Persiapan LCC PKN, 2002

598 Words
Sejujurnya aku tidak begitu berniat ikut LCC PKN, sungguh hanya karena tanteku seorang guru PKN saja di sini. Makanya aku belajar giat untuk nilai yangg baik, setidaknya tidak begitu memalukan. Tetapi karena dirimu, aku mau. Aku tidak suka membahas perihal negara karena aku lelah dengan carut marutnya negara. Baiklah bagian sejarah di dalam pelajaran PKN aku tidak mempermasalahkan itu, memang sejarah tidak baik dilupakan. Namun, menilik permasalahan yang selalu muncul ditelevisi tentang negara ini membuatku lelah memikirkan negara.  Aku mungkin masih SD di tahun 1998 ketika krisis dan reformasi berjalan, tetapi itu menjadi trauma tersendiri untuk membahas perihal negara. Aku melihat Timor Timur lepas, aku melihat gaduh di gedung DPR RI, aku melihat semua kegaduhan. Terkadang bahkan aku merasa mada depan negeri ini suram. Sekali lagi, akhirnya aku mau membahas tentang negara hanya karena dirimu.  "Dik, aku kasih bukunya. Ini aku dapatkan waktu LCC PKN tahun lalu. Dipelajari dulu ya, aku tidak bisa dampingi setiap hari," katamu datang ke kelasku. Sepertinya juga baru saja dari kelas lain, mendatangi peserta LCC PKN yang lain.  "Kenapa, Mas?" sedikit kecewa.  "Tahu sendiri lah, sudah kelas XII. Guru banyak yang cerewet kalau sudah kelas XII tapi banyak meninggalkan pelajaran," jelasmu berusaha bercanda. Aku tertawa. "Tapi kan bisa sepulang sekolah, Mas. Ini rahasia, sebenarnya aku juga tidak pintar-pintar sekali soal PKN. Aku lebih suka Biologi," bisikku bercanda.  Kamu angkat kedua alismu. "Aku tahu. Tunggu, kamu modus ya minta belajar sepulang sekolah biar selalu ketemu sama aku?" tanyamu dan itu membuat otakku berhenti bekerja.  Memang benar, benar sekali. Apakah terlalu terlihat cara modusku? Baiklah, mulai saat ini aku tidak akan modus lagi daripada dicap perempuan murahan. Aku harus sedikit tenang, aku harus menjaga harga diriku, aku harus sadar sampai sejauh mana seorang perempuan mengendalikan perasaanya.  "Tidak, Mas. Bercanda." Kamu tersenyum. "Nanti pulang sekolah aku tunggu di kantin ya?"  "Untuk apa, Mas?"  "Belajar."  "Eh, tidak perlu, Mas. Aku cuma bercanda kok, tidak perlu." "Tapi aku serius."  Debar jantungku justru seperti debar seorang korban pembunuhan sebelum dia dibunuh.  Kamu hanya tersenyum dan meninggalkan aku yang terbujur kaku di depan kelasku.  Aku masih berpikir ajakanmu hanyalah candaan untuk membunuhku, namun sepertinya pikiranku salah. Kamu menungguku di depan kelas dengan ponsel hitam berlayar kuning, kecil. "Mas Dipta," panggilku berjalan pelan.  "Eh, yuk," ajakmu menarik tanganku.  Betapa tingginya kamu menerbangkanku hari ini, Mas. Mau seberapa tinggi lagi agar kamu bisa menjatuhkanku dengan rasa sakit yang tidak lagi dapat dijelaskan? Aku terlalu takut terbang tinggi, sebab biasanya laki-laki memang begitu.. Menaikkan perempuan pada pesawatnya, mengajaknya terbang tinggi ribuan kaki dari permukaan tanah, lalu memaksa perempuan itu jatuh tanpa parasut atau pengaman apapun. Aku masih terlalu kecil untuk terbang tinggi dan dihempaskan tak manusiawi.  Di kantin yang pemiliknya saja hendak pulang, kita berdua belajar PKN ala kadarnya. Mengapa? Maaf, jika sebenarnya aku tidak fokus dengan apa yang kamu ajarkan. Aku hanya sibuk bertanya dalam hati, mengapa orang yang putih juga tidak, bentuk wajah simetris juga tidak tapi terkesan memiliki kharismatik yang tinggi? Apa yang membuat seorang Adipta Prastiyo begitu kharismatik? :"Makasih ya, Mas." Mengangguk.  "Belajar yang rajin ya? LCC sebentar lagi," katamu mengusap kepalaku dengan kepalaku di bawah bahu. Aku menatapmu dengan binar.  "Mau aku antar?"  Harus seberapa tinggi lagi kamu menerbangkan aku yang lemah ini, Mas? "Yuk," ajakmu menarik tanganku lagi.  Aku butuh parasut terbaik, agar, seandainya kamu menjatuhkanku, aku dapat mendarat dengan sempurna tanpa luka yang begitu menganga.  Sore ketika senja mulai menghilang, kamu benar-benar mengantarku ke rumah, menjabat tangan ibuku dan itu adalah puncak tertinggi aku takut akan terjatuh.  Harapanku masih sama, tidak begitu terluka dan terlampau jauh berhalusinasi. Boyolali, 7 September 2002 Penumpang Pesawatmu,  Kartika Rahma Sakia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD