Jarak, 2004

505 Words
Tahun ini, telah resmi kamu ditugaskan di Kalimantan Timur. Aku tidak mau tahu tentang kepentingan militermu, aku hanya lelah selalu menunggumu menyelesaikan pendidikan, dan sekarang harus membentang lebih jauh lagi. Telah berbulan-bulan sejak kamu berangkat ke Kalimantan Timur, entah apa nama tempatmu bertugas, aku lebih peduli dengan perasaan rinduku yang selalu berkecamuk tanpa hadirmu.  Aku masih siswa SMA yang ternyata sudah harus menjadi pejuang jarak dengan kekasihnya yang seorang tentara. Bukankah lebih menyenangkan berkencan dengan anak-anak SMA yang sebaya, yang tidak bercita-cita kuat menjadi pejuang dan yang tidak begitu mencintai negaranya? Pasti, pasti menyenangkan. Pulang sekolah bersama, membicarakan materi pelajaran bersama, tanpa perlu menciptakan rindu, tanpa perlu berpikir apa kamu baik-baik saja di sana. Sudah empat bulan sejak kamu pergi, Mas. Aku sudah sibuk dengan pelajaran yang semakin padat di kelas XII, tetapi aku tidak pernah kekurangan waktu untuk mengingatmu dan bahkan merindukanmu. Bukankah aku bodoh? Jika menggangguku, seharusnya aku melepasmu ketika kamu berpamitan untuk pergi, tetapi mengapa dihadapmu aku selalu lemah untuk berkata jujur bahwa aku tidak mampu. Mengapa pula tidak pernah sanggup mengatakan untuk berhenti saja dan kamu bisa fokus pada urusanmu mencintai negara? Komunikasi pun belum begitu lancar, katanya kamu harus menjalani berbagai macam orientasi, mengharuskan aku menunggu lagi. Hanya dengan secarik surat yang kamu kirimkan sehari setelah sampai di Kalimantan Timur. Surat yang mengatakan agar aku selalu sabar serta percaya bahwa kamu pun akan selalu merindukan aku. Apa harus aku yang mengalah untuk cita-citamu dan perasaanku yang begitu dalam untukmu? Kini terserah dengan apa yang akan kamu lakukan, memperjuangkan perasaan kita atau hanya sibuk dengan negara, aku pun akan berusaha tidak acuh padamu. Aku akan menyibukkan diriku dengan semua hal yang bermanfaat bagi diriku sendiri. Anggap saja kita memang tidak perlu saling memikirkan dan menjadi egois karena cita-cita kita masing-masing. Apalah artinya sebuah rasa jika tidak dapat diperjuangkan dengan baik, hanya menyiksa dengan overdosis kafeina dalam sebuah rindu.  Jarak memaksa kita untuk tidak saling peduli meskipun kita saling merindukan, cita-cita membuat kita untuk berhenti pada sebuah rasa yang kita punya. Jika dapat menghubungiku karena memang adanya waktu, hubungi aku, aku akan menerima dan mengatakan aku baik-baik saja. Jika memang tidak ada waktu, aku tidak acuh terhadapmu, tidak akan mencarimu dan meski aku menangis sendu di bawah jendela kamarku..  Dewi mengatakan padaku, lepaskan dan pacari orang lain jika aku memang tidak mampu, tidak perlu dipertahankan. Andaikata aku bisa melakukannya, tetapi aku tidak akan melepaskanmu hanya dari sepucuk surat atau sebait pesan singkat. Akan berbeda cerita jika kita bertemu, aku mungkin mampu melepasmu. Aku tetap akan setia selama tidak bisa bertemu denganmu, aku hanya akan menjadi seperti dirimu, sibuk dengan urusan cita-citaku dan abai pada rasa yang sempat kita perjuangkan. Sungguh, Mas Dipta, aku telah membiarkan diriku dikuasai mendung karena kerinduan yang pilu, dan aku akan bertahan dengan mendung itu hingga aku dapat melepasmu. Meskipun aku tahu, mendung itu dapat membunuhku kala badai atau hujan terlalu lebat. Yang terparah adalah ia menghapus semua rasa yang pernah ada, mungkin, dan aku akan menyenangi itu jika terjadi. Boyolali, 5 Agustus 2004 Jarakmu, Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD