Pada akhirnya aku harus belajar lebih banyak hal tentang perasaan yang tidak biasa untuk lawan jenis. Mengapa aku mengatakan itu? Karena hari ini, semua sakit itu bercerita dengan amat sangat detail. Setidaknya bagi mataku, tidak tahu jika versimu atau versi orang lain.
Selama ini sulit bagiku belajar PKN melebihi siswa lain, melebihi materi belajarku. Aku tidak menyukai hafalan, aku lebih suka banyak logika, meskipun terkadang logikaku berhenti karenamu. Katakanlah aku berjuang keras untuk dapat dipandang olehmu. Sama halnya seperti orang lain yang selalu ingin dipandang oleh pujaannya. Bukan hanya sekelebat, tetapi benar-benar dipandang, diperhatikan.
Bukankah tepat? Masa remaja selalu identik dengan orang-orang yang mencari perhatian pada lawan jenis. Mungkin banyak orang gengsi untuk mengakui, tapi aku tidak. Benar aku melakukan itu. Hanya saja, aku harus tetap mengendalikan agar harga diriku pun tidak berlabel diskon 90%. Aku tetap percaya kodrat perempuan, sejauh mana dia harus berbuat dan sejauh mana dia harus memikat.
"Dipta," panggil seorang perempuan ketika aku hendak menghampirimu, membawa piala juara 2 dan kamu baru saja datang usai menyelesaikan jam pelajaranmu hari ini.
Hari sudah menjelang Magrib ketika kamu datang dan aku menjadi pemenang, meski bukan yang pertama. Ini juga bukan kemenanganku, tetapi kemenangan tim.
Perempuan itu berambut pendek sebahu, rok pendek selutut, dan tentu sebuah piala juara 1 di tangan kanannya.
"I get it!" katanya tersenyum riang, menunjukkan pialanya.
"Congrats!" jawabmu tersenyum, sekilas saja.
"Sudah, begitu saja? pacarnya juara loh. Tidak ingin mengatakan, 'Wow, I'm so proud of you, my beloved girlfriends', sederhana dan aku akan sangat bahagia."
Tubuhku terbujur kaku tidak jauh darimu. Dia kekasihmu? Benar, kan, apa yang aku takutkan? Akhirnya aku jatuh tanpa parasut dari pesawatmu. Tidak banyak yang bisa aku lakukan kecuali menikmati semua hal bodoh yang aku lakukan.
Mengapa aku harus ikut terbang bersamamu? Mengapa aku harus jatuh hati dengan mudahnya? Mengapa harus terbius sampul kharismamu? Mengapa pula aku mempersulit diri untuk ikut terbang sementara aku tahu akan berakhir jatuh tanpa pengaman?
"Oke, I'm so proud of you!" tersenyum tipis dan tidak melakukan apapun.
"Nanti malam makan-makan deh, ke rumah," kata kekasihmu dan aku semakin jatuh sejatuh-jatuhnya.
Aku hanya siswi biasa yang mau ikut LCC saja karena terpaksa, karena aku mempersulit diri agar dapat selalu bersamamu. Kekasihmu? dia cantik, manis, juara 1 LCC PKN, dan aku yakin, dia anak SMA Negeri 2 Boyolali. Pasti sudah dari awal dia menyukai PKN. Jawabannya tadi saja sangat lugas, jelas, dan tentu tepat. Pantas jika kalian akhirnya saling jatuh cinta.
"InsyaAllah," menoleh. "Tika," panggilmu padaku.
"Eh, Mas Dipta," tersenyum lalu pergi menghampiri teman-temanku.
Benar, cinta tanpa kecerdasan tiada artinya. Hanya akan menimbulkan kebodohan dan mempersulit diri sama sepertiku. Jatuh cinta itu mudah, keinginan untuk bersama itu yang mempersulit semua hal tentang cinta.
Tidak lagi, tidak lagi aku berlaku bodoh, membohongi diriku sendiri, mempersulit diriku sendiri hanya untuk dekat denganmu. Aku sudah jatuh dan aku tidak ingin kembali jatuh. Anggap saja aku hanya mengagumimu, sebatas kagum dan tidak perlu lagi berhalusinasi.
Daer, Mas Adipta Prastiyo
AKU TIDAK SUKA PKN, AKU TIDAK SUKA MENGHAFAL, DAN AKU TIDAK SUKA MEMIKIRKAN NEGARAKU.
dan aku, aku membencimu saat ini. Bukan, aku hanya ingin berhenti berhalusinasi atau menanam harapan. Toh berhalusinasi hanya akan menjadi penyakit mental sementara menanam harapan tak akan berbuah.
Boyolali, 16 September 2002
Aku,
Kartika Rahma Sakia