5.Masih memandangi

1063 Words
Alika dan yaya keluar dari pondok menuju kerumah bibinya setelah selesai bersih-bersih di pondok dan dirumah yang punya pondok. mereka keluar beriringan karna tidak ada kegiatan apapun hari ini, merekapun bosan hanya diam saja, jadi mereka memutuskan untuk kerumah bibinya yaya sekarang. Mereka berjalan melewati samping warung. dari kejauhan ada seorang lakilaki yang memperhatikan punggung mereka yang berlalu. "Itu si yaya bukan sihh ??" tanya zidni. ya, mereka adalah zidni dan rizal yang melihat alika dan yaya pergi bersama. "Iya kayaknya" jawab rizal, mengikuti arah pandang zidni. tapi matanya terus memperhatikan orang yang bersama dengan yaya yaitu, alika. "Sama siapa si yaya ??, mau kemana mereka..??" lontar zidni. ekor matanya melirik ke arah rizal yang sedang memperhatikan seseorang yang bersama yaya. "Entah." jawab rizal menaikan bahunya acuh. padahal dalam hatinya penasaran. Zidni tersenyum miring melihatnya, rupanya temanya itu mulai mempunyai rasa terhadap seseorang itu. pikirnya dalam hati. waktu alika melewati warung waktu itu, zidni juga melihat bahwa rizal memperhatikannya sampai tidak terlihat lagi. Zidni dan rizal sedang berjalan kewarung untuk nongkrong, melihat yaya dan alika yang pergi bersama. Ketahuilah bahwa zidni dan rizal orang baru di pondok, rizal adalah saudaranya yaya dan zidni teman nya rizal. mereka bertiga berangkat bersama, jadi begitulah. Selama dalam perjalanan alika dan yaya mengobrol santai sembari sesekali bercanda dan tertawa ngakak bila ada hal yang lucu menurut mereka. Merekapun sampai di rumah wanda. yaya segera mengucapkan salam, memanggil bibinya dan wanda. alika juga ikut mengucapkan salam. "Assalamualaikum..??, Bii..??, wanda..??" panggil yaya sedikit berteriak diluar rumah bibinya. "Walaikumsallam." jawab yang punya rumah, dan segera membukakan pintunya. "Eh, yaya kirain teh siapa." ucap ibunya wanda sambil tersenyum ramah melihat yaya dan alika. "Apa kabar bi, sehat..??" tanya yaya sembari menyalami tangan bibinya, alika pun turut ikut menyalaminya. "Baik. alhamdulillah bibi sehat." jawab bibinya. "Keluarga disana gimana, sehatkan..??" tanya bibinya lagi. "Alhamdulillah sehat bii." jawab yaya. "Yaudah ayok masuk,, alika yukk masuk." ajaknya pada yaya dan alika menatap mereka bergantian, tersenyum ramah. "Iya bii." jawab alika tersenyum sembari mengangguk. yah, karna yaya sering mengajak alika kesana, jadi mereka sudah kenal satu sama lain, sudah akrab malah. Merekapun masuk kedalam, duduk di sofa yang ada disana. "Wanda, ada teh yaya nihh.." panggil ibunya sedikit berteriak kepada wanda, yang berada di kamar. wanda pun keluar dari kamarnya, tersenyum semringah kala matanya melihat yaya dan alika ada disana. "Eh, ada teh yaya. udah berangkat teh..??" lontar wanda setelah melihat yaya. merekapun bersalaman dan berpelukan sebentar, alika pun sama. "Alika juga..??" ujarnya wanda pada alika. "Aku baru kemarin berangkat kesini nyaa." jawab alika sembari tersenyum. "Kalo teh yaya, kapan kesininya..??" tanya wanda beralih pada yaya. "Udah 4harian sihh disininya.." cengengesnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karna merasa bersalah. "Kenapa gak kesini.!!?? padahal udah lama berangkatnya..??" tanya wanda kesal, memanyunkan bibirnya. Wanda ini anaknya manja dan mudah tersinggung orangnya. anak pertama dari 2 bersaudara. jadi dia sering merasa kesal, mungkin karna anak pertama. "Abisnya males kalo jalan sendiri. kamu juga gak kesana-sana, kenapa..??" elaknya, dan mengganti topik pertanyaan. "Yaa.. kan gak tau, kalau tau teh yaya udah berangkat mah, aku juga pasti kesana.!" jawab wanda cepat. "Iya deh iyaa.." ucap yaya mengalah. daripada berdebat hal yang kecil seperti ini bisa berabe kalau udah debat sama wanda. bisa-bisa jadi panjang urusannya. "Udah-udah jangan saling nyalahin." ujar ibu wanda memperingati mereka. Alika sendiri hanya geleng-geleng kepala, mendengar mereka berdebat. tersenyum maklum melihat tingkah mereka karna bukan hanya sekali dua kali mereka berdebat tetapi sudah sering, dan cepat berbaikan lagi, tidak lama-lama. Mereka pun kembali ke pondok bersama dengan wanda. wanda tidak membawa baju karna dia sering pulang di siang hari. hanya ketika mengaji dan malam hari saja dia di pondok. selain itu semuanya dia lakukan dirumahnya. ***** Dilain tempat, seorang cowok sedang duduk bersantai di anak tangga di samping pondok lakilaki. dia melihat yaya dan wanda bersama sahabatnya berjalan beriringan kembali ke pondok di sebrang sana yang terlihat dari tempatnya yang sedang dia duduki itu. Mereka terlihat sedang bercanda, seseorang itu terus melihatnya sampai menghilang dan tersenyum tipis. "Apa aku mulai menyukainya..??" tanyanya dalam hati, terkekeh pelan menyadarinya dan menggelengkan kepalanya pelan. ***** Dua hari berlalu.. Sekarang semua kegiatan sudah normal seperti biasanya mengaji alkitab pagi, sore dan malam. karna sudah banyak yang berangkat ke pondok jadi kang ali sudah bisa mengajar sekarang. "Teh, kata ibu Hamdan dua hari lagi mau pulang." ujar wanda pada yaya, alika berada di sebelah yaya dan mereka sedang bersiap-siap untuk mengaji alkitab pagi. alika sudah tau siapa hamdan karna sering bertemu waktu berkunjung kerumah wanda. "Mmm.." yaya bergumam dan mengangguk, lanjut bertanya. "Terus..??" tanya yaya. alika hanya saja diam mendengarkan. "Kata ibu dia juga mau ikut mondok disini." jawab wanda. karna adiknya wanda sedang libur lama dari sekolahnya, jadi hamdan ingin ikut mondok selama liburannya. "Aku udah cerita sama ibu kalo rizal juga ada disini." karna yaya pernah cerita pada wanda kalau rizal juga ikut kesini. "Jadi ibu mau minta tolong sama rizal katanya. buat ngajakin hamdan kesini biar gak sendirian kesininya." ujar wanda lagi. yah, wanda dan ibunya tau siapa rizal karna rizal saudaranya yaya. Wanda kepada ibunya itu sudah seperti sahabat dekatnya, dia selalu menceritakan apapun kepada ibunya termasuk tentang siapa yang disukainya dan siapa pacarnya, begitulah wanda. "Oke.! nanti aku bilangin sama rizal." jawab yaya. alika yang tidak tau siapa rizal pun bertanya kepada yaya karena penasaran. "Siapa rizal yaa,??" tanya alika, karena yaya tidak pernah bercerita tentang rizal kepadanya. "Oh.. rizal sodara aku. baru kesini kemarin berangkatnya bareng sama aku, jadi kamu mungkin gak tau." jawab yaya. "Ookhh.." alika mengangguk mengerti. ***** Yaya mengajak alika dan wanda untuk keluar sebentar. bukan mengajak tetapi memaksa mereka berdua, merekapun terpaksa mengikuti yaya keluar. alika dan wanda duduk di bangku yang ada disana sementara yaya berjalan mendekat ke arah halaman dimana tempat laki-laki mengaji, berdiri di sebelah tembok. "Zid, zidni..!" panggil yaya sedikit berbisik ketika melihat zidni. yaya mengkode zidni untuk mendekat dengan tangan nya. zidni pun mendekat. "Apa ??" tanya zidni setelah mendekat. "Rizal mana ??" tanya yaya langsung. "Masih dibawah." jawab zidni. "Kenapa emangnya ??" tanya zidni heran. "Nanti suruh tungguin aku yah, di persimpangan deket warung. abis selesai ngaji." ujar yaya. "Oke!" zidni mengangguk. "Eh, gue boleh ikut enggak nihh ??" tanya zidni pada yaya. "Terserah kamu mau ikut apa enggak." jawab yaya. "Yaudah aku masuk dulu. bye!" ucap wanda sambil berlali. zidni hanya bergumam dan mengangguk. **** Kuharap kalian suka dengan ceritaku yang membosankan ini guy'ss..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD