“Sam!” Ana terbangun dengan perasaan terkejut. Mimpi yang dilihatnya barusan terasa sangat nyata. Keringat dingin terasa membasahi pajamanya. Sosok Sam dalam mimpi tampak sangat dingin. Dia pergi meninggalkan Ana dengan tatapan muak seolah sudah tidak ingin bertemu lagi dengannya. Sembari terus mengabaikan panggilan Ana, Sam berjalan cepat menuju ke dalam pesawat sembari menggerek kopernya yang cukup besar. Ana merasa takut kalau hal itu benar-benar akan jadi nyata. Meski dia tahu Sam tak lama lagi pasti akan pergi untuk memulai studi di Perancis, tapi dia berharap bisa menyudahi masalah yang ada sebelum itu terjadi. Akan tetapi, sudah hampir tiga hari berlalu sejak pertemuannya dengan Sam di tempat Remy. Sejak saat itu pula S

