Jejak Kuno dan Bisikan dari Masa Lalu

1316 Words
Hutan Gunturwana kembali diselimuti ketenangan, namun kali ini, ketenangan itu terasa lebih dalam, sarat dengan sisa-sisa energi yang baru saja dilepaskan dan trauma pertempuran yang baru usai. Cahaya fajar yang mulai merayap di antara kanopi dedaunan menyoroti puing-puing pertempuran—pohon-pohon yang hangus, jejak kaki yang dalam di tanah lembap, dan bau ozon yang masih tercium samar dari sambaran petir keperakan Reyshard. Kemenangan itu terasa pahit, sebuah proklamasi kekuatan yang baru bangkit, namun juga sebuah undangan terbuka bagi ancaman yang lebih besar. Reyshard bersandar pada menhir kuno, napasnya masih tersengal, namun matanya yang keperakan kini memancarkan api yang membara, bukan lagi kebingungan. Ia merasakan setiap denyut energi di sekelilingnya, setiap bisikan angin yang melintasi dedaunan, seolah hutan itu sendiri kini berkomunikasi dengannya. Kekuatan yang ia lepaskan tadi adalah sebuah ledakan liar, sebuah respons insting yang belum sepenuhnya ia pahami, namun ia tahu, ia telah melampaui batas yang tak pernah ia sangka. Ansel memeriksa Reyshard, menelusuri auranya dengan cermat. Ia melihat untaian energi keperakan yang kini jauh lebih padat dan stabil, namun juga menyadari adanya kerentanan baru. "Energinya telah menyatu, Rey. Kau adalah saluran yang kuat. Tapi ada harga yang harus dibayar." "Harga apa?" tanya Reyshard, suaranya parau. "Setiap kali kau memanggil kekuatan sebesar itu, garis batas antara dirimu dan dunia astral semakin menipis. Ini bisa membuatmu lebih rentan terhadap serangan dari entitas yang lebih kuat. Atau, lebih buruk, memicu kebangkitan sesuatu yang seharusnya tetap terkunci." Ansel menatap menhir di belakang Reyshard. "Seperti yang ada di balik ini." Theo, yang masih memegang Pisau Warisan Nyi Randa dengan erat, menghampiri mereka. Wajahnya pucat pasi, namun ada kilatan kegembiraan yang mengerikan di matanya. "Kita berhasil, Rey. Mereka kabur seperti pengecut." Ia melihat ke arah jejak-jejak Ravana yang menghilang ke dalam hutan. "Tapi mereka akan kembali. Mereka tidak akan menyerah pada 'kunci' sepertimu." Reyshard mengangguk. "Aku tahu. Mereka sudah menciumku. Dan Nayaka... dia pasti telah merasakan kekuatanku." Ansel kemudian menarik Reyshard menjauh dari menhir, membawanya ke bagian belakang pelataran batu. "Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya disegel di balik ini. Kitab ibumu mungkin memiliki jawabannya." Mereka berdua duduk bersila di tanah, sementara Theo dan para pengawal berjaga di sekeliling mereka. Reyshard membuka kitab tua ibunya. Halaman-halaman yang biasanya terasa dingin kini memancarkan kehangatan samar di bawah sentuhannya. Ia membalik-balik halaman dengan cepat, mencari simbol-simbol atau petunjuk yang bisa menjelaskan apa yang ada di balik menhir. "Pusat Denyut Dimensi... ini bukan hanya sebuah segel," bisik Ansel, menunjuk pada sebuah diagram rumit. "Ini adalah 'Gerbang Penjaga'. Dibangun oleh leluhur Arkava ribuan tahun lalu, untuk mengunci entitas purba yang terlalu kuat untuk berkeliaran di dunia manusia. Entitas yang disebut 'Archon'—pemimpin penjaga dimensi." "Archon?" ulang Reyshard, napasnya tertahan. "Ya. Mereka adalah entitas yang sangat tua dan kuat, bertugas menjaga keseimbangan dimensi. Tapi beberapa dari mereka telah memberontak, terkorupsi oleh kekuatan gelap, dan berusaha untuk menguasai dunia manusia. Gerbang ini adalah penjara bagi salah satu Archon yang memberontak." "Dan Nayaka ingin melepaskannya?" "Bisa jadi. Atau, lebih buruk lagi, ia ingin mengendalikannya. Jika Archon sekuat itu jatuh ke tangan Nayaka, kita tidak akan punya harapan." Reyshard mengamati diagram itu lebih cermat. Ada tulisan tangan samar di pinggir halaman, sebuah tulisan yang ia kenali sebagai tulisan ibunya. "Jangan bangkitkan sebelum waktunya. Kekuatan yang melampaui batas kehendak manusia. Hanya darah Ardanalah yang bisa memimpinnya, atau mengikatnya selamanya." "Ibuku adalah bagian dari ini," gumam Reyshard. "Dia tidak hanya menyegelnya, tapi dia juga Pendeta Agung Arkava yang mengawasi gerbang ini." "Dan mungkin dia adalah orang yang terakhir kali berinteraksi dengan Archon itu," tambah Ansel. "Ada jejak energi kuno yang terukir di menhir. Energi yang mirip dengan aura ibumu." Reyshard berdiri, ia berjalan kembali ke menhir. Ia meletakkan tangannya di atas batu itu, memejamkan mata, dan membiarkan energi yang baru bangkit dalam dirinya mencoba berkomunikasi dengan jejak-jejak masa lalu. Visi datang. Ia melihat kilasan-kilasan cepat. Ibunya, Sri Ardana, dengan jubah putih bersih, sedang melafalkan mantra-mantra kuno di depan menhir yang sama. Wajahnya dipenuhi tekad, namun juga ada gurat kesedihan yang mendalam. Kemudian, visi itu beralih. Ibunya berbicara dengan suara yang penuh penyesalan kepada sesuatu yang tak terlihat di dalam menhir. "Aku tak punya pilihan, kawan lama. Kau telah melampaui batas. Aku harus mengikatmu kembali, demi keseimbangan." Lalu, terdengar suara gemuruh yang dahsyat, disusul jeritan yang mengerikan, bukan dari manusia, melainkan dari entitas purba yang terperangkap. Ada kilatan cahaya, dan menhir itu bergetar, seolah menyegel sesuatu yang begitu kuat hingga alam pun merespons. Visi itu memudar, meninggalkan Reyshard terengah-engah, tubuhnya gemetar. Ia tahu, ibunya telah menyegel Archon itu. Dan ia telah melakukannya dengan harga yang mahal. "Ibuku menyegelnya," kata Reyshard, matanya menatap Ansel. "Tapi ia melakukannya dengan terpaksa. Archon itu... sepertinya dulunya adalah sekutu Arkava." "Sebuah pengkhianatan, atau sebuah kehancuran?" tanya Ansel. "Aku tidak yakin. Tapi ia menyebutnya 'kawan lama'." Hening melingkupi mereka, hanya diselingi suara desiran angin di antara pepohonan. Theo dan para pengawal menjaga jarak, memberikan ruang bagi Reyshard dan Ansel untuk menyelami misteri kuno ini. Tiba-tiba, Ansel merasakan aura dingin yang menusuk. Ia menoleh, matanya menyipit. "Kita tidak sendirian." Dari kedalaman hutan, munculah sesosok entitas yang melayang. Wujudnya samar, seperti kabut yang bergerak, namun matanya—dua titik merah menyala—memancarkan kecerdasan dan kekuatan. Itu bukan entitas rendahan seperti yang dikirim Klan Ravana. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat. "Kau telah menemukan jejaknya, pewaris," suara entitas itu menggema langsung di benak mereka, bukan hanya di telinga. Suaranya terdengar kuno, serak, seperti pasir yang bergesekan. "Jalur menuju kebenaran selalu berliku. Dan kau telah melangkah lebih jauh dari yang seharusnya." Reyshard melangkah maju, tangannya siap. "Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" "Aku adalah 'Penjaga Batas'," jawab entitas itu, wujudnya sedikit mengental, menampilkan detail-detail yang mengerikan: tubuh panjang tanpa kaki, tangan yang menyerupai ranting-ranting pohon yang mengeras, dan wajah tanpa fitur kecuali dua mata merah yang menyala-nyala. "Aku adalah pengawas antara alam. Dan kebangkitanmu, Reyshard Mahendra, telah menyebabkan riak yang mengancam keseimbangan." "Aku tidak bermaksud mengancam keseimbangan," bantah Reyshard. "Aku hanya ingin menghentikan Nayaka dan membebaskan diriku dari kutukan." "Kutukanmu hanyalah benang kecil dalam permadani besar takdir," kata Penjaga Batas itu. "Nayaka adalah bidak. Archon adalah kepingan catur yang lebih besar. Dan kau... kau adalah kuncinya. Kunci yang dapat membuka pintu-pintu yang seharusnya tetap tertutup." "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Penjaga Batas itu tertawa dingin. "Kau tak punya pilihan, pewaris. Garis takdir telah retak. Celah telah terbuka. Dan kekuatan yang lebih tua dari Arkava sendiri sedang bangkit. Kau akan ditarik ke dalam badai ini, suka atau tidak." Ia kemudian menunjuk ke arah Theo dan para pengawal. "Teman-temanmu... mereka adalah pengganggu. Mereka mengotori simpul energi dengan keberadaan fisik mereka. Mereka harus disingkirkan." Ansel segera melangkah di depan Theo, mengangkat tangannya. "Jangan! Mereka tidak bersalah. Mereka hanya ikut membantu." "Kesucian tidak relevan di medan perang takdir," balas Penjaga Batas. "Keseimbangan harus ditegakkan. Dan pengganggu harus disingkirkan." Dari tubuh Penjaga Batas, untaian bayangan tipis melesat cepat ke arah Theo dan para pengawal. Reyshard bereaksi instan. Ia mengulurkan tangannya, dan perisai keperakan yang lebih kuat dan padat muncul, menghadang serangan itu. Bayangan-bayangan itu membentur perisai dengan desisan, namun kali ini, mereka terpental mundur, tidak mampu menembus pertahanan Reyshard. Penjaga Batas menatap Reyshard dengan sedikit keterkejutan. "Kekuatan yang lebih cepat dari yang kuduga. Warisan Sri Ardana memang luar biasa." "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mereka!" teriak Reyshard, auranya bergelora, menantang entitas purba itu. "Ini hanya peringatan, pewaris," kata Penjaga Batas, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Kau harus memilih pihak. Dan pilihanmu akan menentukan apakah alam ini akan selamat... atau hancur di tanganmu sendiri." Dengan itu, Penjaga Batas menghilang, larut ke dalam kabut hutan yang masih menggantung. Kepergiannya meninggalkan jejak dingin yang menusuk, sebuah janji tentang konflik yang tak terhindarkan. Reyshard terengah-engah, namun matanya tetap menyala penuh tekad. Ia tahu, perjalanannya baru saja dimulai. Ia tidak hanya harus menghadapi Nayaka, tapi juga entitas-entitas purba yang menjaga keseimbangan alam, dan mungkin, bahkan takdirnya sendiri yang telah ditentukan. Ia adalah kunci. Dan kunci itu akan membuka pintu yang selama ini tersembunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD