Tak mungkin baginya mengutarakan suatu hal yang tidak masuk akal logika pada teman-temannya, membuatnya diam seribu bahasa cenderung tampak ling-lung.
"Hoih, ditanya malah bengong loe Vin" Panggil Cika menepuk pundaknya.
Plek!
Lavina Sedikit terkejut segera mengalihkan topik perbincangan. "Ini … Aku tersengat lebah kemarin. Udah yuk kita jalan, kita pasti dah di tunggu guru."
"Hah, hari gini tersengat lebah?" Melongo lantaran Aneh bagi Cika, rasa penasaran semakin membelenggunya. Begitupun Vani. Tetapi, Lavina sendiri sudah melangkah pergi dari ruangan tersebut.
"Oih, Vin. Elah … ditanya malah ngacir tuh anak. Oi Vina … Tungguin kitaaaa!"
Bergegas langsung menyusulnya hingga akhirnya pertanyaan dalam benak mereka berangsur hilang dengan sendirinya.
Kini mereka melanjutkan kembali kegiatan ekstrakulikuler, siswa dan siswi masing-masing di pisah. Khusus kegiatan olahraga kali ini guru hendak memilih 6 pemain Voli siswi, kebetulan Lavina dan ke-2 temannya terpilih sebagai pemain inti.
Sebelum berlatih ke inti permainan, mereka semua di perintahkan untuk pemanasan terlebih dahulu, berupa lari memutari lapangan sebanyak 5 kali putaran. Tapi tak sekaligus, melainkan per-1 siswi.
Prriittt!
"Ayo Siska, kamu yang pertama." Peluit telah di tiup oleh sang guru mempersilahkan salahsatu siswi untuk lari.
"Berikutnya, Cika!"
Priitt!
Cika bergegas lari dengan ceria-nya memutari lapangan tersebut hingga tak terasa dia sudah selesai. Berlari langsung ke arah teman-temannya.
"Huff--Huff--" Deruan napas pertanda lelah, namun dia tersenyum ceria seraya memegang kedua pundak Lavina dan Vani.
"Ayo selanjutnya Lavina!" Lanjut Guru.
"Kuy Giliran Loe Vin. Ganbatte!" Seru Cika seraya menyapu keringat di dahi. Lavina mengangguk "Yosh!" bergegas lari.
Pada putaran pertama dan kedua, Semangatnya masih amat tangguh, senyuman ceria masih tampak saat kedua teman bersorak-sorak menyemangatinya. Saat sudah memasuki putaran ke-3 sangat aneh tetapi nyata kala tiba-tiba ia merasa sangat lelah sangat luar biasa, rasa lelah itu seperti habis berlari jauh pada hari kemarin.
Perlahan kecepatan larinya berkurang, lantas pada putaran ke-4, tiba-tiba pandangan matanya buram. Hingga tak terasa ia jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.
Bruugh!
"Eh Pak, Pak lihat Lavina itu pak!" Seru Cika paling utama melihat bergegas lari ke arah-nya. Guru pun segera menyusul kesana.
Jongkok didepannya, "Waduh, kenapa ini Vina. Vin, Lavina apa kamu baik-baik saja?" bergegas membopong tubuhnya menuju ruang UKS.
Sesampainya di ruang UKS, guru tidak tinggal lama melainkan lanjut untuk menyelesaikan tugasnya. Sementara Cika dan Vani meminta Izin tak melanjutkan latihannya dulu untuk menemani sang sahabat disana.
"Baiklah, kalau dia sudah membaik, kalian lanjut ke lapangan, sementara Lavina akan digantikan pemain cadangan dulu"
"Baik, pak." Jawab mereka serempak.
Tak lama kemudian, Lavina sadarkan diri. "Loh, ak-aku dimana?" Tanya-nya tampak ling-lung belum sepenuhnya sadarkan diri seraya memegang kepala dengan tangannya.
"Di ruang UKS, Vin. Tadi loe tuh pingsan di lapangan. Gimana keadaan loe sekarang, udah baikan kah?" Tanya Cika duduk di sebelahnya. Sementara Vani berdiri didepan mereka.
Lavina masih diam lantaran bingung, seraya memegangi kedua paha dan betisnya yang terasa sangat nyeri dan linu.
"Aneh banget sih gak seperti biasanya loe Vin. Biasanya kan … loe paling strong kalau lari mah, bahkan kita-kita gak bisa nyaingin kelincahan loe." Ucap Vani.
"Entah Van, Cik. Aku kecapean banget. Kaki-ku terasa sakit semua." Jawabnya tampak lesu.
"Eh, loe tadi baru aja 3 kali putaran mau jalan 4 putaran loh Vin, biasanya 10 kali putaran aja loe masih lincah banget kayak orang gak punya pusar, hehe." Lanjut Vani, terheran nan cengegesan
(Note: Artinya tak punya pusar adalah ibarat kata; seseorang yang anti maenstream/tangguh. Tidak punya rasa lelah)
"Kecapean banget? kayak habis lari jauh aja loe Vin" Sambung Cika.
Membuat kepala Lavina sangatlah pusing lantaran berusaha mengingat, tetapi ia kini tak mampu mengingat apapun tentang mengapa semua itu terjadi.
Dia hanya menjawab ngasal, "Kepo akh kalian."
"Dih, ditanya bener-bener malah becanda loe, kunyuk!" Gerutu Cika, membuat Lavina menyeringai berujung ngakak dibuatnya.
"Hahaha, dasar ratu Kepo!" - Lavina.
"Sue!" - Cika.
__
Ya, Lavina tidak bisa mengingat penyebab kenapa bisa amat kelelahan. Namun sesungguhnya semua itu terjadi lantaran terhubung dengan mimpi misterius yang dialaminya semalam.
Perbincangan lama didalam ruang UKS sembari menunggu kondisi Lavina stabil, menjadikan jam olahraga usai. Bahkan bel sekolah tanda waktu istirahat pun sudah terdengar.
Teett … Teett … Teeet …
"Nah, udah istirahat tuh. Yuk kita pergi ke-kelas." Ajak Cika meraih tangan Lavina begitu jua Vani.
"Yups"
Bergegas jalan bersama-sama menuju kelasnya.
Pada jam istirahat ini mereka bertiga tidak main seperti biasanya seperti ke kantin, taman dan lain sebagainya, namun untuk Cika si gadis ceria nan lincah disibukkan bolak-balik ke kantin hanya untuk mencari cemilan dan jus kesukaannya.
"Oi Cik, Perasaan loe jalan melulu tuh mesin giling" Ejek Vani melihat Cika sedang makan snack.
"Hilih berisik lu, Iri bilang bos …" Jawab Cika sok Cool seraya mengibaskan rambutnya.
Lantas Vani melemparnya dengan Buku.
Klotak!
"Sorry ndori mori yey, gue lagi Diet!" Jawabnya.
"Hilih Diet, badan udah kayak ikan asin begitu, masih aja diet" Ejek Cika.
"E … sue lu!"
"Hahaha, Bomat!"
Mereka lanjut bercanda ria seperti biasanya.
Sementara Lavina sendiri hanya nimbrung sesekali, ia disibukkan mengurut kakinya sendiri lantaran amat sakit dirasakannya.
"Eh Vin, Pulang sekolah nanti sebaiknya loe pergi ke tempat refleksi deh" Ucap Vani membumbui keakraban mereka sebagai sahabat. Lavina hanya sekedar mengangguk.
"Hu um."
Tak lama kemudian waktu istirahat usai, siswa-siswi beriringan masuk kedalam ruang kelas. Kali ini Rio beserta rombongannya sedang tidak banyak tingkah lantaran kelelahan usai main sepak bola sewaktu jam istirahat tadi.
Sang guru pun tiba, lantas disusul seseorang dibelakangnya, tak lain dialah kakak pembina pramuka bernama Gabriel atau biasa di panggil "Kak, Bri"
"Perhatian Murid-murid" Ucap Guru lantas mempersilahkan Gabriel bercakap. Dia menyampaikan pada siswa dan siswi bahwa kegiatan pramuka (berkemah) hendak di laksanakan pada esok hari serta diskusi kegiatan ataupun tentang apa saja yang hendak mereka bawa selama berkemah-secara detile.
"Siap kak!" Jawab semua siswa dan siswi serentak pertanda semangat sebelum akhirnya diskusi usai nan melanjutkan kembali aktifitas belajar-mengajar.
Kebetulan pada Hari ini aktifitas belajar-mengajar tidak berlangsung lama, sampai akhirnya kini mereka sudah memasuki jam pulang.
Lavina, Cika dan Vani melangkah bersama-sama keluar kelas lantas berjumpa dengan teman sekelompoknya yang berbeda kelas, yakni Angel dan Rani.
"Hey Guys …" Sapa keduanya seraya melambaikan tangan.
"Hei … " Sapa mereka bertiga. Lantas Rani dan Angel bergegas mendekat.
"Eh Guys, esok kita semua pergi kemah Kuy." Celetuk Angel.
"Tadi kakak pembina ada masuk ke kelas kalian juga gak? dan ngomobgin soal latihan?" Sambung Rani.
"Iya, pastinya tadi masuk juga ke kelas kita, udah ngomongin soal kemah juga kok tadi." Jawab Vani. Diiringi Cika dan Lavina saling mengangguk.
"Oke deh, Gue balik duluan ya guys mau pergi ke Mall dulu gue, nyari cemilan buat dibawa besok." Pamit Rani.
"Heleh, sampai segitunya amat. Itu mau kemah liburan apa kemah tugas? sekalian aja bawa sekarung" Celetuk Cika.
lantas di susul Angel. "Hahaha, Enjoy Ran. Gue juga sama aja Cuy, mau ke salon dulu. bye, bye …" bergegas pergi seraya melambaikan tangan.
"Hnjirrr parah ... pada s***p!" Cetus Vani.
Melambaikan tangan serempak "Bye …"