dan ayah. Aku tidak bisa melupakan ayah dan ibu dengan cepat. Karena mereka adalah separuh jiwaku yang selalu melekat di tubuhku.
Dimanapun aku berada aku akan selalu bersama mereka, karena jiwa mereka adalah jiwaku juga.
Bintang jatuh yang seperti ayah katakan mulai terlihat di langit, Aku menghapus air mataku dan mengepalkan tanganku seraya berdoa.
“ tuhan..jika kau berkehendak, jadikanlah aku dan louis anak yang hebat. Dan untuk ibu dan ayah aku akan selalu bersamamu. Aku berjanji aku akan selalu mengorbankan jiwa dan ragaku untukmu. Dan ibu ayah..aku akan membalaskan dendamku pada orang yang menyakiti kalian. Aku berjanji untuk itu “
Air mataku terus saja mengucur dan tak terbendung, hiks hiks hiks aku menyentuh dadaku yang terasa sesak. Mengapa nasibku harus menjadi seperti ini.
Aku menyenderkan kepalaku ke bantal, Air mata terus saja tak kuasa ku bendung, dan akhirnya air mata itu yang mampu menidurkan ku kembali.
***
Suara burung berkicau membangunkanku dari tidurku, Cahaya matahari masuk ke kamar melalui jendela. Perlahan-lahan aku membuka mataku, Rasanya berat karena aku menangis semalaman.
Louis menepuk-nepuk pipiku, Aku semakin terbangun karena ulah Louis. Aku mulai merapikan tempat tidurku dan mandi.
Brak
Bibiku membuka pintu dengan menendangnya. Memang sangat tidak sopan, tapi terserah saja.
“ Lay menyuruh kalian untuk makan “ ucapnya.
Aku dan Louis mengangguk pelan tanda mengerti, kemudian aku dengan cepat pergi ke meja makan.
Bibi menatapku dan Louis secara sinis, yang membuat ku semakin percaya bahwa dia sama sekali sangat membenciku dan Louis.
“ Paman akan pergi bekerja, kalian bersenang-senanglah “
kata paman Lay sembari mencium keningku dan Louis.
Tatapan sinis bibi ku membuatku dan Louis semakin ragu untuk makan. Louis pun sama sekali enggan untuk menyentuh sendoknya dan Louis menatap ke arahku.
Aku mengerti kode dari Louis, Louis mengajakku ke kamar untuk menghindari bibi. Lalu aku benar-benar pergi ke kamar.
“ aku tidak nafsu makan “ gumamku.
“ aku juga “ kata Louis.
Bibi terus saja menatap sinis hingga aku dan Louis sampai ke kamar.
“ payah “ keluhku.
Keroncongan perut Louis terdengar, aku meliriknya. Aku pun juga sangat lapar tapi tetap ku tahan. Hingga akhirnya aku pergi diam-diam melewati jendela kamar.
***
Aku dan Louis berdiri di sebuah Toko besar, perut kami sudah mulai berbunyi. Lalu tidak ada lagi makanan yang bisa kita makan.
Tidak ada seseorang yang merasa simpati kepada kami. Bahkan sepanjang perjalanan orang-orang yang memandangi kami sama sekali tidak bergerak untuk menolong dan memberikan makanan.
Dimana rasa kemanusiaan dari orang-orang? Di kota yang besar ini, Di bumi yang Luas ini tidak ada Kebesaran hati untuk menolong anak seperti kami. Terpaksa.. terpaksa aku untuk melakukan sesuatu demi memenuhi perutku yang Lapar.
“ Louis , sudah waktunya “ ucapku kepada Louis.
Aku memberikan kode lewat wajahku kepada Louis, Louis yang pintar mulai mengenali kode wajah dariku. Ku curi roti yang terpampang di depan Toko itu.
“ Irene, Lari sekarang “ Teriak Louis.
“ Pencuri... pencuri...” Teriak salah seorang pemilik toko
Aku berlari kencang bersama Louis guna menghindar dari pemiliki Toko itu.
“ Louis, Tidak apa-apa? Kau baik? “ ujarku pada Louis.
“ huh huh huh, aku huh baik-baik saja huh “ Jawab Louis sambil menghela napas.
Aku dan Louis berhasil kabur dari Toko, Dan pemilik toko serta orang-orang yang mengejarku tidak bisa menangkapku. Lalu secara tiba-tiba ada beberapa anak yang merampas roti yang kucuri.
“ hei, kembalikan Roti itu “ ucapku marah.
“ apa kau pikir kau bisa merampas ini lagi, uwek uwek tidak bisa uwekk “ jawab anak itu sambil menjulurkan lidahnya.
“ Kembalikan itu “ Ucap Louis sambil merampas lagi
Tapi beberapa anak itu malah menendang dan memukuli Louis.
“ Jangan pernah bertingkah kasar kepada adikku, Jika kalian Lapar cari makanan lain dan jangan merampas milik orang” Ucapku sambil menaikkan nada tinggiku, dan menolong Louis yang terjatuh.
“ apa kau pikir aku tidak tau jika kau merampas roti ini dari toko itu? “ ujar anak itu.
Aku terdiam mendengar jawaban mereka, Karena sejatinya aku juga salah.
“ mengapa kau diam, apa kau berpikir bahwa kami tidak adil kepadamu? Karena aku merampas rotimu dan kau berpikir ini tidak adil, biar ku beritahu. Keadilan di dunia itu memang tidak ada. Hanya orang-orang kalangan atas yang menerima keadilan. Anak-anak seperti kita tidak akan mendapatkannya. Lalu lahirlah orang-orang yang seperti kami yang merampas hak milik orang lain karena tidak mendapatkan hak keadilan. Anak-anak seperti kita jangan pernah minta di perlakukan adil.Camkan itu ” ucap anak itu.
“ tapi mengapa? Tuhan itu adil “ jawabku membentaknya.
“ Tuhan memang adil, Tapi di bumi yang sempit ini Keadilan hanya berlaku bagi orang-orang kalangan atas. Manusia semua mengejar kekuasaan, dan orang-orang yang mendapatkan kekuasaan tertinggi yang akan di perlakukan adil oleh semua orang “ ucap anak itu lagi menegaskanku.
Aku menangis mendengar pernyataan anak itu, aku terdiam. Dan aku mulai merenung memikirkan perkataannya.
***
Aku membawa Louis menuju Rumah. Dengan perut kosong aku kembali pulang.
“ Louis, kau tidak apa apa. Apa yang sakit? Katakan padaku “ ucapku khawatir.
“ aku tidak apa apa irene “ jawab Louis sambil tersenyum.
“ ayah berkata kepadaku untuk selalu menjadi anak yang tangguh “ tambah Louis sambil mengingat- ingat masa lalu bersama ayah.
Air mataku semakin tidak terbendung setelah Louis mengungkit masa Lalu bersama ayah. Anak itu benar, Keadilan hanya berlaku bagi orang-orang yang berkuasa. Contohnya seperti Tn.Zack dan ayah. Tn.Zack lebih berkuasa daripada ayah. Tapi polisi tidak menangkap Tn.Zack dan membenarkan rumor bahwa ayah menghabisi keluarganya sendiri.
“ aku harus bagaimana Louis ? Aku minta maaf. Karena aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Bahkan kita sampai tidak makan dan menjadi gelandangan seperti ini hiks hiks“ aku menangis di hadapan Louis, Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.
“ aku tidak apa apa, Kita harus bisa bertahan. Ibu menyuruh kita pergi dan bertahan dari para orang-orang jahat. Dan ayah menyuruhku untuk menjadi tangguh, Ada paman Lay yang akan selalu menolong kita“ Jawab Louis menenangkanku.
“ Aku benci dunia ini aku benci.. aku benci Zack aku benci.... Bahkan hingga sampai aku mati aku akan membencinya. “ teriakku.
“ irene tenanglah “ Louis mencoba menenangkanku
“ kita harus menerima takdir ini.” ucap Louis.
“ tidak! Kakak akan menerima Takdir jika Tn.Zack mati di tanganku sendiri “ jawabku pada Louis.
“ Aku akan menghabisi Tn.Zack karena dia sudaah membuat kita menjadi seperti ini “ tambahku lagi.
Tanganku mengepal, emosiku semakin tidak mereda.
Rasanya aku ingin cepat-cepat tumbuh dewasa agar Tn.Zack mampu ku habisi. Dan kemudian ada saatnya aku merasa lega setelah membalas dendam karena kematian ayah, ibu, dan Alana.
Lalu aku akan hidup damai dan bahagia bersama Louis adikku.
Setelah kondisiku menjadi terpuruk, tidak ada keadilan dan kondisi tidak sama sekali memihak kepadaku.
Bahkan ketika aku melihat anak anak sebayaku yang bisa dimanja dan bahagia bersama orang tuanya, hatiku turut menjerit melihatnya. Aku iri sekaligus cemburu melihat anak lain yang memliki nasib lebih beruntung daripada diriku sendiri.
Namun aku bersyukur karena Louis bisa menguatkanku, Meskipun umurnya lebih muda dan Louis adalah adikku, Tapi Louis mampu bersikap dewasa dan bisa menjagaku.
Ayah dan ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu menjadi anak yang kuat dan tangguh. Itu yang sedang kuperjuangkan sekarang.
Ayah...ibu...aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi kuat dan aku akan berusaha untuk menghabisi Orang yang telah menghabisi ayah dan ibu.
“ Aku akan mencari makanan, kau tunggu sebentar disini “ Ucapku kepada Louis.
“ Tidak, aku sudah tidak lapar. Kau diam saja disini Irene “ Ujar Louis sambil menarik Tanganku.
“ Irene, berjanjilah bahwa kita akan bertahan apapun yang terjadi. Aku menyayangi ibu, Ibu menyuruh kita untuk tetap bertahan bahkan saat Tn.zack ingin menghabisi kita, Ibu menyuruh kita untuk pergi “ Kata Louis kepadaku dengan mata berkaca-kaca.
“ Setelah kejadian tragis yang menimpa keluarga kita, Aku menjadi tidak ingin menjadi orang seperti Ayah. Aku ingin menjadi sukses dengan caraku sendiri “ tambah Louis sekali Lagi.
“ Aku akan selalu menjadi kakakmu, aku akan selalu bersamamu. Jangan khawatir” ucapku sambil memeluk Louis.
“ apa cita-citamu Louis? “ Tanyaku kepada Louis.
“ Aku ingin menjadi orang yang Lihai dalam bergulat, Seperti Karate atau wushu atau tinju “ jawabnya.
“ Lalu apa cita-citamu Irene “ Tanya nya kepadaku.
“ Tidak harapan lagi, Aku ingin menghabisi orang yang menyakiti keluargaku dengan tanganku sendiri “ jawabku pada Louis.
“ Kalau begitu kita harus bekerja sama untuk menghabisi orang yang telah menindas keluarga kita “ ucap Louis.
“ setuju “
Aku dan Louis saling bergenggaman tangan. Bersama-sama untuk maju, dan melawan orang-orang yang menindas keluarga kita. Kelak...kelak akan ada saatnya dimana dunia kembali berputar. Tidak ada Lagi Zack yang menghabisi keluargaku. Tapi aku yang akan menghabisi keluarga Zack sendiri.
Dan kelak Zack akan berada di bawah kekuasaanku. Lalu dunia akan kembali setara, Dimana bukan hanya Orang-orang besar yang menerima keadilan namun ada saatnya dunia kembali menyamaratakan keadilan hingga ke seluruh orang-orang kecil sekalipun.