Albert refleks berusaha merebut kembali masker dan topinya dari tangan Flora. Namun Flora sudah lebih dulu turun dari ranjang. Ia berdiri tegak tepat di hadapan Albert, jarak mereka begitu dekat hingga napas keduanya saling bersinggungan. “Apa maksud semua ini, Albert?” Suara Flora bergetar, bukan karena lemah melainkan karena menahan luka yang terlalu dalam untuk ditumpahkan sekaligus. Tatapannya tajam, menusuk, seolah ingin merobek kebenaran dari wajah pria di hadapannya. “Kenapa kau mengurungku di tempat ini?” lanjutnya lirih. “Bukankah kau orang yang paling aku percaya?” Albert terdiam. Untuk sesaat, sorot matanya bergetar ketika bertemu dengan mata Flora yang basah namun tegar. Namun detik berikutnya, ekspresi itu mengeras dingin, tertutup. Flora melempar masker dan topi itu

