Rio masih mengutarakan kalimat u*****n kala ke-5 siswi itu pergi meninggalkannya, apalagi tadi Rani melemparkan bola itu kepadanya.
Sementara Lavina beserta rombongan kini melangkah pelan menuju kelasnya, teruntuk Rani dan Angel sudah kembali ke kelas mereka masing-masing lantaran mereka melintasi ruang kelas mereka terlebih dahulu.
"Bye guys …" Ucap mereka serentak saling melambaikan tangan.
Kini tinggal Lavina, Cika dan Vani berjalan menuju ke ruang kelasnya, Posisi Lavina berada di tengah-tengah diantara Cika (Kiri) dan Vani (Kanan)
"Serasa ingin gue bejek-bejek tuh muka songong, huh!" Cika masih bergumam seputar perkara yang terjadi tadi sembari meremas-remas kedua telapak tangannya sendiri.
"Kamu kenapa Cik?" Basa-basi Lavina meski tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu.
"Hilih Vin, kebiasaan banget deh Loe, gampang banget ngelupain kejadian barusan." Jawab Cika cemberut.
"Maksudmu si Rio?" Sambung Vani.
"Iya lah, siapa lagi? Emang tu biang kerok bikin mood gue berantakan, sumpah!" Lanjut Cika.
"Jiaah … Udahlah Cik, lagian kita semua juga tau kek mana si Rio itu" Lavina meliriknya.
"Iya Cik, tak usah terlalu loe pikirin, ntar lama-lama naksir ma dia loe …" Ledek Vani.
"Benci jadi cinta aha," Sambung Lavina.
"Dih, apaan naksir ma cowok kek dia? Najong amat." Cetus Cika.
"Eleh … Jangan gitu, dah merah aja tuh muka loe Cik" Ledek Vani lagi. "Cie … Cie …" Lavina antusias meledeknya jua.
"Apaan sih kalian, kek tau cinta itu apaan, huh!" Ekspresi Cika masih tampak kesal sehingga candaan dari para sahabatnya tidak begitu ia pikirkan lantas mengalihkannya,
"Hei Van coba loe pikir deh, apa susahnya coba tuh si Rio cuma diminta ngucapin 'minta maaf doang?' So … itu kan gratis, andai ada denda kan kita bisa dapat cipratan" Ucapnya.
"Aha, bener juga yang loe bilang Cik, mayan lah makan gratis dari Vina, ahay" Celetuk Vani.
Lavina menoleh ke kanan dan ke kiri pada teman-temannya itu, "Astaga kalian … malah pada bisnis, Kunyuk!" Sarkasnya.
"Hahaha, ini bukan Bisnis Vin, tapi keadilan."
"Keadilan-keadilan apaan? gaje kalian!" Pungkas Lavina membuat gelak tawa kedua sahabatnya tersebut, hingga tak terasa sudah sampai didalam kelas.
___
Saat ini Jam istirahat belum selesai, mereka sudah didalam kelas lantaran kejadian tadi bersama kelompok Rio membuatnya enggan bermain diluar dan memutuskan main didalam kelas saja.
Begitu mereka didalam kelas Cika dan Vani sibuk bergosip dengan teman belakang kursi duduknya, semantara Lavina kini tengah fokus membaca buku. Tak lama kemudian terdengar bel sekolah berbunyi,
Teet … Teet … Teet …
Pertanda kegiatan belajar-mengajar hendak berlangsung lagi, para kelompok Rio jua memasuki kelas lantas semasih mereka melangkah hendak menuju kursinya yang posisinya paling belakang, Semasih Rio and the gank, melewati meja Lavina,
Tiba-tiba ....
Braak!
Bertingkah, menggedor meja Lavina cukup keras. Membuat Lavina yang kini fokus membaca buku jadi terkejut. Ia pun menoleh ke dia.
"Apa lihat-lihat, Naksir hah?" Cetus Rio penuh percaya diri.
"Cih, iblis mana yang telah merasukimu, aneh" Gumam Lavina lekas membuka kembali bukunya.
"Woi, Ngomong apa barusan loe?" Tanya Rio lantaran tidak mendengarnya jelas. Tetapi Lavina sudah tidak menghiraukannya.
"Woi, Cewek Budeg!" Panggil Rio hendak terus berkata, tetapi terhenti kala sang guru sudah memasuki ruang kelas, maka dia lekas kembali ke kursi duduknya.
Lavina juga sebatas meliriknya 'Ngatain budeg pula, sialaan!'
___
"Selamat siang Anak-anak …" Sapa Guru kala baru memasuki ruang kelas.
"Siang, Pak ..."
Sang guru menyampaikan sesuatu yang belum tersampaikan dari pagi tadi yakni tentang kegiatan pramuka yang hendak diadakan dalam waktu dekat. (Kemah)
"Pak, Dimana lokasi yang akan dijadikan area berkemah kita nanti, Pak?" Tanya salahsatu siswa teman sekelompok Rio dari bangku nomor dua pojok paling kiri, bernama Albert.
"Tentang itu ... esok kakak pembina yang akan menyampaikannya langsung di kelas ini" Jelas sang guru lekas melangsungkan pelajaran.
__
Beberapa saat kemudian, Bel sekolah sudah di bunyikan lagi.
Teet ... Teet ... teet ...
Pertanda kegiatan literasi sudah usai, Guru sudah lebih dulu keluar dari ruang kelas, disusul siswa maupun siswi lain jua bergegas pulang.
"Yeey ... akhirnya bisa bernapas lega deh!" Seru Cika sembari mengangkat kedua lengan ke atas.
"Idih, emangnya sedari tadi loe gak napas Cik?" Sahut Vani seraya memasukkan peralatan sekolah kedalam tas. Lekas menyandarkan kepala sejenak di atas meja.
"Iya dari tadi gue tuh nahan napas, lalu keluar dari belakang berbunyi merdu sekali." plesetan Cika.
"Astaga Anjeir!" Umpat Vani, "Kentut maksud lu?"
"Dasar Koplak kamu, Cik." Sambung Lavina meliriknya tak ayal menggelengkan kepala.
"Haha bodo' amat, Eh Guys gue cabut duluan ya, Om sama tante udah nunggu gue dirumah mau ngajak gue keluar siang ini" Pamit Cika tampak buru-buru.
"Widih ... oke lah asik nih yang mau jalan-jalan ..." Ledek Lavina.
"Yo'i Guys ... yaudah gue jalan duluan ya, Bye ..." Pamitnya seraya melangkah pergi nan melambaikan tangan. Alhasil kepala nyaris terpentok pintu kala kurang memperhatikan langkahnya.
"Oit, oit, dasar pintu kunyuk! Hehe bye bye guys .." Ulang Cika cengegesan tampak salah tingkah tapi tak ada malu.
"Cih, Dasar koplak dia." Gumam Lavina menggelengkan kepala nan menoleh keseluruh ruang kelas sudah tampak sepi.
"Van, Vani ..." Panggil-nya melihat Vani menyandarkan kepala nan memejamkan mata.
"Astaga, malah tidur nih anak. Hey Van!" Seru-nya seraya menepuk pelan pundak dia.
Plak!
"Oit, em ... ada apa Vin, ngagetin aja." Ucapnya melirik asam.
"Hm ... kayaknya kamu ngantuk sekali kayak gak tidur aja sepanjang malam." Lavina menata buku-buku lekas ia masukkan kedalam tas.
"Iya ni Vin, gegara semalam begadang baca Komik bablas sampai pagi gue, huaaam" Jawabnya seraya menguap-nguap.
"Astaga … sampai segitunya kecanduan komik. Yaudah yuk kita juga pulang, udah sepi pula nih ruangan" Lavina berdiri seraya mengajak Vani lekas beranjak keluar.
___
Setelah sampai pada area parkir, sopir penjemput Vani sudah stay menunggu disana, sementara Sopir Lavina tidak ada.
"Eh, Sopir loe belum jemput, Vin?" Vani beranjak masuk kedalam kendaraan. Lavina menggelengkan kepala seraya mengecilkan mata akibat matahari terlampau terik.
"Oh ... atau loe balik bareng gue aja Vin, Kuy masuk." Ajak Vani.
"Terima kasih Van, ini aku mau coba nelpon Sopir. Lagipula arah menuju rumah kita kan berbalik arah, lelah pula nanti sopirmu mengantarkanku, hehe" Lavina cengegesan.
"Hilih, ya kagak lah ... pak sopir gue kan tampan dan dermawan pastinya tak masalah mengantarkan nona pulang ke rumahnya, bukan begitu pak?" Ledek Vani kepada sang sopir membuat gelak tawa sang Sopir itu.
"Yaudah kalo emang gitu, gue balik duluan ya Vin," Pamit Vani kala Lavina bersikeras tidak menerima ajakan-nya.
"Hu um, hati-hati dijalan Van." Pungkas Lavina melambaikan tangan.
___
Cuaca hari ini sangat terik membuat kulit Lavina tampak memerah. Lantas melangkah kembali ke arah halaman sekolah untuk berteduh dibawah pohon besar yang terletak disana sembari menunggu sang sopir menjemputnya.
Suasana lingkungan sekolah yang ia pijak saat ini cukup sepi, namun masih terdengar suara ibu kantin dari arah kejauhan serta terdengar suara petugas kebersihan yang masih bertugas.
Lavina masih berdiri di tempat itu sembari mengibas-ngibaskan tangan akibat kepanasan. Tak selang waktu lama, ia melihat ada seorang siswi yang ia kenali tengah melangkah menuju ke arah belakang sekolah.
'Eh, itu Angel belum pulang juga kah?' Gumamnya lekas melangkah.
"Hei Angel! Angel!" Serunya lekas mempercepat langkahnya sebab siswi tersebut semakin di kejar semakin melangkah cepat. "Haissh malah main kejar-kejaran dia, dasar kunyuk! Awas loe ya .." Gumamnya. "Hai Angel!" Serunya lagi.
Kini ia sampai dihalaman belakang sekolah, berdiri dibawah pohon beringin sembari menoleh keseluruh penjuru arah akibat kehilangan jejak siswi yang ia lihat seperti Angel tadi.
"Haissh, terbang apa gimana sih dia, cepat sekali langkahnya, huuff ..." Gumamnya seraya berputar keseluruh penjuru arah. Mungkin saja Angel tengah mengerjainya. Pikirnya.
Namun, disaat ia tengah memutarkan badan, salah satu kaki-nya berbenturan dengan kaki satunya lagi akibat tidak begitu memperhatikan posisi berdirinya. Alhasil ia terjatuh dalam posisi berlutut hingga lututnya tergores akar beringin yang menjalar di pijakan kakinya tersebut.
Brak!
"Aissh, Awh perih" rintihnya seraya duduk melihat lutut yang tergores itu. Lekas ia membuka tas hendak mencari tisu ataupun kain yang biasanya ia bawa.
"Aih, mana gak kebawa pula tuh tisu!" melihat isi tas kosong tak ada benda itu. Alhasil lekas meraih daun hijau dari pohon beringin yang berjatuhan di tanah.
Ia tiup-tiup sejenak untuk memastikan kehigienisan daun tersebut sebelum menyapu darah dari lututnya tersebut.
Lantas disaat daun itu tengah ia tempelkan pada luka gores di lututnya, tiba-tiba telinganya berdenging cukup kuat membuatnya sangat terkejut.
Guingggggggg …..
"Oh Tuhan! Apa ini ... Arrggh!" memejamkan mata seraya menutup kedua telinga akibat rasa penging itu sangat mengganggunya.
Lantas disaat mata terpejam tiba-tiba merasakan sensasi yang tidak sewajarnya, yakni melihat suatu bayangan samar seperti disebuah tempat yang terdapat telaga lengkap dengan bayangan tempat misterius bak sebuah kerajaan yang amat megah.
Sungguh indah tempat itu, seperti gambaran yang biasanya ada di Film Fantasi, durasi bayangan itu teramat singkat Lantas beralih ke bayangan tempat misterius yang cukup mengerikan. Alhasil Lavina lekas membuka kembali matanya.
"Oh Tidak, Apa ini!"
Bulu kuduk semakin merinding lantaran apa yang dialaminya ini sungguh tidak masuk akal Logika.
Lantas ...