Vincent terbangun perlahan, matanya masih terpejam setengah saat sisa-sisa kehangatan tubuh sang istri masih terasa di sisinya.
Satu tahun lamanya Flora hanya ia anggap sebagai pajangan hadir tanpa benar-benar ia lihat. Namun pagi ini berbeda. Ada sesuatu yang tertinggal di dadanya, hangat sekaligus mengusik.
Tubuhnya menggeliat malas. Ia berbalik ke sisi ranjang, hendak meraih dan menyapa wajah polos yang sejak semalam entah bagaimana mulai menjelma candu baginya. Namun tangannya hanya menyentuh udara kosong. Tidak ada tubuh. Tidak ada kehangatan. Hanya bantal dingin dan guling yang tergeletak tak bernyawa.
Vincent tersentak duduk.
Pandangan matanya langsung menyapu sekeliling kamar, lalu berhenti pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
“Semoga Flora ada di sana,” batinnya, tanpa sadar menyimpan harap.
Ia segera bangkit, meraih pakaian yang semalam ia lempar sembarangan. Namun niat itu urung. Vincent hanya mengenakan celana boxer, lalu melangkah pelan ke arah kamar mandi. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi sesuatu yang belum siap ia terima.
Tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah sebelum akhirnya mengetuk pintu.
“Tok … tok … tok …”
Hening.
Tak ada suara. Bahkan gemericik air pun tak terdengar.
“Flora? Kamu di dalam?” panggilnya, suaranya lebih pelan dari yang ia kira.
Tak ada jawaban.
Dengan napas tertahan, Vincent mendorong pintu kamar mandi. Pintu itu terbuka dengan mudah dan kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Jantung Vincent berdegup kencang, dadanya terasa sesak oleh kegelisahan yang tiba-tiba menyeruak.
Untuk pertama kalinya, ia dilanda rasa takut kehilangan. Rasa takut yang datang terlambat, tepat saat ia baru menyadari betapa nyamannya keberadaan Flora di sisinya semalam.
“Flora ke mana?” gumamnya pelan.
“Semoga saja dia di bawah … mungkin sedang menyiapkan sarapan,” batinnya, mencoba menenangkan diri dengan harapan yang rapuh.
Ia akhirnya masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Air mengalir di tubuhnya, namun pikirannya terus dipenuhi satu nama. Vincent berharap, setelah ini, ia akan kembali melihat Flora istri yang baru semalam ia sadari tak lagi ingin ia jauhkan dari dirinya.
Vincent menuruni anak tangga dengan langkah tergesa. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang bahkan belum sempat ia pahami sepenuhnya kerinduan yang datang tiba-tiba pada sosok wanita yang selama dua tahun ia abaikan, bahkan ia lukai.
Matanya menyapu ruang makan. Meja itu rapi, terlalu rapi. Tak ada sosok Flora. Tak ada secangkir teh hangat yang biasa disiapkan diam-diam oleh istrinya setiap pagi.
“Bibik …” panggil Vincent, suaranya sedikit meninggi.
Bibi Rose yang sedang membereskan meja segera menoleh.
“Ya, Tuan?”
“Istri saya ke mana?” tanya Vincent, nada suaranya berusaha terdengar biasa, meski kegelisahan sudah merayap ke dadanya.
“Oh, Tuan,” jawab Bibi Rose pelan, “Nyonya Flora tadi saya lihat sudah keluar rumah sejak pagi sekali.”
Deg!
Jantung Vincent berdebar keras, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremasnya tiba-tiba. Rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak menyeruak.
“Dia… bilang mau ke mana, Bi?” tanyanya lagi, kali ini lebih lirih.
Bibi Rose tampak ragu. Ia menunduk sejenak sebelum kembali bicara.
“Tidak, Tuan. Nyonya pergi begitu saja, tapi—”
“Tapi apa?” potong Vincent cepat.
“Maaf, Tuan …” suara Bibi Rose melemah. “Tadi saya melihat Nyonya keluar sambil menangis.”
Deg!
Kali ini lebih menyakitkan.
Vincent terdiam. Napasnya terasa berat. Ingatannya berputar kembali ke malam sebelumnya ringisan Flora, tubuhnya yang kaku, jeritan tertahan, air mata yang jatuh tanpa suara. Semua yang dulu ia abaikan kini menghantamnya tanpa ampun.
“T-tidak …” gumamnya lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Dia tidak akan pergi. Flora terlalu mencintaiku… Aku tidak mau bercerai.”
Tanpa menunggu apa pun lagi, Vincent berlari keluar rumah. Ia membuka pintu mobilnya sendiri, bahkan tak memberi kesempatan sopir membukakan pintu seperti biasa.
“Jalan sekarang,” perintahnya dengan suara tegas namun gemetar. “Ke rumah mertua saya.”
“Ba-baik, Tuan,” jawab sopir gugup sambil segera menyalakan mesin.
Di kursi belakang, Vincent menggenggam ponselnya erat. Jemarinya bergetar saat mengetik nama Flora dan menekan tombol panggil.
Tidak aktif.
Ia mencoba lagi. Dan lagi.
Tetap sama.
“Ya Tuhan …” bisiknya, wajahnya pucat. “Flora, tolong … jangan tinggalkan aku.”
Mobil melaju membelah jalanan pagi, sementara di dalamnya Vincent duduk dengan hati yang kacau untuk pertama kalinya benar-benar menyadari bahwa wanita yang ia anggap hanya sebagai istri pajangan adalah satu-satunya yang kini ia tak sanggup kehilangan.
***""**""***
“Apa kamu sudah yakin, Nak?” tanya Adelle Athalla, ibu kandung Flora, suaranya lirih namun penuh kekhawatiran.
“Hiks … hiks … aku ingin bercerai, Mah,” jawab Flora terisak. Bahunya bergetar, air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan.
Jobart dan Meila saling berpandangan. Sebagai orang tua Vincent, rasa malu dan penyesalan menghantam mereka tanpa ampun. Meila menunduk, matanya berkaca-kaca.
“Maafkan aku, jeng … maafkan kami. Aku gagal mendidik anakku sendiri,” ucap Meila dengan suara bergetar, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah.
Adelle menghela napas panjang.
“Mungkin ini juga salah kami. Kita terlalu memaksakan kehendak. Seharusnya dulu kami tidak memaksa Vincent menikahi Flora,” katanya lirih.
“Tapi aku juga menginginkan perjodohan itu,” sela Jobart Alexander, ayah Vincent. “Aku percaya pernikahan itu akan membawa kebaikan. Nyatanya … aku keliru.”
Suasana ruang tamu dipenuhi keheningan yang berat, hingga suara langkah tergesa memecahnya.
“Flora! Flora!”
Suara Vincent menggema dari arah pintu depan.
“Jaga sikapmu saat berada di rumah orang lain, Vincent!” bentak Jobart dengan suara dingin dan tegas.
“Aku ke sini untuk menjemput istriku,” jawab Vincent lantang. Tatapannya langsung tertuju pada Flora.
Flora tertegun sejenak saat mendengar kata istri. Namun hatinya sudah beku. Tak ada lagi getaran, tak ada lagi harapan.
“Untuk apa kamu menemuinya?” ujar Adelle. “Bukankah ini yang kamu mau? Flora pergi, tidak lagi mengganggumu. Berkas perceraian sudah masuk ke pengadilan. Minggu depan sidang pertama.”
Wajah Vincent menegang. Dadanya naik turun menahan amarah yang membuncah.
“Aku tidak mau bercerai,” katanya tegas sembari melangkah mendekati Flora.
“Ayo pulang. Kita pulang ke rumah kita,” ucapnya, berusaha meraih tangan Flora.
Namun Flora segera menarik tangannya.
“Aku tidak akan pernah kembali ke rumah sialan itu. Rumahku ada di sini bersama orang tua yang benar-benar mencintaiku.”
“Kamu istriku!” bentak Vincent.
“Istri pajangan, maksudmu?” Flora membalas, suaranya dingin namun sarat luka.
“Istri yang tak pernah dianggap? w************n seperti yang selalu kamu tuduhkan padaku?”
Vincent terdiam. Kata-kata itu menghantamnya tanpa sisa pembelaan.
“Aku minta maaf …” suaranya melembut, hampir terdengar putus asa.
“Aku menyesal. Aku tidak ingin bercerai. Aku ingin mempertahankan pernikahan ini … sampai akhir.”
Flora menggeleng. Air matanya mengalir deras.
“Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, Vincent. Aku ingin hidup dengan caraku sendiri.”
“Lalu bagaimana denganku?” potong Vincent.
“Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kamu yang memaksaku. Dan sekarang, setelah aku mulai berusaha, kamu ingin pergi begitu saja?”
Flora mematung. Sesaat kata-kata itu menyentuh relung hatinya, namun tekadnya sudah bulat.
“Apa pun yang terjadi, aku tetap melanjutkan perceraian ini,” katanya tegas.
Ia berbalik hendak pergi, namun Vincent bergerak cepat. Ia meraih tubuh Flora, mengangkatnya tanpa memberi kesempatan untuk melawan.
“Papa! Mama! Tolong aku!” jerit Flora panik.
“Vincent!” Jobart mencoba menghentikannya, namun Vincent tak mengindahkan.
Pintu mobil terbuka keras. Tubuh Flora didorong masuk.
“Aku tidak mau ikut kamu! Aku ingin bercerai!” teriak Flora sambil menangis.
Vincent menutup pintu mobil dengan keras, menatap Flora dengan sorot mata gelap bercampur tekad.
“Jika perceraian ini kamu inginkan saat aku juga menginginkannya dulu, mungkin aku akan mengabulkannya. Tapi sekarang sudah terlambat,” katanya dingin.
“Aku akan menggagalkan perceraian itu. Kita tidak akan pernah bercerai, Flora.”
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah, membawa dua hati yang sama-sama terluka namun dengan kehendak yang saling bertolak belakang.