Kembalimu, 2008

642 Words
Hampir dua tahun berlalu usai aku melepasmu, tak apa, aku baik-baik saja dengan senyumku, meskipun hatiku tidak demikian. Perpisahan kita sungguh tidak dapat membuatku berpindah rumah, Mas. Aku masih merasa, kamu lah rumahku, bukan, aku lah rumahmu karena kamu yang harusnya pulang untuk bernaung di tempatku. Tetapi kenyataannya memang kita bukan lah siapa-siapa.  Aku tahu tahun 2007 kamu pulang, Mas. Aku tahu. Dewi memberitahuku dan membawakan berpuluh-puluh makanan berbahan dasar cokelat. Katanya, "seseorang mengirim snack cokelat agar kamu merasa lebih baik. Dia menunggumu di jalan ramai, berangka lima. Aku antar jika kamu mau." Ya, aku tahu kamu yang menungguku, Mas. Tetapi andaikan aku benar rumahmu, bukankah seharusnya kamu yang datang dan mengunjungiku? Bukan aku yang seharusnya menemuimu. Bahkan permintaanmu aku datang di Simpang Lima, cukup berjarak dari kosku. Mengapa harus aku yang selalu berkorban untuk perasaan kita, Mas? Maaf, seharusnya aku tidak bertanya demikian. Sebab memang telah tiada kita lagi, hanya aku dan kamu serta masa lalu. Ya, aku bukan rumahmu. Kala itu aku putuskan untuk tidak datang menemuimu, meskipun Dewi sedikit memaksa, aku tetap tidak mau, Mas. Harus benar-benar aku akui, bahwa kita hanyalah masa lalu yang selalu aku rindukan. Tetapi hari ini, entah apa yang telah membuat Mas Dipta semacam orang kesetanan, tiba-tiba saja sosok dirimu di depanku dan terengah-engah sembari menyodorkan sebuah kotak merah dan mengatakan akan membawaku ke mana pun semampumu. "Kamu tidak akan mampu, Mas," kataku di depan ruang kelas yang bahkan dosennya baru beberapa detik meninggalkan ruang kelas.  "Aku bisa," katamu mengikutiku ke mana pun kakiku melangkah, tak heran puluhan orang memandangku aneh.  "Tika, sungguh tidak ada yang berubah dari yang aku rasakan untukmu. Aku yakin kamu pun begitu. Kenyataanya mana? Kamu juga tidak mampu berpindah dariku." Menghentikan langkahku, menatapmu. "Karena aku tidak mau dengan orang sepertimu. Maka aku memilih diam, nanti juga waktunya datang," tegasku kembali melangkah.  "Tidak, Tika. Bagaimana kalau ini waktunya? Aku yang datang bukan orang lain." Menggeleng.  "Kenapa, Tika?" "Aku tidak pernah menyukai seragammu, andaikan kamu mau melepas seragammu itu, baiklah, aku bisa bersamamu kembali. Kenapa? Kamu benar, perasaanku pun masih sama, Mas." Kamu terteggun. "Kenapa harus seragamku yang salah, Tika? Apa salahnya menjadi pejuang di negaranya sendiri? Apa salahnya menjaga kedaulatan negara? Apa salahnya dengan dorengku, Tika? Apa yang salah?" suaramu meninggi, aku tahu kamu diselimuti amarah, Mas. Tak ada yang bisa kamu pilih salah satu, aku tahu itu. Tetapi aku juga tidak mempunyai pilihan lain.  "Kamu tahu, Mas, tentara tidak pernah bisa menepati janjinya. Kamu tahu? Jadi apa yang salah dari seragammu? Ya, dia membuatmu tidak pernah bisa berjanji atau menepati janji." Kamu diam. "Kamu berjanji akan pulang, kamu sering tidak menepatinya. Kamu berjanji bersamaku, membawaku ke mana pun, kamu tidak bisa. Kenapa? Karena negara mengikat semua janjimu dengan seragam ini. Kamu tahu itu kan, Mas? Kamu berjanji pulang dengan selamat, harus kah aku mempercayai itu? Apa negara memastikanmu kembali hidup? Tidak, negara hanya memastikan kamu mendapatkan gelar usai kamu gugur nanti. Janji seorang tentara tidak pernah bisa dipegang." Matamu basah. "Aku tahu, aku mengerti. Bahkan aku marah pada diriku sendiri karena tidak bisa membuat janji dan selalu mengingkari janji. Aku tahu. Aku marah pada diriku sendiri, tetapi tidak pernah marah pada negaraku. Ini sudah panggilan nasionalisme, Tika." "Ya, cintaku tidak pernah bisa memanggilmu." Aku pergi dengan d**a sesak, dan puluhan mata yang menatapku aneh. Aku sedang berusaha tidak menangis karenamu, tidak, tapi usahaku sia-sia.  "Tak apa, Tika," katamu yang ternyata mengejarku dari belakang. "Pikirkan lagi betapa kuatnya perasaan kita. Aku akan kembali besok, besoknya lagi, besoknya lagi, sampai tiga belas hari ke depan, sampai aku kembali lagi." Aku tidak peduli, mau kamu datang puluhan kali, aku akan menolakmu ratusan kali, terus berlipat jika kegigihanmu mengejarku juga berlipat.  Mas, bisa kah hanya kita tanpa negara? Bisa kah hanya kita tanpa seragam? Jika tidak, biarkan hanya aku dan kamu, tidak dengan kita. Semarang, 19 April 2008 Yang Menolakmu, Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD