Kerinduan, 2004

577 Words
Dering teleponmu selalu membangunkan malamku, lewat tengah malam, atau yang pasti lewat dari waktumu melaksanakan apel malam. Tak masalah meski aku sangat tidak menyukainya, sebab aku juga tidak mengerti harus menolak dengan cara apa, sementara kerinduanku merengek meminta obatnya. Aku yang liburan ini memilih menghabiskan waktu untuk bekerja, untuk sedikit melupakanmu pun terkesan sia-sia.  Semua kata rindumu selalu membuatku terkulai, tetapi ada rasa menggebu yang ingin lari untuk menemuimu. Mas, kamu tahu, usiaku belum genap delapan belas tahun. Aku masih menyukai gaya berpacaran yang ala kadarnya anak SMA, bukan dituntut untuk dewasa dan memahami semua pengertian yang dipahami para pejuang jarak. "Aku merindukanmu, Tika. Sungguh, sekian bulan terlampaui dan aku belum terbiasa dengan kerinduanku." Aku ingat betul kalimatmu itu tidak pernah berganti meski hari dan jam kita menghubungi selalu berganti. Dan selalu, aku hanya diam tidak mengatakan apa pun. Kuharap kamu mengerti, Mas, bahwa aku pun merindukanmu, rindu yang lebih pilu dari rindumu untukku, rindu yang lebih candu dan mengandung kelebihan kafeina di dalamnya. Andaikata mulutku ini dapat berkata, menjelaskan semua kerinduanku dan amarahku terhadap kepergianmu, mungkin ia sudah berbusa dan mati rasa setelah menjelaskan semuanya. Aku rindu semua hal tentangmu, bersamamu, dan semua hal yang tidak dapat lagi aku lakukan bersamamu. Aku iri setiap kali menatap pasangan muda-mudi melewatkan malam mingguan, atau sekedar ucapan untuk makan, aku rindu, tetapi waktumu tidak pernah banyak. Setiap satu pesan singkat kita dibatasi oleh operator, setiap menit diaglog kita pun menguras banyak uang saku yang salah tempat penggunaan. Kita tidak hanya menguras rasa dan menggunungkan rindu, kita juga mencekik materi untuk sebuah pesan singkat dan satu menit berbicara.  "Kamu masih sanggup, kan?" tanyamu dengan suara lirih. "Tidak." Aku hanya berkata jujur, bahwa aku memang benar-benar tidak sanggup. "Apa aku harus melepasmu?"  "Terserah denganmu, Mas. Yang pasti aku belum akan melepasmu." Ya, itu sesuai dengan janjiku bahwa, jika memang tidak mampu, benar-benar ingin berhenti, aku akan melepasmu ketika kita bertemu. Bukan melalui teknologi yang pasti tidak dapat menjelaskan perkara hati dengan hati secara mendalam.  "Belum artinya akan," gumammu dan tak kutanggapi. "Haruskah?" Aku diam. "Tidak mungkin, aku tidak mungkin melepasmu." Tetap diam. "Mari kita akhiri saja dialog ini, aku menghubungimu untuk mencari penawar rindu, bukan untuk berbicara tentang saling melepaskan." "Aku juga tidak membicarakan itu, Mas." Hening. Gajimu habis hanya untuk heninng yang kita ciptakan sepanjang tiga menit. Lalu kamu mengatakan bahwa kamu amat sangat mencintaiku, entah, akan bertahan seberapa lama, yang pasti saat ini masih menggebu. Kamu juga mengatakan bahwa, tidak sanggup rasanya jika harus mematikan perasaan yang tumbuh indah. Dan terakhir, katamu, meski teramat berat, aku harus bertahan, tidak, kita harus bertahan. Apa pun bencana perasaan yang akan menyakiti kita, kita harus bertahan. "Aku tidak bisa berjanji,"balasku.  "Kenapa?" "Kita tidak perlu berjanji, Mas. Waktu pulangmu saja tidak dapat dipastikan, bagaimana dengan janjimu atau bahkan janjiku perihal perasaan kita? Ia akan berubah sewaktu-waktu." Kita diam. "Kenapa hubungan kita jadi dingin semacam ini, bukan, kamu yang dingin." "Tidak, Mas. Aku masih menyambutmu hangat, dengan semua perasaan dan kerinduan yang alirannya begitu mematikan. Memang hubungan kita sudah bermasalah sejak kamu memutuskan menjadi pejuang sementara aku tidak memiliki keikhlasan untuk itu." Lagi-lagi kita hanya diam. "Tak apa, Mas. Perasaan kita masih sama hangatnya dan kita masih saling merindukan. Ya, tugas kita hanya merawat kerinduan sampai kamu kembali. Selamat malam, Mas. Selamat bertugas." Dan telepon kita terputus tanpa sesuatu yang menyenangkan. Tetapi, bukan kah hari-hari kita memang begitu adanya? Padahal kerinduan kita menggebu, tetapi terasa dingin. Boyolali, 23 November 2004 Rindumu, Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD