Tidak Melepaskan, 2003

532 Words
"Aku pasti baik-baik saja, Mas," kataku dengan senyum lebar di depan sorot matamu yang selalu hangat. Mengangguk. "Kita akan segera meleburkan rindu yang kita ciptakan sendiri, Tika. Bertahanlah, meskipun aku yakin, semuanya akan terasa berat untuk kita. Aku sungguh berterima kasih karena kamu memiih untuk mempertahankan perasaan yang kita miliki." Tersenyum segaris.  "Aku berharap, tidak ada yang berubah ketika aku kembali nanti. Aku harap, hatimu masih milikku. Tapi seandainya ada yang membuatmu berubah, pastikan bahwa dia laki-laki yang baik untukmu, Tika." "Mas," menggenggam tanganmu. "Aku akan baik-baik saja dan menjaga hubungan kita sebaik mungkin. Seandainya ada yang berubah ketika aku menunggumu, aku akan tetap menunggumu hingga kembali, agar kita bisa duduk berdua membicarakan apa-apa yang perlu kita bicarakan tentang kita." Giliranmu tersenyum lebar. "Kamu semakin dewasa atau perasaanku saja, Tika?" "Kita yang semakin dewasa." Meskipun sempat gagal untuk Akmilmu, akhirnya kamu harus berangkat untuk pendidikan bintara yang kamu pilih. Setelah menghilang satu minggu lebih, akhirnya aku muncul dan tidak melepasmu, aku akan mendukungmu sebab kekuatan perasaanku lebih besar dari keyakinanku untuk melepasmu. Aku juga yang memberimu ucapan sampai jumpa lagi untuk tujuh bulan ke depan. Semoga berhasil atas apa yang kamu inginkan.  Tetapi apa kamu tahu, Mas? Aku tidak sungguh baik-baik saja ternyata. Aku seringkali menangis hanya karena rindu, aku seringkali terkesan gila karena mengirimimu banyak pesan yang sia-sia. Tidak akan ada balasan hingga tujuh bulan ke depan, aku tahu itu tetapi aku tetap melakukannya. Sungguh merindukanmu lebih menyesakkan dibandingkan saat aku melepaskanmu.  Mas, apa kamu baik-baik saja meski berjibaku dengan peluru dan kubangan lumpur di tempat latihanmu? Apa kamu tetap merindukan aku meskipun kamu terlalu sibuk dengan segala perintah dari pelatihmu? Apa hanya aku yang tersiksa, Mas? "Tikaaaaaa!" teriak Dewi ketika aku mengingatmu terlalu jauh, mataku sampai tak berkedip dan aku melayang jauh dari kesadaranku terhadap dunia serta isinya. "Kamu rindu kekasihmu?"  Aku tidak menjawab. Apakah pertanyaan Dewi mampu menghapus segala kerinduan yang kukuh membeku? Kurasa tidak, maka aku tidak perlu menjawabnya.  "Ahhhh, Mas Dipta, entah apa yang dia pikirkan. Kenapa dia harus mengambil jalan pengabdian yang berat. Padahal kalau dia mendaftar kuliah lalu lulus sebagai sarjana, bukan tidak mungkin dia menjadi PNS. Bukankah itu juga pengabdian?" Dewi memang satu pemikiran denganku, hanya kamu yang tidak, Mas. Menyebalkan sekali untukku.  "Berapa lama dia pendidikan?"  "Tujuh bulan." "Lama, tapi kamu tahu, Tik. kamu sungguh beruntung." Aku menoleh bingung. Entah di mana letak keberuntunganku, Mas. Aku yang seolah kehilangan waktu bersama denganmu, tetapi dikatakan aku begitu beruntung. Sungguh, jalan pikiran Dewi amatlah rumit.  "Kamu tahu, seandainya Mas Dipta masuk kuliah, bukankah dia akan dikelilingi mahasiswi-mahasiswi cantik dan berpendidikan? Tetapi jika Mas Dipta mengambil jalan menjadi tentara, dia dikungkung tanpa komunikasi selama tujuh bulan lamanya, dia bebas dari godaan perempuan-perempuan cantik. Saat ini, siapa memangnya yang mau dengan tentara? Gajinya kecil. Beruntung, hanya kamu yang bisa memiliki Mas Dipta yang tampan itu." Menghela napas panjang. Apakah harus mengorbankan semua perasaan untuk memilikimu, Mas? Sungguh indah perjalanan kita, bukan? Tetapi aku tersiksa, suatu saat kamu harus tahu itu. Itu pun jika aku berniat memberitahumu, karena mungkin saja aku berpura-pura bahagia dalam masa tungguku. Agar kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, agar kamu lebih fokus pada semua mimpi-mimpimu.  Boyolali, 1 September 2003 Yang Menantimu, Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD