Berhenti atau Mengerti, 2003

497 Words
Terlalu lama aku tidak menceritakan tetang dirimu, Mas. Akibat aku terlalu bahagia menikmati semua waktu yang terlewat sebagai kekasihmu. Masuk gerbang sekolah bersama-sama, pulang sekolah saling menunggu, sekedar bercerita tentang guru-guru yang lucu bin galak, tentang semua hal yang membuatku tidur lelap setiap malam. Sudahlah, menciptakan kenangan bersamamu lebih menarik dibandingkan menulis semuanya di sini, maka, jika suatu saat ada yang membaca tulisanku ini dan terkesan tidak utuh, sebab semua hal yang bahagia selalu tertuang dengan rapi dalam ingatanku. Meskipun tidak ada bukti tulis, tetapi kenangannya akan selalu membahagiakan. Sayangnya, hari ini harus aku tulis kembali keputusanmu yang sama sekali tidak aku inginkan. Seharusnya aku memang sudah memahami kondisi ini, sebab sejak awal aku mengenalmu, kamu sungguh mencintai negeri ini, lebih dari caramu mencintaiku setiap hari. Apakah aku salah menilaimu begitu, Mas? Tentu tidak, kan? Ujian belum sempat dimulai tetapi kamu telah menghabiskan waktumu untuk mempersiapkan pendaftaran itu. Bahkan tidak peduli dengan ketidakpersetujuanku. Katamu, ini jalan pengabdian yang kamu impikan, dan meminta bantuanku untuk menemanimu, menunggumu, dan selalu memiliki rasa yang sama setiap harimu padamu.  "Aku telah bermimpi menjadi pejuang bahkan sejak kecil, semakin menggebu ketika kerusuhan 1998 begitu membabibuta, Tika." "Mas, kamu tahu, tentara sekejam itu. Dengan kepemimpinan yang otoriter, hidup di negara ini sungguh mencekam pada masa itu. Aku masih sangat kecil tetapi aku ingat bagaimana banyak orang menghilang, lalu semua dituduhkan pada tentara." Kamu menggeleng. "Negara ini sudah melewati masa Orde Baru dan Orde Lama, Tika. Sekarang ini, kita sudah menapak Reformasi. Tidak ada yang namanya diktator atau pemimpin yang otoriter, Tugas tentara adalah menjaga kedaulatan negaranya. Bukan, bukan melaksanakan perintah yang dianggap kejam lagi. Undang-undang tentang kemilitran terus diperbarui. Kamu tidak perlu khawatir, kamu hanya perlu menungguku." "Bagaimana kalau kamu melepasku saja, Mas? Dibandingkan kamu harus melepas keinginanmu menjadi pejuang." Gelenganmu semakin mantap. "Aku tidak akan melepasmu kecuali hatiku yang berubah." Jujur, Mas. Aku tidak pernah setuju dengan keputusanmu mengambil jalan pengabdian. Kamu bisa mendaftar perguruan tinggi, mengambil program studi pendidikan PPKN, aku akan menemanimu meskipun tidak dalam program studi yang sama. Aku juga akan menadi guru sama sepertimu, kita bisa berjuang bersama-sama. Tetapi menjadi seorang tentara? Apa yang diharapkan? Gaji tidak seberapa dan tidak ada tunjangan, tidak tahu jika esok berbeda.  Aku bersungguh-sungguh hari ini mengatakan tidak sanggup bersamamu, tetapi kenyataannya hatiku lebih tidak sanggup berhenti mencintaimu. Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak tahu.  Hari ini, mulailah semua pendaftaran dan lakukan ujianmu esok hari dengan baik. Semoga lancar dan aku perlu untuk tidak bertemu denganmu beberapa minggu ke depan. Kamu harus melewati banyak ujian serta ribetnya pendaftaran. Tak sepantasnya jika aku mengganggumu dengan segala masalah yang seharusnya tidak dipermsalahkan. Jangan khawatir, aku tidak melepasmu atau memintamu untuk melepasku lagi saat ini. Andaikata hati kita masih sama, mungkin kita akan bersama-sama lagi dalam keadaan yang lebih damai. Aku hanya butuh berpikir, apakah aku harus berhenti atau mengerti keputusanmu. Aku akan memahami itu dan membuat keputusan, tentu tidak akan mengesampingkan apa yang masih ada dalam hatiku.  Boyolali, 6 Maret 2003 Kekasihmu, Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD