Sudah menjadi kebiasaan Gama untuk menunggunya di depan gerbang. Ia tidak lagi harus mengintip Gama dari balik tembok karena kini ia sudah bisa melihat Gama tepat di depan matanya langsung. dengan senyum manisnya, Gama memberikan Ara sebuah helm baru berwarna biru. Gama benar-benar membeli helm untuk dipakai Ara. “Selamat pagi, Ara,” sapa Gama. “Pagi,” jawab Ara seadanya. “Kenapa cemberut gitu? Lagi datang bulan, ya?” Ara menatap Gama, lalu melihat senyum tulus itu. Rasanya ia agak ragu, apakah itu memang benar-benar tulus atau hanya sebuah senyum singkat tanpa arti. “Iya,” bohong Ara. Padahal, ia tidak sedang datang bulan. Ia hanya sedang malas menanggapi cowok itu. rasanya seperti ditampar setelah menonton video dari Caca. Namun ia tidak boleh gegabah karena ia harus membuktikannya

