Pukul sepuluh malam, Vincent akhirnya pulang.
Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu kamar ketika pandangannya jatuh pada satu pemandangan yang membuat dadanya mendadak kosong borgol itu masih tergantung di sisi ranjang. Terbuka. Tak terkunci. Dan … tanpa Flora.
“Flora …” gumamnya lirih.
Ia melangkah masuk dengan napas memburu. Pandangannya menyapu seisi kamar. Ranjang. Kamar mandi.
Balkon Lemari. Semua sudut ia periksa dengan semakin panik. Tak ada siapa pun.
“Flora!” teriaknya, kali ini penuh amarah dan kegelisahan.
Tak mendapat jawaban, Vincent berlari turun ke lantai satu. Langkah kakinya menghantam lantai dengan keras, suaranya menggema di seluruh rumah.
“Bibi!” bentaknya menggelegar, memecah keheningan malam.
“Bibi!”
“I-iya, Tuan …” Bibi Rose berlari tergopoh-gopoh dari dapur, wajahnya pucat pasi, jantungnya berdegup tak karuan.
“Siapa yang membuka pintu kamar itu?!” suara Vincent meninggi, tajam dan menekan.
“Bukankah sudah aku perintahkan agar tidak ada satu pun yang berani membuka pintu itu?!”
Bibi Rose gemetar hebat. Tangannya bergetar, suaranya nyaris tak keluar.
“Ma-maaf, Tu-tuan … t-tadi Tuan Albert … beliau memaksa. Beliau mencari sendiri kunci cadangan kamar …”
Kata-kata itu membuat wajah Vincent mengeras.
Rahangnya mengatup kuat, urat di pelipisnya menegang. Amarah yang sejak tadi ia tahan kini meledak sepenuhnya.
“Kurang ajar …” desisnya.
Dengan mata menyala penuh kebencian, Vincent berbalik dan melangkah cepat menuju pintu depan.
“Akan kuhabisi dia,” geramnya dingin. “Albert tidak berhak mencampuri urusanku.”
Tanpa menoleh lagi, Vincent keluar dari rumah, meninggalkan Bibi Rose yang terduduk lemas di tempatnya, tubuhnya masih gemetar oleh amarah yang baru saja ia saksikan.
Di dalam d**a Vincent, satu perasaan berputar liar takut kehilangan, amarah, dan penyesalan yang kini bercampur menjadi satu.
Vincent baru saja tiba di rumah kedua orang tuanya. Langkah kakinya menggema keras di lantai marmer, seolah membawa amarah dan kepanikan yang tak sempat ia redam.
“Albert …!” suaranya pecah, mengguncang kesunyian rumah besar itu.
“Albert! Keluar kamu, b******n!” teriaknya semakin liar, emosinya tak terkendali. Vincent menaiki anak tangga dengan langkah tergesa, napasnya terengah, wajahnya kusut oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.
“Vincent, ada apa, Sayang?” Meyla keluar dari kamar dengan wajah cemas, disusul Jobart yang langsung mengernyit begitu melihat kondisi putranya.
“Vincent, ada apa?” tanya Jobart tenang, meski dadanya ikut berdebar.
“Pah … Mah … Albert di mana?” suara Vincent bergetar.
“Albert membawa pergi istriku, Mah. Albert menculik Flora!” Kalimat itu meluncur bersamaan dengan air mata yang akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Meyla langsung mendekat, wajahnya memucat. Ia berbisik panik pada suaminya,
“Pah… penyakit Vincent kambuh.”
“Tenang, Mah,” jawab Jobart pelan, berusaha tetap berpikir jernih.
Jobart melangkah mendekat, menatap Vincent dengan penuh kehati-hatian.
“Vincent, duduk dulu, Nak. Kita bicarakan baik-baik.”
“Tidak!” Vincent menolak keras. Tubuhnya gemetar, matanya merah, napasnya berantakan.
“Aku mau istriku kembali, Pah … aku mau Flora … hiks … Albert di mana? Dia membawa istriku pergi!”
Meyla dan Jobart saling pandang, kebingungan dan cemas bercampur jadi satu.
“Albert tidak ada di sini, Nak,” ucap Meyla akhirnya, suaranya lirih.
Kalimat itu justru membuat Vincent semakin panik. Ia menggeleng cepat, matanya liar.
“Tidak … tidak … aku harus mencarinya. Aku harus menemukannya sekarang sebelum dia benar-benar membawa Flora jauh dariku.” Tanpa menunggu jawaban, Vincent berbalik dan berlari menuruni tangga.
“Vincent!” teriak Meyla histeris. “Pah, tahan Vincent!”
Jobart bergegas menyusul, namun belum sempat menjangkau,
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tubuh Vincent terjungkal, berguling menuruni anak tangga dengan bunyi yang mengerikan.
“Vincent!” Meyla dan Jobart berteriak bersamaan.
Meyla berlari menuruni tangga dengan lutut gemetar, Jobart menyusul di belakangnya. Vincent terbaring diam di lantai, tubuhnya terasa remuk, pandangannya mulai kabur.
Dalam kesadarannya yang kian memudar, wajah Flora hadir. Senyumnya lembut, tangannya membelai pipi Vincent dengan penuh cinta seperti dulu, sebelum semuanya hancur.
“Flora … jangan pergi …” bisiknya lirih. “Aku … aku mencintaimu …”
Kata-kata itu terhenti di ujung napasnya. Kelopak matanya perlahan tertutup, meninggalkan kepanikan dan jeritan orang tuanya yang menggema di sekelilingnya.
***""***""***
“Apa kamu yakin, sayang?”
Adelle Attalla menatap putrinya dengan sorot mata sendu. Tangannya menggenggam jemari Flora, seolah tak ingin melepas.
“Mama akan menemani papa ke luar negeri,” lanjutnya pelan.
“Tapi kalau kamu memutuskan untuk melanjutkan proses perceraian dengan Vincent, mama bisa tinggal di sini menemani kamu.”
Flora menggeleng lembut. Senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang terlihat kuat, meski rapuh jika diperhatikan lebih dalam.
“Tidak perlu, Mah. Apa pun keputusanku nanti, aku bisa menghadapinya sendiri. Aku benar-benar bisa.”
Adelle menghela napas panjang. Perasaan sebagai seorang ibu tak pernah bisa dibohongi.
“Tapi, Nak … kamu benar-benar yakin dengan perceraian ini? Entah kenapa, mama merasa ada yang janggal.”
“Aneh bagaimana, Mah?” Flora menatap ibunya, alisnya sedikit berkerut.
“Entahlah,” jawab Adelle jujur.
“Mama sendiri juga tidak bisa menjelaskannya.”
Flora tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.
“Ah, mama terlalu khawatir. Jangan pikirkan aku terus. Temani papa saja ke luar negeri. Kasihan papa kalau sendirian, biasanya juga mama yang selalu ada di sampingnya.”
Adelle terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Namun sebelum bangkit, ia kembali menatap Flora, kali ini dengan sorot mata yang lebih dalam.
“Flora … Albert itu orangnya baik, kan?”
“Iya, Mah. Dia baik,” jawab Flora tanpa ragu.
“Albert selalu ada saat aku terpuruk. Dia yang menemani, yang menenangkan, saat aku merasa sendirian.”
Adelle mengangkat alisnya, lalu berdecak pelan.
“Aneh juga ya. Dia selalu muncul tepat saat Vincent menyakitimu. Seperti … tahu waktunya. Kayak dukun saja,” gumamnya setengah bercanda.
Flora tertawa lepas.
“Ah, mama bisa saja,” katanya sambil menggeleng, meski di balik tawanya ada sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami sendiri.
Namun jauh di dalam hatinya, kata-kata sang ibu meninggalkan getar kecil getar yang entah mengarah ke keraguan, atau justru ke kenyataan yang selama ini ia abaikan.
Flora terdiam cukup lama, menatap kosong ke arah jendela. Angin sore menyentuh wajahnya, dingin, namun pikirannya jauh lebih kacau dari udara di sekelilingnya.
"Aku akan menunggu kesungguhan Vincent,' batinnya akhirnya.
"Masih ada waktu. Jika dalam masa itu dia benar-benar berubah, jika dia sungguh-sungguh memohon dan membuktikan penyesalannya … mungkin aku bisa memberinya satu kesempatan terakhir."
Namun kalimat itu terasa rapuh bahkan sebelum selesai terucap di dalam hatinya.
Flora menghela napas pelan. Bayangan wajah Vincent pagi tadi kembali hadir tanpa diminta tatapan matanya yang merah, suaranya yang bergetar, genggaman tangannya yang terlalu erat.
"Tapi kenapa aku begitu ketakutan tadi pagi? pikirnya lagi, dadanya terasa sesak. Tatapannya … sikapnya … itu bukan Vincent yang dulu aku kenal. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuatku merasa tidak aman."
Flora memeluk dirinya sendiri, seolah ingin menenangkan gemetar yang masih tersisa.
Hatinya terombang-ambing di antara harapan dan ketakutan, antara cinta yang pernah ia jaga mati-matian dan luka yang masih basah.
Mungkin aku lelah. Mungkin aku hanya ingin tenang, bisiknya dalam hati.
Dan untuk pertama kalinya, Flora menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia sangkal cinta saja tidak cukup jika ia harus terus mengorbankan rasa aman dan harga dirinya sendiri.