Hari yang ingin secepatnya Ana lewati pun tiba. Seusai bekerja, Remy langsung membawa Ana ke sebuah salon untuk bersiap. Bahkan Ana tidak berhenti merasa cemas dari sejak sampai di salon. “Na… kamu bukan mau pentas, tidak perlu setegang itu,” ucap Remy yang juga sedang didandani—di samping Ana. “Aku sendiri gak ngerti kenapa harus ngerasa setegang ini. Kamu tahu gak, sewaktu di rumah aku mecahin gelas. Terus di kantor, mecahin gelas lagi. Ini pasti pertanda buruk!” “Hei… relax… kamu cuma lagi overthinking. Tidak aka nada hal buruk apa pun. Akan aku pastikan supaya kamu baik-baik saja, oke?” “Oke…” Seharusnya Ana memang mengikuti instingnya. Karena semua perasaan khawatir yang dia rasa memang awal dari terjadinya se

