“Lepas!”
Flora meronta, berusaha melepaskan genggaman tangan Vincent yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Namun Vincent justru semakin menyeretnya menuju kamar.
Tubuh Flora terhempas ke atas ranjang.
“Bugh!”
“Apa maumu sebenarnya, hah?” Flora bangkit dengan napas terengah, matanya merah dan basah.
“Kenapa kamu terus menyiksaku seperti ini?”
Tangisnya pecah. “Aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini. Aku sudah muak, Vincent!”
Suara jeritannya menggema di dalam kamar.
Vincent terdiam, menatap wajah Flora yang basah oleh air mata. Ada sesuatu yang mencabik dadanya saat melihat perempuan itu hancur tepat di hadapannya perempuan yang selama ini ia abaikan, ia sakiti, dan baru sekarang ia sadari betapa berharganya.
Flora berlari ke arah pintu yang belum sempat terkunci. Namun langkahnya terhenti ketika Vincent dengan sigap menarik tubuhnya dari belakang.
Ia memeluk Flora erat, terlalu erat, seolah takut jika dilepaskan sedikit saja, perempuan itu akan benar-benar menghilang dari hidupnya.
“Argh! Vincent!” Flora meronta dalam dekapan itu. “Aku sangat membencimu!”
Tinju kecil Flora menghantam d**a Vincent berkali-kali.
Pukulan-pukulan itu tidak seberapa, namun terasa jauh lebih menyakitkan dari apa pun yang pernah ia rasakan. Vincent memejamkan mata, membiarkan semuanya menghantamnya tanpa balasan.
Ia tahu, ini mungkin ego. Mungkin juga ketakutan.
Namun satu hal yang ia sadari dengan jelas saat ini, ia tak sanggup melepaskan Flora. Tidak lagi.
Vincent masih memeluk Flora ketika napas mereka perlahan mereda. Tubuh Flora kaku dalam dekapan itu bukan karena nyaman, melainkan karena lelah melawan.
“Tetaplah di sini,” bisik Vincent lirih, suaranya terdengar lebih rapuh daripada sebelumnya.
“Aku harus ke kantor. Ada rapat penting yang tak bisa kutinggalkan.”
“Tidak!” Flora kembali meronta, suaranya pecah oleh amarah dan tangis yang tertahan.
“Aku mau pergi dari rumah sialan ini!”
Vincent mengangkat wajah Flora, memaksa tatapan mereka bertemu. Ia menempelkan keningnya ke kening Flora, seolah mencari sisa kehangatan yang hampir punah.
“Aku minta maaf,” ucapnya pelan namun penuh desakan.
“Aku tahu aku salah. Aku benar-benar salah. Tapi aku ingin mempertahankan pernikahan ini. Aku ingin kita bersama… selamanya.”
Kalimat itu yang mungkin dulu akan membuat Flora menangis bahagia kini hanya terasa kosong. Tidak ada lagi getaran. Tidak ada harapan.
“Apa pun yang kau katakan sekarang tidak berarti apa-apa,” jawab Flora dingin.
“Bagiku, kau akan selalu menjadi pria yang paling kubenci.”
Kata-kata itu menghantam Vincent tanpa ampun. Tangannya mencengkeram wajah Flora sedikit lebih keras, matanya memerah menahan perasaan yang berkecamuk.
“Lalu bagaimana denganku, Flora?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka.
“Aku dipaksa menerima pernikahan yang kau inginkan. Aku menyerah, menjalani semua ini tanpa cinta. Dan ketika akhirnya aku ingin mempertahankannya … kau justru ingin pergi?”
Flora menatapnya lama, air mata jatuh tanpa suara.
“Cinta yang selama ini kujaga untukmu sudah mati,” ucapnya lirih namun tegas. “Tidak tersisa apa pun.”
“Tidak mungkin!” Vincent berteriak frustasi.
“Sangat mungkin,” jawab Flora datar.
Vincent terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara yang nyaris runtuh,
“Apa ini karena Albert?”
Flora tidak menjawab.
“Aku mohon,” lanjut Vincent dengan suara memelas.
“Jika cintamu padaku telah mati, biarkan aku yang membuatnya hidup kembali.”
Ia menggenggam tangan Flora dan menariknya ke arah meja kecil di sisi ranjang. Dari dalam laci, Vincent mengeluarkan sebuah borgol benda yang membuat darah Flora seketika terasa dingin.
“Vincent … apa yang akan kau lakukan?” tanya Flora panik.
“Membuatmu tetap di sisiku,” jawabnya singkat, tanpa menatap mata Flora.
Dengan gerakan cepat, Vincent mengaitkan borgol itu ke pergelangan tangan Flora, lalu menautkannya ke tiang ranjang.
Flora menjerit, berusaha melepaskan diri, namun tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melawan.
“Vincent, lepaskan aku!” tangis Flora pecah.
Vincent mendekat, mencium kening Flora dengan getir.
“Aku mencintaimu,” bisiknya, seolah meyakinkan diri sendiri.
Lalu ia berbalik, melangkah keluar kamar, dan mengunci pintu dari luar.
“Vincent! Kembali!” jerit Flora histeris, tangannya terus berusaha melepaskan borgol yang menahan kebebasannya.
Namun yang menjawab hanya keheningan dan kenyataan pahit bahwa cinta yang dipaksakan kini telah berubah menjadi penjara.
***""***""***
“Bik, di mana Flora?” tanya Albert dengan nada panik begitu memasuki ruang tengah kediaman Vincent.
Wajah Bibi Rose tampak pucat. Tangannya gemetar saat menjawab,
“Di atas, Tuan … Nyonya dikunci di dalam kamar.”
Jantung Albert serasa berhenti berdetak. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia langsung berlari menuju lantai atas. Langkahnya tergesa, napasnya memburu.
“Tok! Tok! Tok!” Albert memukul pintu kamar dengan keras. “Flora! Kamu di dalam?”
“Iya … aku di sini!” suara Flora terdengar bergetar dari balik pintu. “Tolong aku, Albert!”
Dada Albert sesak. “Astaga …” gumamnya. Ia berbalik arah, berlari turun kembali. Matanya menyapu lemari kecil di sudut ruangan tempat kunci cadangan biasa disimpan.
“Tuan, Tuan Albert!” Bibi Rose menyusul dengan wajah cemas.
“Tuan Vincent berpesan, tidak boleh ada yang membuka pintu kamar itu.”
“Aku tidak peduli, Bik,” jawab Albert tegas, tanpa menoleh.
Begitu menemukan kunci, Albert langsung berlari kembali ke lantai atas. Ia mencoba satu per satu kunci dengan tangan gemetar.
“Yang ini … bukan. Ini juga bukan,” gerutunya frustasi.
Klik.
“Ah—berhasil!”
Pintu terbuka. Albert terpaku di ambang pintu. Matanya membelalak saat melihat Flora terduduk lemah di atas ranjang, kedua tangannya terborgol pada tiang besi. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya berantakan.
“Ya Tuhan …” suara Albert nyaris tak keluar.
“Albert … tolong aku,” pinta Flora lirih. Suaranya pecah.
Albert segera mendekat. “Ini … Vincent yang melakukan ini?” tanyanya, menahan amarah.
Flora hanya mengangguk pelan.
“Dia sudah benar-benar kehilangan akal,” gumam Albert dengan rahang mengeras.
Tanpa membuang waktu, Albert membuka laci-laci di dalam kamar, mencari kunci borgol. Tangannya gemetar, kepalanya penuh amarah dan kecemasan.
“Di situ …,” ucap Flora pelan, menunjuk ke arah laci kecil di sisi ranjang. “Vincent mengambil borgol itu dari sana.”
Albert segera membukanya. Dan di sanalah kunci kecil itu berada.
“Astaga … syukurlah.”
Dengan tergesa, ia membuka borgol yang membelenggu tangan Flora. Begitu terlepas, Flora langsung menarik tangannya, menahan perih yang masih tersisa.
“Ayo,” ujar Albert lembut namun tegas. Ia meraih tangan Flora. “Kita pergi dari sini. Sekarang.”
Namun langkah Flora terhenti. Ia mematung, pandangannya kosong menatap lantai.
“Flora?” Albert menoleh cemas. “Ada apa? Kita harus segera pergi sebelum Vincent kembali.”
Flora tersentak. “I-iya …” jawabnya lirih, seakan meyakinkan diri sendiri.
Ia melangkah mengikuti Albert keluar dari kamar itu. Namun di setiap langkahnya, hatinya terasa berat. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di ruangan itu bukan cinta, melainkan sisa-sisa luka dan pertanyaan yang belum terjawab.
"Vincent … apakah kau benar-benar mencintaiku?" batinnya pilu.