Sepuluh hari terlewat, kita tetap tidak saling menyapa, tidak saling mengumbar senyum, atau bahkan mungkin kamu tidak lagi mengingatku. Namun aku, aku selalu terbayang perihal apa yang kamu katakan. Katamu, bukan salahku, bukan juga salah mantanmu, semua karena hatimu yang berubah. Memang apa yang membuat hatimu berubah? Aku? Sungguh, Mas? Apa yang ada pada diriku? Tidak ada. Aku bukan seseorang yang menyenangkan, dan aku bukan seorang rakyat yang begitu nasionalis.
Aku memejamkan mataku, menganggap bahwa yang kamu katakan hanyalah bualan laki-laki semata. Semua laki-laki bisa mengatakannya lalu pergi. Bukankah jika memang benar, kamu akan menemuiku dan mengatakannya sekali lagi? Karena tidak kamu lakukan itu, mari lah kita anggap bahwa perkenalan kita hanyalah kebetulan akibat kepentingan sekolah.
Tetapi agaknya aku keliru, di malam tahun baru tanggal 31Desember 2002, beberapa jam menjelang 1 Januari 2003. Dengan napasmu yang tersengal-sengal, dengan celana traning pendek, kaos oblong warna abu-abu, dan sepatu olahraga berwarna putih, keringatmu yang mengucur deras dari sela-sela rambut cepakmu, di dahimu dan pelipismu.
"Aku pikir berlari terus menerus dapat membuatku berhenti memikirkanmu, tetapi aku salah. aku justru semakin menggebu untuk menemuimu, Tika. Sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana dengan perasaanku. Aku tidak tahu ini salah atau benar, tapi..."
"Kenapa keluar malam-malam begini, Nduk?" tanya Ibu yang dengan kerudung seadanya mengintip dari balik pintu.
Keluargaku memang bukan keluarga yang menyukai gemerlap malam tahun baru. Kami lebih suka menghabiskan malam untuk tertidur dan esok pagi bangun dengan tenaga yang lebih dari mereka-mereka yang menghabiskan malam untuk bersenang-senang. Wajar jika Ibu tidak dalam penampilan bagusnya, wajar juga jika aku keluar hanya mengenakan piyama.Tetapi sungguh itu masih wajar, yang tidak adalah penampilanmu saat ini.
"Loh, ada tamu? Malam-malam begini, mau mengajak Tika tahun baruan, Le?"
Kamu dengan tubuh kakumu dan napas yang masih seakan susah payah, hanya mampu mengangguk pelan penuh keraguan.
"Ke mana?"
"Em..."
"Ke Desa Sebelah, Bu. Kan ada pasar malam dan panggung kecil di sana, kan?"
Ibu mengangguk, dan mengizinkan kami untuk pergi. Tentu beliau memaksaku untuk berganti pakaian, tetapi aku tidak mau. Hanya mengambil jaket sebagai penghangat tubuhku.
Desa sebelah tidak jauh dari tempatku, kami hanya berjalan sebentar dalam keadaan hening tak ada kata.
Satu jam menjelang tahun baru, aku yang duduk di sebelahmu, di warung kecil sebelah biang lala, berniat tidak mengatakan apa pun kecuali kamu bertanya, atau mengajakku berbicara. Sungguh malam yang canggung dengan semua kalimatmu yang terputus.
"Tika, aku tidak tahu apa aku salah atau benar melontarkan kalimat ini. Tetapi aku sungguh tidak dapat berhenti."
"Mas Dipta tadi habis lari-lari?" selaku karena entah mengapa, aku belum siap mendengar apa pun. Jantungku yang tidak tahan dengan detaknya.
Kamu mengangguk, menjelaskan bahwa kamu berlari puuhan kilo meter, dengan sesekali beristirahat namun tidak dapat berhenti terlalu lama. Katamu, kamu mengingatku seandainya kamu berhenti berlari, tetapi, ketika berlari kamu justru semakin menggebu untuk menemuiku.
"Aku tidak bisa tidak acuh pada perasaanku. Tika, mau kah kamu menjadi kekasihku?"
Entahlah, malam saat ini aku kenapa, aku justru menarikmu untuk naik bianglala dan tidak menjawab apa pun. Dengan segala kepura-puaraan aku berteriak, di atas bianglala tua yang masih berputar, diikuti pemandangan desa serta beberapa kemang api yang mendahului detik pergantian tahun.
"Tika, kamu tidak mau?"
Aku yang awalnya berdiri, memilih duduk dan menatapmu dalam. "Apa yang menjamin hatimu juga tidak akan berubah ketika bersamaku, Mas?" Itulah keraguanku terhadapmu. Kamu mampu berpindah ketika memiliki kekasih, lalu, apa yang menjamin hatimu tidak melakukan hal yang sama?
"Aku tidak bisa menjamin, karena bukan aku yang memiliki hati. Aku hanya bisa menjamin kalau saat ini aku mencintaimu. Terserah mau bilang aku buaya atau yang lainnya, aku ingin berlari tetapi aku tidak bisa."
Sejujurnya, aku ragu, tetapi kuasa atas diriku berkeinginan untuk bersamamu. Entah apa alasannya, tetapi kupikir itu adalah kebodohan yang amat sangat aku nikmati, mungkin aku tersadar suatu saat nanti atau aku tetap menikmatinya hingga akhir.
"Ya, aku mau," jawabku dengan semua kepolosan dan kegelapan akan cinta.
Mulai saat ini, kita akan memulai hari yang penuh kasih di masa putih abu-abu. Semua yang akan terjadi nanti, biarkan kita tidak memikirkannya, asal saat ini terlewat dengan baik. Genggam tanganmu dan suara kembang api adalah bukti awal dari semua kisah kita dimulai dipenghujung tahun. 5 menit sebelum 1 Januari 2002.
Boyolali, 31 Januari 2002
Milikmu,
Kartika Rahma Sakia