Perlahan Azqila mulai membuka matanya dia menatap ke seluruh ruangan, ini adalah kamarnya, kamar yang sudah di hias sedemikian rupa dengan berbagai macam bunga menghias di dinding kamar, "kamu sudah sadar nak?" pertanyaan pertama yang lolos dari mulut sang ibu yang selama ini paling menyayanginya dalam keadaan apapun, Azqila masih menatap kosong mengingat apa yang sedang terjadi Dengan dirinya dan kenapa dia bisa berakhir dengan berbaring di atas ranjang pengantinnya, setelah ingatan nya kembali sontak membuat matanya langsung berair dan tak dapat di bendung lagi bak tanggul jebol yang menganak sungai seakan tak mau berhenti, "kamu yang sabar ya nak, ini semua hanya ujian kecil agar kamu bisa bersikap lebih sabar dan lebih dewasa di kemudian hari" Bu Indri mengelus sayang rambut Azqila yang masih berantakan akibat jambakan tangan Renata, "Bu memang aku salah apa? sampai harus di permalukan seperti ini" ahirnya setelah sekian lama hanya bisa mengeluarkan air mata kini Azqila mulai membuka suaranya, "namanya ujian itu ga liat kita salah dan benar sayang, tapi memang itu semua untuk menjadikan kita lebih kuat di kemudian hari, sudah jangan terlalu di pikirkan, sekarang kamu istirahat aja ya, ibu mau membantu yang lainnya untuk membereskan rumah," Azqila mengangguk saja tanpa mau repot-repot untuk menjawab.
Setelah kejadian tadi acara hajatan pun langsung di hentikan saat itu juga dan para tamu undangan sudah pulang semua kini tinggal para tetangga dan keluarga saja yang ada di rumah Azqila untuk membantu membereskan tenda dan juga makanan yang masih banyak belum tersentuh karena acara yang bubar sebelum waktunya, tidak ketinggalan juga pasukan nyinyir berdaster yang siap menyemburkan bisa nya, Bu Indri dan pak Revan harus mulai menebalkan pendengaran mereka agar hati mereka tetap terjaga dari segala gunjingan orang orang sekitar biar bagaimanapun bagi orang orang yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya mencap Putri mereka dengan titel sebagai pelakor karena berani menikah dengan suami orang.
"Azqila sudah sadar Bu?" tanya pak Revan sambil membereskan kursi kursi tamu undangan yang sebentar lagi akan di angkut oleh pemilik tenda, "sudah pak, sekarang lagi di temenin sama Aulia dan Sindy hanya dia masih syok dan terus menangis," jawab Bu Indri sendu, "biarkan saja dulu Bu, biar dia menenangkan diri dulu biar bagaimanapun dia pasti syok setelah di tipu mentah mentah apa lagi sampai di permalukan di depan orang banyak, kita sebagai orang tua hanya bisa mensupport nya saja, bapak juga merasa menyesal karena tidak menyelidiki latar belakang si penipu itu, bapak juga terlalu naif menganggap semua orang itu baik"
"wah ga nyangka ya diam diam ternyata dia pelakor juga, mana istrinya sampai ngamuk ngamuk lagi, memalukan, kalau saya sih mending pindah planet aja dari pada malu..." satu..... mulut julid tetangga terdengar seperti nyanyian kaset rusak di depan pak Revan dan Bu Indri, apalagi orang orang itu adalah orang yang sangat iri terhadap kecantikan Azqila, bisa di bilang Azqila adalah yang tercantik di banding anak anak gadis mereka yang tinggal di komplek sederhana ini, puas rasanya melihat orang yang mereka benci hancur sampai sedemikian rupa, pak Revan dan Bu Indri hanya menghela nafas panjang untuk meredakan amarah yang harus mereka pendam, biar bagaimanapun mereka adalah seorang guru yang harus menjaga etika.
"makanya tau diri dong.... udah miskin lagu laguan pengen nikah sama orang kaya, eh ga tau nya udah punya istri" dua.... sabar jangan terpancing
"ya itulah ibu ibu kalau pungguk merindukan rembulan, mustahal ye kan hahahaaaaaa" tiga.... belum puas kayanya
"iya sih, si itik buruk rupa berharap berubah jadi angsa putih dengan jalan pintas nikung laki orang" empat.... silahkan kalian nikmatin kesakitan kami
"pantas saja mukanya glowing gitu, ga taunya perawatan boleh ngeretin laki orang ih menjijikan ...." lima... fitnahan yang sangat kejam
"apakah ibu ibu sudah selesai ceramahnya? jika sudah saya do'akan semoga anak anak gadis ibu ibu semua tidak mengalami seperti yang Azqila alami ya Bu," Bu Indri mencoba menjawab tenang, menghadapai tetangga dengan mulut toxic itu tak mudah, " ya tentu saja,, anak kami ga mungkin lah jadi pelakor murahan kaya anak ibu, anak anak kami itu terpelajar tidak mungkin mau jadi pelakor" jawab salah satu ibu yang mengenakan daster biru, setelah puas mereka lalu meninggalkan rumah pak Revan dengan sambil terus bergibah mengenai Azqila.
pak Revan hanya bisa geleng geleng kepala saja menyaksikan para tetangga toxic nya yang memang selama ini sangat terlihat tidak menyukai keluarga mereka yang entah apa alasannya.
"sudah Bu jangan dipikirkan, biarkan saja mereka berbahagia dengan kesakitan kita, yang harus ibu ingat bahwa setiap rasa sakit yang kita alami adalah untuk mengugurkan dosa dosa kita kalau kita ikhlas" Bu Indri hanya mengangguk saja tanda mengerti, sejujurnya kalau mengikuti kata hati pengennya dia juga bisa membalas nyinyiran mereka tapi pak Revan selalu berhasil meredakan emosinya dengan kata kata lembutnya.
Sedangkan di kamar pengantin Azqila tengah duduk di sisi ranjang pengantin yang seharusnya jadi kamar mereka berdua, Aulia dan juga Cindy sahabat Azqila semenjak masa putih biru masih setia menemani dan berusaha menghibur Azqila Agara tetap waras.
"yang sabar ya Az gue yakin Allah pasti punya rencana yang terbaik buat Lo" Aulia mengelus lengan Azqila yang masih setia menatap dinding kosong, "iya Az jangan hanya karena satu pecundang menghancurkan hidup Lo yang indah ini, mati satu tumbuh seribu" kelakar Cindy mencoba mencairkan suasana, Azqila tertawa miris mendengar kata kata para sahabatnya, " ya udah sih bantuin gue buka pernak pernik kembang goyang nih, kepala gue makin puyeng dengan bobot konde kembang goyang di tambah lagi beban perasaan, makin berat kepala gue" Azqila sudah berani mengeluarkan kata katanya dan juga mulai mengembalikan kewarasannya, "tidak ada gunanya juga menangisi s**u yang sudah basi, eh tumpah maksudnya hehe", " iya Az hidup Lo itu terlalu berharga hanya untuk nangisin satu cecunguk itu, Lo itu cantik banyak yang antri di sepanjang jalan tol untuk menjadikan Lo Ratu di hati mereka" cengir Aulia yang masih sibuk melepaskan segala atribut yang menempel di kepala Azqila, "udah sih sedih sedih nya mending besok kita mantai aja gimana? sambil nyari yang ototnya keker keker kaya yang sering kita baca di novel novel kali aja dapet satu terus kita karungin kita bawa pulang deh" candaan Cindy membuat mereka bertiga tertawa terbahak bahak, Azqila bahkan lupa dengan rasa sakit yang baru saja dia alami, "Az ini luka cakar nya di olesin salep dulu, takutnya tu nenek lampir punya penyakit rabies" Aulia menyerahkan salep untuk mengobati beberapa luka cakar akibat dari serangan singa betina tadi di atas pelaminan, "gue ga nyangka hidup gue bakal semenyedihkan ini, di khianati sama orang yang paling gue sayang, dan sekarang di tipu kucing garong" Azqila tersenyum miris, "ah elah udah sih lupain aja tuh buaya buntung"
ceklek..... pintu kamar Azqila terbuka dari luar, " gimana keadaan kamu sayang udah merasa baikan?" tanya Bu Indri , "iya Bu Qila ga papa" dengan senyuman manisnya Azqila mencoba terlihat baik baik saja biar bagaimanapun bukan hanya dia yang terpukul dengan kejadian hari ini, kedua orang tuanya pun pasti tak kalah malu dengan apa yang sudah terjadi, "nak Cindy, nak Aulia ayo kita makan dulu udah siang pasti kalian semua lapar kan?" "ahsiyappp Bu kalau urusan makan mah kita ga nolak soalnya ini perut udah dangdutan dari tadi hehe" memang di antara mereka bertiga Aulia lah yang paling bersemangat kalau untuk urusan perut tapi untungnya dia bukan tipe orang yang mudah gemuk jadi body nya tetep semok semok manjah...