Malam ini aku belajar untuk membenci, daripada harus terluka, bukankah lebih baik membencimu tanpa maaf yang dipaksa? Kamu yang membuatku luka sejak realita tentang kekasihmu terpampang nyata. Lalu sematan "perempuan j****y" tiba-tiba hinggap menyapa. Aku yang terluka, tetap saja aku yang dicecar caci makian sebuah kata.
Mau tidak mau, bisa tidak bisa, bukankah aku harus melupakanmu malam ini dan seterusnya? Kupikir, iya.
"Tika," panggil Ibu usai mengetuk pintu kamarku.
"Dalem."
"Ono leh goleki iku." (Ada yang mencari itu)
"Sinten?" (Siapa?)
"Koncomu." (Temanmu)
"Nggih."
Aku bergegas keluar rumah tanpa pikiran bahwa yang ingin menemuiku ialah dirimu. Datang masih dengan seragammu, tas hitam yang nampak berat di punggungmu, dan tentunya, wajah bersalahmu. Aku hanya sanggup diam, menatapmu sekilas, takut terlalu dalam dan gagal melupakan.
"Boleh kan kalau aku berbicara sebentar denganmu?" tanyamu, berdiri di halaman rumahku.
"Ada apa ya, Mas? Masalah perempuan tadi?"
"Kurang lebih begitu."
"Tidak perlu lah, Mas. Toh, tidak ada yang perlu dipermalahkan. Aku tidak merasa melakukan apapun, jadi tidak perlu juga mendengar penjelasan apapun."
"Tapi ini penting bagiku. Bukan kamu yang salah, aku."
"Suruh masuk, Tik!" pekik Ibu dari dalam rumah, nampaknya membawa senampan hidangan.
"Nggih," jawabku menoleh ke belakang. "Masuk, Mas." Berjalan lebih dulu.
Kamu mengikuti langkahku, duduk, menyecap teh hangat buatan Ibu, lalu mulai menjelaskan. Kejadian yang terjadi tadi siang ialah kesalahanmu, buah dari keteledoranmu menjaga hati. Aku sedikit tidak paham dan tidak ingin memahami. Tidak ingin pula salah mengartikan dan terluka lagi. Cukuplah aku berbahagia dengan hidupku sendiri tanpa campur tangan darimu.
"Ya, aku sepertinya jatuh cinta denganmu."
Mulai mengangkat kepalaku dan getar jantungku ternyata masih sama, mengapa sulit untuk bersikap biasa-biasa saja?
"Awalnya aku merasa, mungkin hanya suka sesaat, makanya aku memilih untuk memoertahankan hubunganku yang sudah satu tahun lamanya, dibandingkan terus memikirkan kamu. Bukan aku tidak acuh, aku sengaja meganggapmu angin lalu sebab aku pun tidak ingin menyakiti kekasihku."
Aku cukup tertegun oleh kejujuranmu.
"Tapi sepertinya, hubunganku pun tidak bisa diselamatkan. Sejauh apapun aku pertahankan, toh semua akan runtuh pada waktunya. Sekeras apapun aku berusaha melupakan, kesalahanku justru selalu mengingatmu. Aku minta maaf."
"Jadi karena itu aku dibilang perempuan j****y? Aku tahu letak kesalahanku."
"Bukan, bukan kamu yang salah. Hatiku yang sudah berubah."
Diam.
"Aku tidak memintamu untuk menjadi kekasihku, aku juga perlu meyakinkan perasaanku. Aku datang hanya untuk meminta maaf dan menjelaskan. Agar tidak lagi ada kesalahpahaman dan hubungan yang membingungkan."
Tetap diam.
"Aku pamit. Maaf sekali lagi. Bukan salahmu atau salah mantanku, hatiku memang sudah berubah. Tidak aku sengaja atau aku paksa, semua mengalir begitu saja tanpa rencana. Apa boleh buat jika hati telah berpindah? Bukan aku yang menggerakkan hatiku."
Mengangguk saja.
Kamu pulang dan berpamitan dengan orang tuaku. Tutur halus dan bahasamu, sopan serta santunmu membuat orang tuaku menilai baik pada pandangan pertama. Itu bukan apa-apa sebenarnya, tetapi jelasmu hari ini justru membuatku pusing kepala.
Aku harus maju ke depan atau putar balik lalu berbelok ke kanan? Aku harus mematuhi rambu-rambu atau harus menerjangnya saja?
Boyolali, 20 Desember 2002
Rasa Barumu,
Kartika Rahma Sakia