“Mama sebenarnya sudah menduganya,” ucap Meyla lirih. Suaranya tenang, terlalu tenang seolah ia telah lama menyimpan kecurigaan itu sendirian. “Albert bukan anak yang polos seperti yang selama ini ia tunjukkan. Dia pasti sudah mengatur semuanya sejak awal.” Vincent menatap sang ibu, matanya bergetar, bukan karena marah, melainkan karena runtuh. Ada luka yang perlahan terbuka di dadanya luka yang bahkan tidak ia sadari keberadaannya. “Salah aku apa, Mah?” suaranya serak, nyaris berbisik. “Kenapa Albert setega itu sama aku? Aku kakaknya … aku darah dagingnya sendiri.” Nada suaranya sarat ketidakpercayaan, seolah otaknya menolak menerima kenyataan bahwa pengkhianatan itu datang dari orang yang selama ini ia lindungi. Tangannya mengepal di atas selimut, gemetar hebat. Bukan karena ingin

