Episode 3

1092 Words
Berlari kencang cenderung tergesa-gesa lantaran kejadian ganjil semacam ini untuk pertama kali dalam hidupnya, hingga kini langsung keluar dari lingkungan sekolah-tiba tepat di bawah pohon rindang yang terletak di luar sekolahan. Sejenak berhenti, menghela napas dalam-dalam coba redamkan gundah yang tengah menerjang pikiran. "Huff … huff … huf …" Tak lama kemudian melihat layar dari telepon genggam di tangannya, lantas menghubungi seseorang. "Aih, kemana pula kau pak, tidak bisa pula nomormu di hubungi" Gumamnya berbicara sendiri kala sopir pribadi tak bisa dihubungi hingga berkali-kali. Rasa gundah masih membelenggu jiwa, lekas melangkah kesana dan kemari seorang diri. Sekilas terpikir hendak menghubungi orangtuanya tetapi apalah daya kedua orang tuanya sangat sibuk bekerja, terlebih lagi pada waktu siang seperti sekarang ini. Akhirnya dia hanya mampu terdiam dalam keresahan. _____ #Pada lain sisi Kurang lebih berjarak 70 meter dari lokasi Lavina berteduh dibawah pohon itu terdapat sebuah warung kopi yang terletak di pinggir jalan. Pada warung tersebut memang biasa di singgahi oleh para siswa dari sekolahan itu, sebatas duduk-duduk bersama-sama saat jam istirahat maupun sesudah jam pulang, sembari menyantap beberapa makanan ringan berupa gorengan dan minuman dingin seperti es teh dan lain sebagainya. Saat ini disana ada salahsatu siswa bernama lengkap Elga Zachary biasa di panggil Elga/El siswa dari kelas IX-B sedang duduk-duduk sembari berbincang bersama para teman sekelompoknya diantaranya Rico, Leon, Farel dan Albert. Teman-teman dia Mayoritas dari kelas yang sama tetapi beberapa diantaranya ada siswa yang beda kelas darinya salahsatunya ialah Albert yakni dari kelas IX-A (teman yang sama dengan Rio) Disaat para teman-temannya tengah asik saling berbincang, salahsatu diantara mereka menyadari kala Elga tidak menyambung saat diajak berbincang tampak perhatiannya menuju ke arah sebrang. "Wei, El! Loe kagak nyambung banget dah diajak ngomong, lagi liatin apaan sik" Tanya Rico sembari menggigit gorengan, sedikit menimpuk pundak si Elga. Plek! "Eh," Kejut Elga, tetapi dia hanya sebatas menoleh sejenak lekas melihat lagi ke arah sebrang. Melihat perhatian Elga tertuju pada satu arah tanpa menjawab kalimat apapun, seluruh teman-temannya pun menoleh jua ke arah yang Elga lihat. "Acieh …. tampaknya si garong sedang mengincar mangsa nih …" Ledek Rico menyadari Elga tengah memperhatikan seorang siswi. "Garong pala loe botol, kamVret!" Umpat Elga sembari menimpuk kepalanya. Plak! "Awh, sakit pala gua kunyuk! Botol avaan njeir!" "Botol alias Botak t***l!" Ceplos Elga penuh sindir pada Rico yang belum lama pangkas rambut sampai gundul. "Sue loe dasar, lagian serius amat loe. Kuy samper lah tuh betina" Lanjut Rico cengegesan seraya melirik kearah teman lain. "Cih, emangnya lu pikir binatang apa loe sebut betina?" Sarkas Elga kian membuat teman-temannya saling tawa "Hahaha" "Em ... emangnya siapa cewek itu ya, kayak gelisah gitu sendirian disana" Lanjut Elga tak lepas memandangnya. "Kalau gak salah nama dia Lavina dari kelas A deh," Jawab Leon. Lalu disusul oleh Albert selaku satu kelas dengan Lavina. "Yap, dia si Vina teman satu kelas sama gua" "Eh, tunggu bentar bro, kalau gak salah lihat itu kan salahsatu cewek yang tadi siang gua lihat mau berantem ama cowok di taman," Sambung Farel. "What! Mau berantem ma cowok?" Jawab Rico, Leon dan Albert serempak. "Iya, mau berantem sama cowok, tapi cuma adu mulut doang, kagak main bogem-bogeman semacam adegan film wonder-woman, haha" Lanjut Farel membuat gelak tawa. "Hahaha wonder-woman, Kagak sekalian spideman betina Version?" "Hahahaha" Semasih mereka saling berbincang mengenai hal yang tak masuk di akal, Elga sendiri sudah bergegas hendak melangkah menuju Lavina. "Woi Elga, haga dipa woi!" Seru Rico lekas kena timpuk dari teman-teman. Plak! Plak! "Berisik loe Njeir! Peka' dikit napa," celetuk Albert. "Apaan si, sakit pala gua kunyuk, maen timpuk-timpuk loe, Sue!" Rico mendengus seraya mengusap-usap kepalanya. "Noh lihat Noh, kode oi kode, pe'ak!" Albert memberikan sebuah kode dengan mengangkat kedua alis seraya melirik ke arah Lavina dalam artian menunjukkan bahwa Elga sedang beraksi mendekati siswi itu. "Oohh …" Rico menggangguk-anggukan kepalanya tampak bodoh saat dia sudah mengerti maksudnya. ___ Disisi Elga sendiri kini sampai didekat Lavina, sementara posisi Lavina masih berjalan mondar-mandir kepala menunduk ke arah bawah, lantas saat tengah berbalik arah, dia nyaris menabrak Elga yang sudah berdiri tepat dibelakangnya. Suut! "Oit, oit, Astaga … maaf kak" Lavina mundur satu langkah nan menunduk tampak malu. "Kamu sedang apa sendirian disini? Kok belum pulang?" Basa-basi Elga secara to the poin. "Em … anu, aku sedang menunggu sopir menjemputku" Lavina tampak malu. Secara tiba-tiba, Elga mengulurkan tangan, "Oh iya, Aku Elga dari kelas B," Mengajaknya kenalan. Si Lavina jua mengulurkan tangan, "Aku Lavina kak, dari kelas A" setelahnya dia lepaskan lagi tangannya dan menunduk. Elga menoleh kesana dan kemari alih-alih untuk mencari keberadaan mobil yang mungkin saja terlihat dari arah kejauhan. "Em … btw apa kamu sudah menghubunginya?" Tanya-nya, lantas saat Lavina hendak menjawab, langsung terhenti kala handphone di tangannya berbunyi. Tring … tring … "Emh … tunggu sebentar ya kak," Pamit-nya menjauh sejenak hendak mengangkat panggilan telephone tersebut. "Halo, siapa ini?" Ucapnya, begitu mengangkat panggilan tanpa nama. "Siang Non Lavin, ini pak Anton. Maaf Non saya belum sampai disana, ada kendala di jalan, Non." Jawab seorang yang menelpon itu, tak lain sopir pribadi penjemputnya yang dikenal dengan nama Anton. "Halah, Macam mana pula Pak, jikapun tak bisa jemput tepat waktu harusnya segera kabari aku dulu, kan bisa saya pulang naik taksi, jadi gak harus nunggu lama begini, huh!" Jawab Lavina tampak kesal. "Maaf Non, batrai hape saya hamil, jadi sering mati sendiri" jawabnya. "Halah, ada-ada saja batrenya hamil, makanya jangan telat di cabut pak biar gak bablas hamil" Canda Lavina disela-sela rasa kesalnya. Karena sejatinya ia memang tipikal gadis yang humoris. "Walah-walah, iya Non. Apa sekarang ini non Lavin masih menunggu disana?" Tanya pak Anton. "Iya saya Masih disini, emang posisi bapak dimana sekarang?" Tanya balik Lavina. "Saya masih di bengkel Non" Jawab sang sopir. "Yasudah selesein dulu aja, biar aku pulang naik taksi aja deh" pungkas Lavina. "Sekali lagi maafkan saya Non" Jawab sang Sopir, Lavina sudah tak mendengarnya lantaran handphone sudah ia jauhkan dari telinganya lekas ia matikan. Bip! Selepas berbincang melalui telepon tadi, dia kembali melangkah mendekat Elga yang masih berdiri menunggunya disana. "Em, aku mau pulang dulu ya kak" Pamitnya. "Loh, memangnya dimana sopirmu menunggumu? Sepertinya dia belum datang," Jawab Elga sembari menoleh kanan dan kiri. "Oh, tidak ada si. Aku pulang naik taksi, kak." Jawabnya hendak melangkah. Tetapi terhenti lagi saat Elga berkata, "Eh, lebik baik anu … kamu tunggu disini bentar jangan pergi dulu" Elga lantas berlari meninggalkan Lavina sejenak disana. "Kamu jangan kemana-mana ya … tunggu disitu sebentar ya!?" Teriaknya meyakinkan Lavina supaya mau menunggunya. " ..." Lavina bingung dibuatnya lantaran ia tidak mengerti maksud Elga. Tetapi ia menurutinya untuk tetap berdiri disana-menunggunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD