Angin Ribut, 2002

599 Words
Desember hampir habis, 2002 pun hampir lenyap, tetapi kenangannya tidak ada yang turut sirna. Semua hal menyenangkan dan menyedihkan terputar kembali, meski banyak yang menyenangkan, tetap saja amat sangat menyesakkan. Terhitung hampir 3 bulan ini, kamu menganggapku hanyalah angin lalu, begitupun denganku menganggapmu hanyalah angin lalu. Awalnya aku masih ingin baik-baik saja denganmu, Mas. Namun, paling matamu yang tidak acuh terhadapku membuatku tidak ingin bersikap baik. Aku adalah seseorang yang akan bersikap sangat baik jika orang itu memperlakukanku dengan baik. Katakanlah sikapku tergantung dengan sikapmu padaku. "Kamu sama Mas Dipta musuhan ya?" tanya Dewi setelah menyaksikan kita berpapasan namun saling membuang muka.  Menggeleng. Tidak mungkin aku mengangguk, karena kita memang tidak pernah menabuh genderang perang. Akan tetapi, salah juga ketika aku menggeleng karena kenyataannya kita tidak saling mengacuhkan, kita sama-sama tidak lagi peduli satu sama lain, bahkan tak ada tegur sapa laiknya warga Indonesia yang keramah-tamahannya menjadi yang utama.  "Aneh kalian. Selama dua bulan kalian belajar bareng, ketemu hampir setiap hari. Setelah event selesai, hubungan baik kalian juga selesai? Ada masalah apa sebenarnya?"  Menghentikan langkahku, 2 meter sebelum gerbang sekolah. "Wi, kita bertemu hampir setiap hari karena kepentingan sekolah, bukan untuk kepentingan pribadi, maka wajar saja kalau sekarang kita begini. Karena urusan kita sudah tidak ada lagi. Toh, memang sejak dulu kita tidak saling mengenal, kan? Sebatas tahu kalau kita satu sekolah." Kembali berjalan dan aku mendapatimu di balik gerbang. Aku berusaha tidak peduli, namun hatiku selalu peduli. Ini terlalu berlebihan, tetapi sepertinya kamulah alasanku masih sanggup berdetak sampai saat ini.  Baru hendak menyebrang jalan, dua orang pesepeda motor menghampiriku dan Dewi. Berhenti tepat di depan kami, hampir saja hendak melukai kaki kami, karena kedua ban motornya begitu tipis dari ujung kaki. "Kamu yang namanya Kartika?" tanya seorang perempuan yang wajahnya cukup aku kenal. Seharian berargumen dengannya, membuatku hafal setiap gerak dan garis wajahnya. Satu temannya yang mengemudikan sepeda motor, aku tidak mengenal dia siapa. Tapi wajahnya cukup ketus, ditambah alis tebalnya.  Aku dan Dewi saling memandang. "Oh ini," katanya lagi mengangguk-angguk, tetapi yang dipandangnya bukanlah aku, melainkan laki-laki di belakangku yang mulai mendekat. "Manis, cantik." "Kan aku sudah bilang, bukan dia orangnya dan tidak perlu dicari," katamu. Iya, laki-laki yang mendekat itu ialah kamu, Mas Adipta Prastiyo. "Nggak, aku cuma mau tahu aja, seperti apa perempuan j****y yang membuatmu harus meninggalkan aku." Dewi menyenggol bahuku. "Kamu yang dimaksud perempuan j****y?" bisiknya. Aku merasa begitu, karena yang dia temui dan ditanyakan namanya ialah aku. Namun aku bukanlah perempuan j****y yang memaksa Mas Dipta meninggalkan perempuan ini, anak SMAN 2 Boyolali. Justru aku yang diterbangkan tinggi, lalu dijatuhkan setengah mati karena memang perempuan yang ada di depanku ini sudah lebih dulu datang. "Dia tidak j****y dan bukan dia orangnya." "Kartika Rahma Sakia," menyebut namaku dengan pelotot mata tajamnya. "Tidak ada laki-laki lain untuk digoda?"  "Maksudnya?" tanyaku sebenarnya mulai kesal. "Sarah, aku meninggalkanmu bukan karena Kartika, karena perasaanku memang sudah berbeda," jelasmu, sedikit membuatku kecewa.  "Ya, berubah karena dia, kan?"  Bungkam. Aku tak mengerti angin ribut apa yang hari ini menyambangi. Duduk permasalahannya saja aku tidak tahu, tetapi tiba-tiba saja keributan datang menerpa. Urusan hubunganmu dengannya tetapi aku harus terlibat, padahal kamu belum lama ini menjatuhkanku begitu dahsyat. Kupikir, aku salah jatuh hati padamu, itu hanya akan menyengsarakan hidupku.  "Saya pamit, saya tidak merasa harus bertanggungjawab perihal apa yang terjadi pada hubungan kalian karena saya pun tidak mengerti apa-apa. Assalamu'alaikum," pamitku menarik Dewi. Terima kasih, Mas, untuk semua permasalahan yang datang. Wajah tak acuhmu, rasa patah di hatiku, dan sebutan j****y dari kekasihmu. Aku cukup menyesal jatuh cinta denganmu, setidaknya saat ini. Boyolali, 20 Desember 2002 Angin Lalumu, Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD