Badai Astral dan Perisai Sang Penjaga

1302 Words
Udara di area gerbang luar Situs Gunturwana menegang, sarat dengan ketegangan yang nyaris bisa diraba. Pertemuan antara Reyshard, Ansel, Theo, dan Klan Ravana bukanlah sekadar konfrontasi, melainkan sebuah deklarasi perang yang tak terhindarkan, sebuah tabrakan antara kekuatan purba dan ambisi manusia yang terselimuti kegelapan. Pepohonan di sekeliling mereka, yang selama ini menjadi saksi bisu keabadian hutan, kini seolah menahan napas, menanti dentuman pertama. Pemimpin Klan Ravana, seorang pria bertubuh kurus namun memancarkan aura mengintimidasi yang sangat pekat, melangkah maju. Matanya yang merah menyala menatap Reyshard dengan perpaduan antara keserakahan dan kebencian. Di belakangnya, beberapa entitas astral—penjaga-penjaga yang telah diikat dengan mantra-mantra keji—mulai mengambil wujud yang lebih solid: bayangan-bayangan mengerikan dengan cakar tajam dan suara geraman yang menggema langsung di benak, bukan di telinga. "Jadi, pewaris Arkava akhirnya menunjukkan diri," desis suara serak pemimpin Ravana, yang bernama Kresna, bergema di antara pepohonan. "Kami telah menunggumu. Darahmu... adalah kunci yang akan membuka semua yang kami butuhkan." Reyshard berdiri tegak di depan menhir, seolah batu kuno itu sendiri adalah bagian dari dirinya. Aura keperakannya kini memancar lebih jelas, sebuah medan energi yang secara insting menolak pengaruh gelap Klan Ravana. "Aku bukan kuncimu. Aku adalah penjaga. Dan aku tidak akan membiarkanmu menodai tempat ini." Ansel melangkah sedikit ke samping Reyshard, pisau ritualnya tergenggam erat. Ia tahu, pertempuran ini bukan hanya pertarungan fisik. Ini adalah duel aura, pertarungan kehendak, di mana setiap mantra dan setiap niat buruk dapat meninggalkan luka yang tak tersembuhkan pada jiwa. "Fokus, Rey," bisiknya. "Jangan biarkan mereka menarikmu ke dalam kemarahanmu." Theo, di sisi lain, menggerakkan para pengawal. Mereka membentuk formasi bertahan, senjata mereka teracung, namun ekspresi di wajah mereka menunjukkan bahwa mereka tahu kekuatan yang mereka hadapi melampaui peluru dan baja. Bisikan-bisikan astral dari entitas Ravana yang mendekat, memanipulasi ketakutan, mulai merasuki pikiran beberapa pengawal, membuat mereka gemetar dan nyaris menjatuhkan senjata. Kresna mengangkat tangannya. Telapak tangannya dihiasi simbol-simbol goresan darah yang berkedip-kedip redup. Ia mulai melafalkan mantra dalam bahasa yang memutar, sebuah bahasa yang terasa menjijikkan bagi jiwa. Udara di sekitar mereka mendadak dingin, seolah es mencengkeram paru-paru. Dari entitas-entitas di belakang Kresna, untaian bayangan tipis terulur, mencoba merasuki jiwa Reyshard dan para pengawal. Reyshard merasakan sensasi itu—seperti ribuan jarum es menusuk ke dalam auranya, mencoba menguras energi dan menginduksi kepanikan. Namun, ia tidak mundur. Kekuatan yang telah menyatu dengannya di Situs Gunturwana membalas, sebuah gelombang energi hangat yang menghalau serangan dingin itu. "Penjaga!" teriak Reyshard, suaranya kini bergema, bukan hanya dari tenggorokannya, melainkan dari kedalaman jiwanya. Ia mengangkat tangannya, dan dari liontinnya, cahaya keperakan yang lebih kuat meledak, membentuk perisai semi-transparan yang membentengi dirinya, Ansel, Theo, dan para pengawal. Perisai itu berdenyut, menahan serbuan bayangan. Entitas-entitas Ravana meraung kesal, terhalau oleh energi suci perisai itu. Kresna menyipitkan mata, ekspresinya dipenuhi kekecewaan. "Kekuatan yang menarik. Tapi belum matang!" Ia kemudian melemparkan sebuah kantung kulit kecil ke tanah. Dari kantung itu, muncullah cairan hitam pekat yang menyebar cepat, membentuk kolam berlendir yang memancarkan bau busuk. Dari dalam kolam itu, bangkitlah sesosok entitas yang lebih besar dan mengerikan: Gargoyle Astral, makhluk gaib yang terbuat dari materi mimpi buruk, dengan sayap membran tipis dan mata merah menyala. Ia meraung, suaranya memekakkan telinga, dan tubuhnya memancarkan gelombang ketakutan yang instan. Beberapa pengawal menjerit, mundur dalam kepanikan. Ansel langsung bereaksi. Ia mengangkat pisau ritualnya dan dengan cepat menggoreskan simbol rumit di udara, membentuk segel penenang yang mengalirkan energi penawar ke arah para pengawal. Aura ketakutan yang menyelubungi mereka sedikit mereda, memungkinkan mereka untuk kembali mengendalikan diri. "Gargoyle itu pemakan energi!" seru Ansel pada Reyshard. "Jangan biarkan ia mencapai perisai!" Reyshard memejamkan mata sejenak, memusatkan kekuatan barunya. Ia bisa merasakan energi yang kini mengalir dalam dirinya, sebuah simfoni kekuatan yang luar biasa. Ia mengulurkan tangannya ke arah Gargoyle itu, dan dari telapak tangannya, untaian cahaya keperakan yang lebih padat melesat, memukul tubuh astral makhluk itu. Gargoyle Astral itu menjerit, tubuhnya bergetar dan mulai berasap. Kekuatan Reyshard, yang murni dan baru bangkit, bertabrakan langsung dengan esensi kegelapan Gargoyle, menyebabkannya menderita. Namun, makhluk itu tidak hancur sepenuhnya. Ia mundur, menghantam beberapa pohon, dan melayang di udara, matanya masih merah menyala. "Dia lebih kuat dari yang kita duga," gumam Reyshard. Kresna tersenyum keji. "Itu hanya permulaan, bocah. Kau tak tahu siapa yang sebenarnya kau hadapi." Ia kemudian mengeluarkan sebuah guci kecil dari balik jubahnya, guci yang terbuat dari tulang dan diikat dengan rambut manusia. Ia memecahkan guci itu di tanah, dan dari dalamnya, muncullah lima siluet hitam yang melesat cepat, bergerak dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. "Mereka adalah Pembunuh Jiwa," teriak Ansel, suaranya tegang. "Mereka tidak memiliki bentuk fisik. Mereka melukai jiwa, bukan tubuh! Perisai mungkin tidak sepenuhnya melindungi!" Kelima siluet itu melesat melewati perisai keperakan Reyshard seolah tak terhalang. Mereka menargetkan Ansel dan Theo, karena merekalah yang paling rentan terhadap serangan astral. Theo segera bereaksi. Ia mengeluarkan Pisau Warisan Nyi Randa dari balik sepatu botnya. Bilah pisau itu, yang memancarkan cahaya biru kehijauan, berdenyut saat ia mengacungkannya. Siluet pertama yang mendekat ke arah Theo langsung dihadang oleh bilah pisau, dan dengan sebuah desis, siluet itu mengerang kesakitan dan mundur, sedikit melemah. "Lumayan juga mainanmu, Rey!" teriak Theo, semangatnya kembali bangkit. Ia mengayunkan pisau itu dengan gerakan cepat, menangkis siluet-siluet lainnya yang mencoba mendekat. Ansel, meskipun tidak memiliki senjata fisik yang sama, mengandalkan pengetahuan spiritualnya. Ia melafalkan mantra dengan kecepatan tinggi, menciptakan perisai resonansi yang bergetar di sekelilingnya. Ketika siluet kedua mencoba merasukinya, ia merasakan sakit yang tajam, namun perisai resonansi itu membalas dengan gelombang energi yang menyebabkan siluet itu terpental mundur, wujudnya sedikit memudar. Reyshard, di tengah perisai keperakannya, melihat teman-temannya berjuang. Kekuatan yang ia miliki begitu besar, namun ia masih belum bisa mengendalikannya dengan presisi. Ia mencoba memusatkan fokusnya, mencoba menarik energi dari sekelilingnya, dari hutan itu sendiri. Visi Ibunya kembali muncul di benaknya—Sri Ardana yang berdiri di tengah lingkaran batu yang sama, tangannya terulur ke arah langit, memanggil petir dari elemen. "Panggil energi elemental, Rey!" bisik suara ibunya di benak Reyshard. "Darahmu adalah jembatan!" Reyshard menarik napas dalam. Ia menutup mata, mengabaikan teriakan dari pertempuran di sekitarnya. Ia mengulurkan tangannya ke arah menhir di belakangnya, membiarkan energi kuno batu itu mengalir melalui dirinya. Lalu, ia mengarahkan tangannya ke langit. "Petir dari Langit! Api dari Bumi! Angin dari Barat! Air dari Timur! Bersatu di bawah kehendakku!" rapal Reyshard, suaranya menggema dengan kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Seketiak, langit di atas mereka bergemuruh. Kilat sambaran petir menyambar dari awan gelap yang tiba-tiba terbentuk di atas kanopi hutan. Bukan petir biasa, melainkan petir yang memancarkan cahaya keperakan, sama dengan aura Reyshard. Petir itu menyambar ke arah Gargoyle Astral dan Pembunuh Jiwa. Gargoyle itu menjerit kesakitan, tubuhnya menyusut dan berasap sebelum akhirnya pecah menjadi debu astral. Pembunuh Jiwa pun terhuyung-huyung, wujud mereka semakin memudar di bawah serangan elemen murni. Kresna menatap dengan mata melotot, terkejut. Kekuatan yang dilepaskan Reyshard jauh melampaui perkiraannya. "Tidak mungkin! Kau belum seharusnya bisa memanggil kekuatan seperti ini!" Reyshard terhuyung, energinya terkuras, namun matanya menatap Kresna dengan tekad bulat. "Ini baru permulaan." Kresna menggeram. Ia tahu ia kalah dalam pertempuran ini, untuk saat ini. Ia memberikan isyarat kepada sisa-sisa pasukannya yang masih bertahan. "Mundur! Kita akan bertemu lagi, Reyshard Mahendra! Di saat kau sendiri yang akan datang kepada kami!" Klan Ravana dan sisa entitas mereka menghilang ke dalam kedalaman hutan, meninggalkan jejak energi gelap yang perlahan memudar. Reyshard terengah-engah, tubuhnya lemas. Ansel segera menghampirinya, membantu menopangnya. Theo pun mendekat, wajahnya dipenuhi kekaguman. "Kau... gila, Rey. Lo benar-benar memanggil petir!" kata Theo, napasnya tersengal. "Itu... bukan petir biasa," bisik Ansel. "Itu adalah energi murni yang hanya bisa dipanggil oleh Pendeta Agung Arkava yang telah menyatu dengan warisannya." Reyshard menatap menhir di belakangnya, yang kini memancarkan cahaya keperakan yang stabil. Ia tahu, pertempuran ini hanyalah awal. Lonceng peringatan telah berdentang, dan kini, garis takdir mereka telah benar-benar retak, siap untuk membentuk jalan baru yang penuh bahaya dan penemuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD