Seperti biasa, Aku menjalani rutinitasku di kamar. Hanya dengan duduk termenung. Hari sudah mulai petang, Niatku memang aku tak ingin keluar kamar, karena paman Lay bekerja di luar kota. Biasanya..aku selalu berbagi cerita dengan paman Lay.
Tiba-tiba sesuatu mengagetkanku, mobil sedan putih menghampiri rumah bibi. Tampak seorang laki-laki datang ke rumah, Laki-laki itu sangat dekat dengan bibiku. Yaa sepertinya hanya orang asing, Tapi siapa dia?
Rasa penasaranku semakin menyelimutiku, Aku dan Louis mengintip lewat jendela. Betapa terkejutnya aku ketika lelaki itu mencium bibir kening dan bibir bibiku. Siapa dia? Mengapa bertingkah seperti itu?
Aku semakin dibuat penasaran dengan tingkah bibiku, apa bibiku mengkhianati paman Lay? Lalu ku intip mereka lewat lubang kunci pintu. Laki-laki itu terus saja mencium bibiku.
“ apa kita harus memulainya sekarang? “ ucap Lelaki itu
Aku dan Louis saling menatap, bertanya-tanya apa maksud dari semua ini.
Louis terus mengintip lewat lubang kunci pintu bergiliran denganku. Bibiku membawa lelaki itu ke kamarnya. Mereka melakukan sesuatu yang biasa di lakukan suami-istri.
“ aku tidak bisa membiarkan ini Louis “ ucapku pada Louis
Louis menarik tanganku, dan menggeleng kepadaku tandanya untuk mencegahku melakukan hal yang tidak-tidak.
Beberapa jam kemudian, Lelaki itu meninggalkan rumah bibi. Dan bibi keluar dari kamarnya.
Aku mulai membuka obrolan dengan bibiku,
“ apa kau berusaha mengkhianati paman? “ ujarku.
“ ya sepertinya “ ucapnya padaku santai.
Aku ternganga mendengar jawabannya,
“ apa yang harus ku harapkan dari pamanmu? Dia jarang menghabiskan waktu bersamaku haha “ tambahnya lagi seolah-olah tidak bersalah.
“ jadi kau menjadi perempuan murahan dan tidak punya rasa malu seperti ini? “ kataku menyindir.
Bibiku menarik rambutku, dan mengatakan
“ apa ayahmu yang malang tidak pernah mengajarkan cara bersikap sopan? “ tambahnya dengan nada tinggi.
“ jangan membawa-bawa ayah “ Sentakku.
Bibi ternganga mendengar sentakanku, Hingga aku bisa memancing emosinya dan dia mulai melakukan aksi terhadapku. Menampar dan memukuli
Kemudian dia menghempasku, hingga aku terjatuh ke lantai. Louis spontan menolongku dan membawaku ke kamar.
“ apa kau bodoh? Mengapa kau melakukan ini? “ kata Leon memarahiku.
“ aku hanya mencoba membela paman “ ucapku.
“ tapi jangan bertingkah konyol seperti ini “ ujar Leon lagi.
***
Ke esokan harinya, Paman Lay kembali pulang. Aku dan Louis sangat antusias menunggunya datang. Sebulan ini, aku jarang sekali mengobrol banyak dengan paman. Biasanya Paman bercerita soal masa kecil paman, dan paman mengajari Louis ilmu bela diri. Namun paman akhir- akhir ini sibuk mengurus proyek besarnya.
aku masih tetap saja berada di kamar dan mengintipnya lewat pintu. Terlihat paman masuk ke rumah dan aku keluar kamar.
“ bagaimana kabarmu? “ tanya paman.
“ kami baik-baik saja paman “ jawab Louis.
Aku masih saja menatap paman, Karena aku merasa simpati kepada paman. Tingkah laku bibiku sangat keterlaluan, mengingat sikap paman yang lebih dari orang baik tetapi berbanding dengan sikap bibiku yang lebih dari orang jahat.
“ emm paman..” rintihku pada paman.
“ jika paman ada waktu, aku ingin membicarakan sesuatu padamu” lanjutku.
“ kita bisa bicara malam ini “ ucapnya dan Aku pun mengangguk menyetujui paman.
***
Paman menungguku di tempat biasanya kita berbagi cerita, aku mulai duduk di samping paman.
“ paman, apa kau sangat yakin dengan bibiku? “ ucapku.
“ aku hanya tidak ingin melihat paman terpuruk “ lanjutku.
“ ya tentu saja “ kata paman sedikit gugup.
“ mengapa kau berbicara seperti itu? “ tanya nya.
“ ya aku hanya ingin memastikan paman untuk selalu bahagia “ ucapku.
“ Aku percaya pada bibimu “ kata paman kepadaku sambil tersenyum.
Sudah ku duga, Paman rupanya tidak tau soal perilaku bibi di belakangnya. Paman mungkin sangat mencintai bibi. Hingga mempunyai perasaan yang sangat dalam kepada bibi.
Aku masuk kembali ke dalam kamarku, Leon terus saja membaca buku ilmu bela diri yang diberikan paman.
Aku merebahkan kepalaku ke bantal, dan terus kepikiran soal paman dan bibiku. Sulit untuk memejamkan mata. Sebenarnya saat mengingat kejadian traumatis yang ku alami dulu, aku sangat benci untuk peduli dengan manusia. Karena semua orang juga sama sekali tidak mengertiku dan peduli kepadaku. Namun saat aku dekat dengan paman, rasanya sifatku kembali seperti dulu. Menjadi anak yang peduli kepada orang lain.
***
Sinar matahari kembali masuk jendela dan membangunkanku, burung menyanyi-nyanyi dengan kicauannya. Dan Dedaunan melambai-lambai kepada angin.
Paman mengendarai mobilnya pagi-pagi sekali. Pasti ia tengah pergi untuk bekerja, aku melihatnya lewat jendela.
Dan dengan tiba-tiba seseorang menendang pintu dengan keras. Aku terkejut akibat hal itu.
Ternyata itu bibiku, sepertinya bibi sedang marah dan dia menatap ke arahku.
Dia berjalan ke arahku dan mendorong aku ke dinding.
“ apa kau pikir kau mampu membuat pamanmu percaya dengan perkataanmu? “ ucap bibi dengan kasar.
“ apa maksudmu bi? “ gumamku ketakutan.
Bibi langsung memukulku dengan sapu lantai, dan terus memukulku bertubi-tubi. Louis menepis sapu lantai yang di pegang bibi.
“ jangan mencegah ku, dasar anak b******k “ Teriak bibi kepada Louis.
Bibi terus saja memukuliku, dan menjambak rambutku. Yang tersisa hanyalah luka memar ungu yang berbekas. Louis semakin tidak tahan terhadap perlakuan bibi. Ia kembali menepis sapu lantai yang di jadikan senjata untuk memukulku. Namun bibi semakin marah dan justru malah memukul kepala Louis hingga Louis tak sadarkan diri.
“ LOUIS...” teriakku.
Bibi melarikan diri tanpa peduli dengan keadaan Louis, Aku langsung membaringkan Louis ke atas kasur dan mulai menyadarkannya. Tapi Louis tak kunjung bangun. Hingga air mataku kembali jatuh karena tak kuasa melihat Louis.
Beberapa saat kemudian, Louis membuka matanya dan dia menatapku.
“ apa kau baik-baik saja? “ rintihnya pelan.
“ jangan khawatir tentangku, bagaimana denganmu? “ ucapku.
“ jangan khawatir, aku tidak apa-apa “ katanya terbata-bata.
“ maafkan aku, karena ku, kau menjadi seperti ini hiks “ ujarku menangis.
“ aku sudah bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya menolongmu yang disiksa oleh bibi.” katanya seraya menghapus air mataku.
“ aku akan menerima semuanya, ini adalah proses. Jika takdir membuat kita menjadi terpuruk seperti ini, aku akan menerimanya.” lanjut Louis.
“ jika bukan karena Zack, kita tidak akan menjadi seperti ini. Aku janji, aku akan menuntaskan semuanya” kataku
Louis mengiyakan perkataanku, aku terus saja menatap Louis adikku. Terus saja diriku di penuhi rasa bersalah. Karena sikapku Louis jadi seperti ini. Terkadang jika aku merasa terpuruk seperti ini, aku semakin merindukan orang tuaku.
Clek
“ apa, apa kalian tidak apa-apa? ” ucap seseorang membuka pintu.