Sidang kedua telah berlalu.
Namun sejak hari itu, Vincent tak pernah datang. Tak satu kali pun ia mencoba menemui Flora, apalagi mencarinya.
Flora berdiri mematung di ruang pengadilan yang terasa dingin dan asing. Di bangku seberang, tak ada wajah suaminya. Hanya seorang pengacara yang duduk dengan sikap formal, mewakili kehadiran Vincent yang memilih absen.
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinganya.
“Tuan Vincent tidak ingin ikut campur dalam proses perceraian ini. Beliau menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Nyonya Flora.”
Flora menelan ludah. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam dirinya.
Ia keluar dari gedung pengadilan dengan langkah gontai. Begitu pintu mobil tertutup, Flora bersandar pada sandaran kursi, menatap kosong ke depan. Ia sempat berharap meski kecil bahwa Vincent akan datang. Bahwa pria itu akan memperjuangkannya, setidaknya sekali saja
Ternyata tidak.
Albert yang duduk di kursi kemudi meliriknya sekilas melalui kaca spion. Ia bisa melihat wajah Flora yang pucat dan mata yang kehilangan cahaya.
“Kamu masih memikirkan Vincent?” tanyanya pelan, tanpa menghakimi.
Flora menghela napas panjang. Suaranya keluar lirih, hampir seperti bisikan.
“Aku pikir … dia akan mempertahankan pernikahan ini,” katanya jujur. “Tapi ternyata aku salah.”
Albert tak langsung menjawab. Ia memilih diam sejenak, memberi ruang bagi Flora untuk merasakan lukanya sendiri.
“Kamu sudah melakukan yang terbaik,” ucapnya akhirnya, lembut namun tegas. “Sekarang, kamu hanya perlu bertahan.”
Flora memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan arti melepaskan bukan karena tak cinta, tetapi karena lelah menunggu seseorang yang tak pernah menoleh ke arahnya.
Flora baru saja tiba di rumah orang tuanya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan menyedot sisa tenaga yang ada di tubuhnya.
Entah sejak kapan, beberapa hari terakhir ia merasa mudah lelah, kepalanya sering pening, dan dadanya terasa kosong.
Ia meletakkan tasnya sembarangan di sofa, lalu menjatuhkan diri di sana. Pandangannya kosong menatap langit-langit rumah yang terasa asing, meski dulu tempat ini selalu memberinya rasa aman.
"Harusnya aku sadar sejak awal," batinnya lirih.
"Dia memang tidak pernah mencintaiku."
Pikiran itu menekan dadanya semakin dalam.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, memecah keheningan.
Kring … kring …
Flora menoleh, lalu menghela napas sebelum mengangkatnya.
“Halo, sayang,” suara sang ibu terdengar lembut namun penuh harap dari seberang.
“Bagaimana sidangnya tadi siang? Apa Vincent datang untuk membatalkan perceraian kalian?”
Flora terdiam sejenak. Ujung bibirnya terangkat pahit.
“Tidak, Mah,” jawabnya pelan. “Vincent bahkan tidak hadir. Dia hanya mengutus pengacara … untuk melanjutkan perceraian itu.”
Di seberang sana, Adele tertegun. Matanya membulat, napasnya tercekat sesaat.
“Loh … kok begitu, Nak?” ucapnya kaget. “Mama bahkan belum sempat menelepon orang tua Vincent. Rencana awalnya mau menyusul hari ini. Beberapa waktu lalu Mama hubungi ibu mertuamu juga tidak diangkat. Mungkin mereka sedang sibuk.”
Flora memejamkan mata. Ada rasa nyeri yang menekan dadanya, tapi kali ini bukan karena marah melainkan lelah.
“Sudahlah, Mah,” katanya lirih. “Tidak perlu lagi menghubungi mereka. Tidak perlu memaksa sesuatu yang memang sudah tidak ingin dipertahankan. Aku sudah pasrah … dan ikhlas, kalau memang rumah tangga ini harus berakhir sampai di sini.”
Di ujung sana, Adele menghela napas panjang. Ada kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Baiklah, sayang,” ucapnya akhirnya. “Bulan depan Mama dan Papa akan kembali ke Indonesia. Kamu jaga kesehatanmu, ya.”
“Iya, Mah,” jawab Flora pelan. “Mama dan Papa juga hati-hati di sana.”
“Iya, sayang.”
Panggilan pun terputus.
Flora menatap ponselnya lama, seakan berharap layar itu kembali menyala dan memberi jawaban atas semua kebingungannya. Namun yang ada hanyalah sunyi.
Di tempat lain, Adele juga memandangi ponselnya dengan perasaan tak tenang.
"Kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beres ya …?" batinnya resah.
Sementara itu, di luar negeri, Jobart dan Meyla masih menetap demi kesembuhan Vincent.
Cedera akibat jatuh dari tangga memang mulai membaik, tetapi kondisi mental putra mereka justru kian mengkhawatirkan.
Vincent sering terdiam lama, menatap kosong, lalu tiba-tiba murung ketika nama Flora disebut. Depresi itu perlahan menggerogoti dirinya.
Panggilan telepon tersambung.
“Bagaimana keadaan Flora, Albert?” tanya Jobart dengan suara lelah namun penuh harap.
Di seberang sana, Albert menjawab tenang, seolah semua berada dalam kendalinya.
“Flora baik-baik saja, Pah. Tapi dia masih bersikeras melanjutkan perceraian. Meski aku sudah mengatakan kondisi Vincent sedang sakit, tetap saja … hatinya sudah terlanjur hancur.”
Jobart menghela napas panjang.
“Ya Tuhan …” gumamnya pelan, kebingungan mulai menguasai pikirannya.
“Aku juga sudah menyarankan Flora untuk menemui Vincent,” lanjut Albert, “tapi dia menolak.”
Meyla yang sejak tadi duduk di samping suaminya tak mampu lagi menahan kecemasan.
“Hiks … hiks … ini bagaimana, Pah?” suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Jobart menggenggam tangan istrinya, berusaha menenangkan.
“Tenang, Mah … tenang.”
Ia kembali fokus pada percakapan.
“Albert, proses perceraian itu … masih berjalan?”
“Masih, Pah,” jawab Albert cepat. “Aku tidak bisa berbuat banyak. Sejak awal Flora menunjuk aku sebagai pengacaranya.”
Jobart terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada tegas,
“Kalau begitu, Papa akan mengutus pengacara ternama. Pengacara yang bisa mengalahkanmu di pengadilan. Dengan begitu,
Flora tidak bisa melanjutkan perceraian semaunya.”
Ucapan itu membuat Albert seketika menegang.
“Ti—tidak perlu sejauh itu, Pah,” jawabnya tergesa, nada suaranya sedikit gugup.
“Aku … aku bisa mengatasinya. Aku akan mencarikan pengacara terbaik. Ini hal kecil, sungguh.”
Alis Jobart terangkat sebelah. Ada sesuatu dalam sikap Albert yang terasa janggal.
“Kau serius, Albert?”
“Serius, Pah,” jawab Albert cepat, terlalu cepat.
“Papa dan Mama fokus saja pada kesembuhan Kak Vincent. Tante Adelle dan Om Wilson juga bulan depan akan kembali ke Indonesia. Aku akan meminta mereka membujuk Flora secara perlahan.”
“Papa juga berniat meminta bantuan mereka,” ujar Jobart.
“Untuk sekarang jangan dulu, Pah,” sela Albert lagi.
“Mereka sedang sibuk mengurus perusahaan dan menenangkan Flora. Kita lakukan semuanya pelan-pelan, hati-hati.”
Jobart terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Baiklah … Papa percaya padamu.”
Sambungan telepon pun terputus.
Albert menurunkan ponselnya perlahan. Jemarinya mencengkeram benda itu dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin.
“Ck… Vincent,” gumamnya geram.
“Dari dulu kau memang selalu menyusahkan.”
Ia tersenyum tipis senyum yang tak menyimpan kehangatan sedikit pun seolah ada rencana yang sedang disusunnya dengan rapi, jauh dari dugaan siapa pun.