Mereka Terlihat Mirip

1058 Words
Jacob menyandarkan dirinya di sandaran kursi sembari mengendurkan dasi abu-abu yang ia gunakan. Sudah waktunya istirahat makan siang, namun ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Jacob menekan telfon di atas meja kerjanya hingga terdengar suara seorang perempuan di seberang sana. "Tuan Jacob, ada yang bisa dibantu?" tanya Chris asisten pribadinya dengan suara selembut kapas. "Apa jadwalku nanti?" tanya Jacob tanpa basa-basi "sebentar lagi Anda ada rapat dengan Nona Vera," jawab Chris di ujung telfon, masih dengan suara yang sama. "Bawakan aku makan siang, setelah itu kita pergi!" seru Jacob kemudian kembali menutup telfon tanpa mendengar jawaban asistennya terlebih dahulu. Setelah itu Jacob kembali fokus menatap pekerjaannya yang masih menumpuk di atas meja. Tak berselang lama pintu ruangannya di ketuk, kemudian masuk seorang wanita dengan tubuh sexi dengan pakaian kantor yang terbilang ketat sampai menampakkan belahan dadanya yang membusung indah. Wanita itu adalah Chris, asisten sekaligus sekertaris Jacob, alasan kenapa Jacob mempekerjakannya tentu saja karena ia terlihat cantik dan juga pintar, Jacob tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berlama-lama menatap tubuh Chris yang sexi tentu saja. Jacob tau jika Chris bukanlah tipe perempuan idaman untuk ia jadikan pasangan hidup, namun ia tetaplah seorang pria. "Tuan ini makan siang Anda," ucap Chris dengan suara lembut seperti biasa. "Letakkan saja di meja, lalu keluarlah," jawab Jacob dingin sambil menatap ke arah Chris seperti biasanya. Chris hanya bisa pasrah melihat atasannya yang terlihat tidak tertarik dengannya, padahal ia sudah menggunakan berbagai cara untuk menggoda Jacob, namun sepertinya semuanya sia-sia. Chris lalu meletakkan makanan yang ia beli dari kantin perusahaan di atas meja kemudian membungkuk dengan lesu, setelah itu ia segera melangkah pergi dari ruangan Jacob. Setelah Chris pergi Jacob segera menghampiri makan siang yang ia pesan dan menyantapnya dengan lahap. Setelah makan siang Jacob dan Chris pergi ke sebuah restoran cepat saji dimana mereka akan menemui seseorang bernama Vera. Awalnya Jacob merasa tidak asing dengan nama itu sampai akhirnya ia teringat dengan kejadian masa kecil yang sudah lama ia lupakan. Saat itu Jacob ingat dengan jelas sosok Vera yang dulu bersamanya, seorang gadis bermata hijau dengan gaun lusuh dan wajah penuh debu, rambut berwarna madu yang terlihat kusut dengan noda darah di salah satu pelipisnya, Jacob yakin saat itu gadis itu adalah hantu dan bukannya manusia, bahkan ia pernah berdoa dan memberikannya sebuah apel. Jacob ingat gadis hantu itu juga bernama Vera, dan ia tidak tau jika dirinya sudah mati, dulu ia merasa sedikit kasihan sampai membuat janji yang tidak masuk akal untuk dilakukan. "Tuan Jacob, Nona Vera sudah tiba," ucap Chris membuyarkan lamunan Jacob. "Halo, selamat siang," ucap Sebuah suara dengan nada nyaring seperti sebuah lonceng kecil. Jacob terdiam menatap sosok gadis di hadapannya, ia sama persis seperti sosok gadis hantu yang baru saja ia bayangkan. Bermata hijau cerah,wajah bulat dan juga rambut berwarna serupa, bedanya sosok di hadapannya terlihat lebih bersih, cantik dan terlihat dewasa, bahkan memiliki nama yang sama. Jacob tak mampu berkata-kata, bahkan untuk membalas sapaan yang baru saja ditunjukan padanya. Chris dan Vera saling pandang karena bingung melihat reaksi Jacob yang aneh. "Ada masalah Pak?" tanya Vera mencoba mencairkan suasana. Chris buru-buru menyikut pinggang Jacob hingga membuat atasannya itu kembali tersadar dari lamunannya. "Oh, maaf.. aku hanya sedikit gugup," ucap Jacob kikuk, ia menjadi sangat malu karena mengacaukan pertemuan bisnisnya sendiri. "Silahkan duduk Nona Vera, maaf membuatmu tidak nyaman, aku hanya teringat dengan seseorang," jelas Jacob malu. Pria berumur tiga puluhan itu segera mempersilahkan lawan bicaranya untuk duduk. Vera terlihat agak bingung, namun ia tetap harus profesional. Jacob bisa membaca raut muka Vera, ia hanya bisa mengumpat dalam hati. "Chris bisa kau pesankan sesuatu!" ucap Jacob sambil melirik ke arah Vera. "Tentu Tuan," jawab Chris seperti biasa, tetap dengan suara lembutnya. Setelah itu segera pergi. "Maaf Nona Vera, kita langsung saja membicarakan tentang rencana pembangunan yang kau tawarkan beberapa waktu lalu," ucap Jacob mulai profesional. Tentu saja ia tidak ingin kehilangan wibawanya hanya karena teringat dengan kenangan lama. "Tentu, Tuan Flint, Aku sudah menyusun beberapa desain bangunan rumah sakit yang akan aku ajukan, pembangunan ini sangat penting karena akan dibangun di sebuah gedung tua yang sebenarnya cukup strategis jika dilihat dalam proporsi bisnis," jelas Vera panjang lebar sambil memberikan beberapa lembar cetak biru dan juga proposal yang sudah ia persiapkan selama beberapa minggu. Setelah melihat bangunan gedung tua yang tak asing bagi Jacob, pria itu lantas menatap ke arah Vera dengan mata menyipit, ini pertama kalinya ia mendapati kebetulan yang sangat beruntun, mulai dari sosok yang sama persis dan juga bangunan tua yang sama yang dulu pernah digunakan untuk tempat penyekapan dirinya saat masih anak-anak. Meski ia sekarang sudah berumur tiga puluh tahun, tapi ia masih ingat dengan jelas gedung yang digunakan sebagai lokasi penculikannya, ia tidak akan melupakan gedung tua di pinggiran kota itu begitu saja, terutama sosok hantu kecil bernama Vera yang terlihat sangat mirip dengan Wanita yang ada di hadapannya sekarang, semua itu membuat Jacob semakin penasaran. "Nona Smith, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Jacob langsung sambil menatap ke arah Vera lekat. Wanita itu balas menatapnya bingung. "Tidak, ini baru pertama kali kita bertemu," jawab Vera polos. "Maaf, lupakan saja. Lanjutkan penjelasanmu tadi." Jacob mencoba mengalihkan pandangannya, sudah dua kali ia melakukan hal yang memalukan. "Ya, baiklah," ucap Vera kemudian. Wanita itu kembali melanjutkan presentasinya. Jacob hanya bisa mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia ingin sekali menyelesaikan pertemuan itu dengan cepat dan segera pergi dari sana, namun ia tidak mungkin melakukan hal semacam itu tanpa alasan. Tak berselang lama Chris datang sambil membawa tiga salad dan juga tiga cangkir milkshake coklat. Jacob bisa sedikit bernafas lega karena ia tidak harus berduaan dengan Vera terlalu lama, entah kenapa wanita itu membuatnya tidak nyaman. "Silahkan Nona Smith, kita bisa lanjutkan itu nanti," ucap Jacob sambil menggeser beberapa map ke arah lain kemudian menggantinya dengan salad yang dibawa oleh Chris. "Terimakasih," ucap Vera. Jacob hanya mengangguk kikuk, sementara Chris terlihat menatap heran ke arah Jacob. Pria itu sadar sedang ditatap oleh Chris dan lebih memilih mengabaikannya saja, ia tau sekretarisnya itu pasti bingung melihat tingkahnya yang tiba-tiba berubah ramah, bahkan dengan sukarela membersihkan meja untuk mereka agar bisa makan dengan nyaman, padahal biasanya ia akan menyuruh Chris atau pelayan restoran. "Ehem... Silahkan dimakan Chris," ucap Jacob mencoba menyadarkan asisten sekaligus sekretarisnya itu. "Terimakasih," ucap Chris kikuk, ia duduk dan menatap cemburu ke arah Vera. Jacob yakin itu karena ulahnya barusan tapi ia mengabaikannya saja dan pura-pura tidak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD