Bab-5. Noda merah
Malam itu, Vincent mengasingkan diri di sebuah villa pribadinya, yang hanya diketahui olehnya dan asistennya. Suasana hening menyelimuti villa mewah itu, hanya suara detak jam dan hembusan angin malam yang terdengar samar.
“Tuan, Bibi Rose memberi laporan … bahwa Tuan Albert sering berkunjung ke rumah dan menemui Nyonya Flora,” suara asistennya terdengar tenang namun tegas, menembus kesunyian villa.
Vincent saat itu sedang menatap foto Flora di ponselnya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis namun matanya tetap serius.
“Bukankah itu hal yang wajar? Albert selalu datang untuk menghibur istriku,” jawab Vincent, mencoba terdengar santai.
Meski begitu, ia sendiri menyadari hatinya kerap terbakar cemburu ketika melihat kedekatan sang istri dengan Albert, adik kandungnya sendiri.
“Namun kali ini berbeda, Tuan. Nyonya Flora dan Tuan Albert sering membahas masalah perceraian. Bibi sempat melihat Nyonya Flora menyerahkan berkas kepada Tuan Albert. Bibi curiga berkas itu merupakan persyaratan untuk kemajuan perceraian,” lanjut asistennya dengan nada serius.
Degh! Tubuh Vincent seketika tegang. Ketegangan yang menyergapnya membuat napasnya terhenti sejenak. Selama ia mengasingkan diri, Vincent berusaha memantapkan hati untuk tidak menceraikan sang istri. Namun kini, semua rencana dan ketenangan yang ia pikir telah dikendalikan berantakan. Ia sendiri belum bisa memastikan apakah yang ia rasakan adalah cinta, atau sekadar ingin menyelamatkan pernikahan yang telah berjalan satu tahun.
“Apakah Bibi Rose benar-benar mengetahui tentang perceraian itu?” tanya Vincent, suaranya terdengar serak, menandakan kekhawatirannya.
“Tidak, Tuan. Bibi hanya berpesan agar Tuan segera kembali. Jika Tuhan masih ingin menyelamatkan pernikahan Tuan dan Nyonya Flora, segeralah kembali sebelum semuanya terlambat,” jawab asistennya, menatap Vincent dengan mata penuh perhatian.
Vincent menunduk, menatap ponsel yang memajang foto Flora. Diam-diam, ia menyadari betapa dalam perasaan yang selama ini ia simpan untuk istrinya. Detik demi detik terasa hening, sebelum akhirnya Vincent bergerak cepat. Ia meraih ponsel dan kunci mobilnya, lalu berlari keluar, langkahnya tergesa-gesa, jantungnya berdegup kencang.
Di dalam mobil, Vincent terus menekan tombol panggilan, memanggil nama Flora. Panggilan pertama … kedua … hingga panggilan kesepuluh, Flora tak sekalipun mengangkat.
Hatinya semakin gelisah.
“Astaga … apa dia benar-benar ingin bercerai dariku? Bukankah dia mencintaiku? Apa mungkin dia sungguh-sungguh tak ingin memperjuangkan pernikahan ini?” batin Vincent bergemuruh, seolah seluruh pikirannya kacau balau.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, tak lagi memperhatikan lampu jalan atau lalu lintas. Marah dan cemas bercampur aduk di dadanya.
“Albert ... awas saja kau! Jika benar-benar kau membantu istriku mengurus perceraian itu ...” gumam Vincent, matanya menatap lurus ke depan, penuh amarah dan rasa takut kehilangan sekaligus.
Sesampainya di rumah, Vincent langsung melihat mobil Albert terparkir di halaman. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa mematikan mesin terlalu lama, ia turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Dari balik pintu ruang keluarga, samar-samar terdengar percakapan yang membuat langkahnya terhenti.
“Iya, minggu depan adalah sidang pertama perceraian kalian. Akan jauh lebih cepat jika Vincent tidak hadir,” suara Albert terdengar tenang saat menjelaskan.
Sejenak Vincent membeku.
“Sepertinya Vincent memang tidak akan datang,” sahut Flora dengan suara tegas terlalu tegas untuk seseorang yang hatinya sedang terluka.
“Dia sangat menginginkan perceraian ini. Sama sepertiku. Aku sudah muak mencintai seseorang yang tak pernah menjadikanku tuan di hatinya.”
Albert menghela napas pelan.
“Aku harap kamu segera bebas dari pernikahan yang lebih mirip neraka itu.”
“Dasar adik sialan!”
Suara Vincent menggelegar, memotong percakapan mereka dengan keras. Flora dan Albert sontak berdiri, menoleh ke arah Vincent yang berdiri di ambang pintu dengan mata menyala, amarahnya nyaris meledak.
Tanpa memberi kesempatan bicara, Vincent menarik Albert dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.
“Hentikan!” teriak Flora panik.
“Berani-beraninya kau membantu istriku mengurus perceraian!” bentak Vincent, tangannya terus menghantam tubuh Albert tanpa ampun.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
“Vincent, hentikan! Kau bisa melukainya!” Flora berusaha melerai, menarik lengan Vincent dengan sekuat tenaga.
Namun tindakannya justru memperkeruh keadaan.
“Kau lebih membelanya daripada aku suamimu sendiri?” suara Vincent bergetar, antara marah dan terluka.
Flora menatapnya. Tidak ada lagi ketakutan di matanya, hanya kepedihan yang telah lama tertimbun.
“Istri?” Flora tertawa lirih, getir. “Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan aku dianggap istri? Sejak kapan kau mengakuiku? Dan sejak kapan kau merasa punya hak atas diriku?”
Matanya berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tegas.
“Kau sendiri yang menjadikanku orang asing. Aku sudah berusaha menjadi seseorang yang berarti dalam hidupmu, tapi apakah kau pernah benar-benar melihatku?” Flora menggeleng pelan dengan senyum pahit. “Di matamu aku selalu w************n. Kau menghakimiku tanpa pernah membuktikan apa pun.”
“Security!” teriak Vincent dengan suara menggelegar.
Dua orang petugas keamanan segera masuk.
“Iya, Tuan.”
“Keluarkan dia dari ruangan ini. Jangan biarkan dia kembali ke sini,” perintah Vincent sambil menatap Albert dengan mata penuh amarah.
Lalu tatapannya beralih pada Flora tajam, terbakar oleh cemburu yang selama ini ia pendam.
“Ikut aku,” katanya dingin.
Vincent mencengkeram tangan Flora dan menyeretnya menaiki tangga menuju lantai dua.
“Vincent, lepaskan aku!” Flora berusaha melepaskan diri.
Namun Vincent justru mempercepat langkahnya. Sesampainya di koridor lantai dua, ia mengangkat tubuh Flora begitu saja.
“Vincent! Lepaskan!” Flora meronta, jantungnya berdegup tak karuan.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan aku menuduhmu tanpa pembuktian?” suara Vincent rendah, membuat tubuh Flora menggigil.
Tubuh Flora dilemparkan ke atas ranjang. Ia menatap Vincent dengan wajah pucat, panik melihat pria itu membuka kancing kemejanya.
“Vincent … apa yang ingin kau lakukan?” suaranya bergetar.
Vincent menatapnya dalam-dalam, rahangnya mengeras.
“Aku akan membuktikannya,” ucapnya dingin. “Sekali ini saja.”
Darah Flora serasa membeku.
**""**""**
Vincent menggulingkan tubuhnya ke samping, menjauh dari Flora, setelah ia merenggut haknya sebagai seorang suami dengan cara yang tak pernah diinginkan istrinya.
Flora tak bergerak. Tubuhnya kaku, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Air mata mengalir perlahan di kedua pipinya tanpa suara, tanpa isakan, seolah seluruh perasaannya telah terkunci dalam diam.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.
Vincent ikut terdiam, napasnya berat. Namun tiba-tiba tubuhnya tersentak ketika kesadarannya sepenuhnya kembali. Tangannya bergerak, menarik sedikit selimut yang menutupi tubuh Flora. Saat itulah matanya menangkap noda merah di seprai.
Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Ia menoleh menatap Flora dengan mata membesar, suaranya bergetar saat bertanya,
“Kamu … masih peraw*n?”
Tak ada jawaban.
Flora tetap diam, menatap lurus ke depan, seolah dunia telah berhenti baginya.
Vincent segera menarik selimut, menutupi seluruh tubuh Flora dengan tergesa, seakan ingin menghapus kesalahan yang tak bisa ditarik kembali. Tangannya gemetar saat ia meraih tubuh istrinya dan menariknya ke dalam pelukan.
Flora tak melawan. Tapi juga tak membalas.
Rasa bersalah menghantam Vincent tanpa ampun. Dadanya sesak, tenggorokannya tercekat. Ia mendekap Flora erat, seolah pelukan itu bisa memperbaiki kehancuran yang telah ia ciptakan.
“Maafkan aku …” bisiknya lirih.
Bibirnya mengecup kening Flora lama terlalu lama sebelum ia menarik tubuh istrinya lebih dekat, menempelkannya ke d**a, mencoba memberikan kehangatan dan rasa aman yang datang terlambat.
Namun di dalam pelukan itu, Flora tetap dingin.
Dan Vincent tahu sesuatu telah hancur malam ini, sesuatu yang tak akan pernah bisa kembali seperti semula.