"Siang ini Aulia dan juga Cindy mengajak Azqila pergi ke pantai untuk menghibur janda Anget ini agar tidak oleng kalau menurut Aulia, Azqila memang butuh tempat yang bisa menenangkan apa lagi masih banyak suara suara sumbang terdengar di sekitar rumahnya, yang bikin kuping berdenging bak di serang jutaan lebah, Tiga puluh menit perjalanan ahirnya mereka bertiga sampai di pantai yang di sangat indah mereka memilih duduk di bebatuan karang yang terletak di pinggir pantai sambil menikmati hembusan angin yang menerpa
"ini neng kelapa mudanya" Abang pedagang kelapa muda itu memberikan tiga buah kelapa muda pesanan Aulia "terimakasih ya bang"
"sama sama neng, selamat menikmati"
"eh ada pelakor disini, mau mengintai mangsa baru ya?" tiba tiba saja ada suara gaib muncul seperti jelangkung datang tak di undang pulang gak di antar
"eh ada mbak mbak tetangga yang gak laku walaupun sudah buka baju tapi tidak ada yang mau" sarkas Aulia, pantang baginya untuk ngalah sama makhluk jadi jadian kaya si Sinta cs ini, Sinta yang di sindir begitu langsung melotot horor
"eh siapa bilang gue enggak laku hah, Lo tu yang enggak laku laku" teriak Sinta sambil berkacak pinggang
"udah Aulia jangan ngeladenin orang yang iri dengki entar habis pahala Lo buat nambal dosa dia" Azqila yang udah gerah sama tetangga nyinyirnya ini langsung saja nimpalin
"eh denger ya pelakor kampungan siapa bilang gue iri sama pelakor murahan kaya Lo,, sorry ya enggak level" jawab Sinta sambil mengibaskan rambut ikal nya, selama ini memang Sinta sangat benci dengan Azqila, bagai mana tidak benci,, pada masa abu abu mereka semua laki laki yang dia sukai setelah melihat Azqila langsung balik kanan dan ribut mengejar Azqila dan yang paling bikin makin benci semuanya bilang kalau Azqila adalah wanita paling cantik di kampungnya dia juga selalu berprestasi di sekolah membuat Sinta semakin muak dan iri, jadi saat melihat Azqila di nyatakan sebagai pelakor karena mau menikah dengan suami orang membuat angin segar buat Sinta yang bisa puas mengejek Azqila
"oh tentu saja kita beda level Sinta, kalau Lo doyan godain om om perut buncit dan jadi bayi gula nya mereka sedang yang deketin kita pria pria tamvan fersi abad ini, tolong garis bawahi kita di deketin bukan kita yang deketin paham Lo,,, dan.....,!! kita itu buka sugar baby" sarkas Aulia sambil menyunggingkan senyum iblisnya
" Lo,,,,,,-" Sinta kehabisan kata katanya karena mau bagaimana pun apa yang ucapkan Aulia benar adanya
"Lo tunggu aja pembalasan gue, sialan... dari mana dia tahu gue suka jalan sama om om dan jadi sugar baby nya..." Sinta langsung saja pergi meninggalkan mereka bertiga dengan hati dongkol, akhirnya setelah kepergian sang pengganggu mereka bisa menikmati indahnya suasana pantai yang menenangkan.
Dua Minggu kemudian....
hari ini Azqila sudah mulai bisa menata diri, mulai bisa keluar rumah walaupun masih harus tutup telinga dari gunjingan yang tak pernah berhenti mengatai dirinya pelakor dan juga mereka semua seolah kompak untuk mengucilkannya, Azqila tak mau ambil pusing toh dia juga disini sebagai korban, kalau tau Sony sudah beristri mana mungkin Azqila mau menerima pinangannya begitu saja, kini dia sedang menunggu sahabat nya yang akan mengantarkan ke tempat saudaranya untuk mengajar les matematika, kemarin Aulia sahabat sejak masa putih biru menawarkan nya untuk menjadi guru les matematika anak saudaranya tentu saja Azqila tidak menolak, karena setelah kejadian dua Minggu lalu tidak ada satu sekolahpun di daerah sini yang mau menerima nya jadi tenaga pengajar, dari pada menganggur lebih baik terima saja ajakan sahabatnya itu.
tak berselang lama suara motor terdengar memasuki halaman rumahnya
"assalamualaikum" ucap Aulia sambil mengetuk pintu
"waalaikumussalam, masuk Lia, kita sarapan dulu" jawab Azqila dari dalam rumah
" ah Lo tau aja kalau gue belum sarapan hehehee" Azqila pun hanya tersenyum saja mengahadapi sahabatnya ini dia terlalu hafal dengan kelakuan Aulia, setelah selesai sarapan mereka berdua bersiap siap untuk berangkat, Azqila mengenakan celana jeans di padukan dengan tunik berwana biru muda dan tas punggung miliknya, rambut panjangnya dia kuncir kuda.
"Lo kalau pakai baju kaya gini kaya anak yang mau masuk kuliah tau ga," goda Aulia
"cekk apaan sih Lo, udah yu ah entar terlambat" Azqila malas menanggapi godaan Aulia, Aulia tau kalau Azqila masih dalam keadaan sedih makanya dia berusaha menghibur dan tak mau mengungkit masalah yang telah di alami Azqila.
Sampai di sebuah rumah dua lantai milik saudara Aulia kini mereka berdua tengah duduk di ruang tamu dan berkenalan dengan sang pemilik rumah
" ka kenalin ini Azqila temen aku yang akan mengajar Mita matematika" Azqila menjabat tangan Mahira ibu dari Mita calon muridnya "owh iya kenalin saya Mahira mamanya Mita, ternyata kamu cantik banget ya" kata Mahira sambil berkenalan, Azqila hanya tersenyum saja, "iya kata orang aku cantik tapi sayang aku terlalu naif sampai sampai harus kena tipu laki laki brengsekkk itu" batin Azqila, hatinya masih berdenyut ngilu jika mengingat kejadian hari itu, di saat rasa sakit itu muncul nasehat ibunya akan kembali terngiang di telinganya "kebahagiaan dan kesedihan itu hanya sebuah permainan perasaan saja, itu semua kita sendiri yang akan menentukannya, jika ingin bahagia maka perbanyaklah bersyukur dengan apa yang kita miliki, jangan menangisi sesuatu yang bukan untuk kita, bukankah setelah hujan akan ada pelangi, bukankah setelah gunung meletus akan menjadikan tanah semakin subur, jadi jangan lihat kesakitan nya tapi lihat apa yang akan terjadi setelah nya, pegang dua kata saja , sabar dan syukur makan kamu akan menjadi orang yang selalu berbahagia."
"ya sudah Mita ajak Ka Azqila ke kamar ya biar kalian belajar disana" Mita pun langsung mengajak Azqila pergi ke kamarnya, perkataan Mahira sontak menarik kesadaran Azqila yang sejenak pergi berkelana, Azqila buru buru mengangguk dan mengikuti Mita calon murid nya
" ya sudah gue pamit dulu ya, soalnya gue juga harus mengajar ini hari pertama gue" pamit Aulia, seharusnya mereka bekerja sebagai tenaga pengajar di tempat yang sama namun sayang karena kejadian kemaren membuat pihak sekolah membatalkan kontrak kerja dengan Azqila
"iya hati hati dan makasih udah mau anter gue kesini" Aulia hanya melambaikan tangan saja sebagai jawaban.
Setelah selesai mengajar selama dua jam di dalam kamar akhirnya Azqila pamit pulang dan di sana sudah ada beberapa teman Mahira yang sepertinya sengaja berkumpul
"eh sudah selesai belajar nya" tanya Mahira
"iya sudah mbak, Mita anaknya pinter jadi saya tidak terlalu kesulitan untuk mengajarinya" ucap Azqila sambil tersenyum
"eh Lo ga salah Mahira mempekerjakan dia" tanya salah satu teman Mahira sambil menunjuk ke arah Azqila
"lah memang kenapa kalau dia ngajarin Mita?, Lo kenal sama Azqila?" tanya Mahira bingung
"seriusan Lo ga tau siapa dia?, emang Lo mau laki Lo di rebut sama dia, dia itu pelakor yang baru saja di labrak sama istri sah yang suaminya dia ambil" ucap Teman Mahira dengan menggebu gebu, sontak saja perkataan itu membuat mereka semua menatap horor kepada Azqila
"wah sayang ya cantik cantik cuma jadi pelakor" kata teman Mahira yang lainnya, Azqila hanya bisa pasrah saja mau di membantah pun enggak akan ada yang percaya dengan apa yang akan dia katakan, karena mereka sudah punya asumsi sendiri lebih baik diam dari pada buang buang energi
"maaf Azqila saya tidak bisa mempekerjakan kamu lagi disini, saya tidak mau rumah tangga saya di ganggu orang macam kamu." ahirnya Mahira memutuskan untuk tidak lagi mempekerjakannya karena otaknya sudah berfikir jelek tentang Azqila
"tidak apa apa mbak terimakasih, permisi..." hanya itu kata kata yang mampu Azqila ucapakan kemudian meninggalkan rumah Mahira dengan hati berdenyut nyeri, bahkan di tempat yang jauh dari rumah pun dia masih di Bayangi dengan titel barunya yang masih sangat melekat dengan dirinya sebagai pelakor.