Pagi hari ketika aku menulis ini, aku tengah memikirkanmu yang teramat gila, Mas. Bagaimana bisa kamu datang setiap hari ke kampus demi menemuiku, bahkan meski akhirnya gagal bertemu denganku? Kamu teramat gila. Waktu cutimu hanya dua minggu dan semua hari kamu habiskan hanya untuk bertanya. Mas, bukan kah terkadang perasaan itu teramat jahat? Bukan kah tidak semua perasaan dapat menemukan pemiliknya dengan tepat? Mengapa tidak menyerah saja. Sama sepertiku yang tertatih-tatih bukan untuk mengejar, justru untuk menjauh darimu.
"Tikaaaaaa!" teriak Dewi dari gerbang kosku. Ini masih sangat pagi untuknya datang ke Semarang dari Yogyakarta. "Kamu gila ya?"
Aku hanya diam.
"Mas Dipta tiap hari nemuin kamu hanya untuk melamarmu dan kamu tidak mau?"
"Sudah sarapan belum? Masuk gih, aku belikan sarapan, istirahat dulu," kataku sejenak menutup buku harian ini, berniat menghentikannya sejenak.
Namun Dewi melarangku, dia menarikku ke dalam setelah membuat semua penghuni kos menjadi gaduh. Mereka pasti sibuk bergosip setelah ini, mengingat sebelumnya pun begitu.. Karena kamu selalu datang ke kampus dan selalu merepotkan pihak akademik dengan bocoran ruang kelas, banyak orang sering membicarakanku, Mas.
Aku menatap Dewi malas, bukan pada orangnya. Tetapi pada orang yang selalu membuatnya datang jauh-jauh dari UNY ke Unnes. Siapa lagi jika bukan dirimu, Mas? Aku sudah berulang kali mengatakan, lebih baik kita menyerah. Sebab pada akhirnya yang menderita bukan hanya kita, tetapi juga Dewi.
"Apa sih kurangnya Mas Dipta, Tik?"
Diam.
"Kalau pun alasanmu adalah kuliahmu yang masih kurang satu tahun lagi. Ya sudah, Mas Dipta mau menunggumu. Toh perasaan kalian masih sama. Matamu itu tidak bisa berbohong. Apa gitu kurangnya Mas Dipta?"
Diam.
"Kamu menyukai semua hal tentang Mas Dipta, aku tahu itu, Tik."
"Kamu salah, Dewi. Aku menyukai semua hal tentang Mas Dipta, kecuali seragam yang melekat dalam tubuhnya. Aku mencintai Mas Dipta, kecuali negara yang terus menerus memisahkan kita dengan segala kendala yang ada."
Dewi tertawa masam. "Bagaimana bisa kamu cemburu pada negaramu, Tika? Bagaimana bisa?"
"Aku tidak seperti kamu, Mas Dipta, atau semua orang yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Aku bukan warga negara yang bahkan melihat Markis Kido dan Hendra Setiawan memenangkan emas Olimpiade bisa menumbuhkan rasa nasionalisme. Sungguh aku biasa saja dengan itu."
Dewi memukul kepalaku keras-keras. "Kamu ini warga negara yang tidak tahu rasa syukur. Kamu hidup damai sekarang di negara ini, kamu dapat kuliah di negara yang bahkan tidak kamu cintai ini, kamu dapat segalanya dan bahkan secuil saja kamu tidak mencintainya. Hah! Kupikir Mas Dipta yang gila, mencintai perempuan tak bermoral sepertimu!" ketusnya keluar dari kamar kosku.
Hatiku memang telah mati pada negeri ini, oleh karena kejadian 1998 yang begiu kejam. Penjarahan, bentrok, dan segala macam kejadian sadis lainnya, ketika aku masih cukup kecil untuk mengerti, kala itu bahkan aku hanya tahu susahnya hidup kami berhari-hari. Aku tak suka sama sekali dengan negeri ini.
"Mas Dipta hari ini balik, dia nunggu kamu di Simpang Lima. Dia berangkat ke Jakarta siang nanti, berangkat ke Kalimantan malam besok pagi. Sebodoh-bodohnya kamu, aku tahu kamu masih mencintainya," kata Dewi lalu pergi.
Aku diam, hari ini ada kelas di kampus. Tidak, tidak akan aku tinggalkan demi kamu, Mas. Enyahlah, pergilah jauh dan jangan kembali. Perasaann kita cukuplah untuk kita nikmati masing-masing.
Berjam-jam aku berpikir, pada akhirnya hati ini mendorongku untuk pergi ke Simpang Lima, berlari-lari mencarimu. Dan aku menemukanmu duduk di tepi taman, terdiam, dengan rensel dorengmu. Maaf, aku hanya sanggup menyaksikanmu dari kejauhan, Mas. Sembari menangis tersedu-sedu di balik masker hijau.
Ini adalah hari terakhir aku ingin menemuimu. Maafkan segala kesalahanku, maafkan aku yang tidak dapat menemanimu, maaf untuk semua tingkah bocahku, Mas. Selamat tinggal.
Semarang, 2 September 2008
Yang Melepasmu,
Kartika Rahma Sakia