Penasaran

1164 Words
Setelah pertemuannya dengan Vera, Jacob merasa sangat penasaran. Bagaimana bisa ia bertemu dengan gadis yang sama persis dengan arwah seseorang yang dulu menemaninya ketika ia diculik, apakah ini sungguh kebetulan ataukah dia hanya berhalusianasi? Jacob ingat sekali saat itu yang bersamanya bukanlah manusia, melainkan hanya seorang arwah penasaran yang terjebak karena suatu alasan. Entahlah, yang jelas Jacob harus mencari tau lebih jauh mengenai sosok yang baru saha ia temui. Keesokan harinya, Jacob datang ke kantor dengan wajah kusut karena kurang tidur. Ia terus menerus memikirkan Vera sepanjang malam "Selamat pagi Tuan Flint," sapa Chris yang sudah lebih dulu tiba di kantor. Jacob sedikit menaikan alisnya saat melihat Chris tidak menggunakan pakaian sexi seperti biasanya, namun ia menggunakan pakaian formal biasa dan tetap terlihat cantik. "Ada yang salah?" tanya Chris karena Jacob tidak segera masuk ke dalam ruangannya, melainkan menatapnya dari atas ke bawah. "Tidak ada," jawab Jacob cepat, kemudian segera masuk ke dalam ruangannya di ikuti Chris di belakang. Seperti biasanya Chris sudah menyiapkan kopi dan juga seiris roti untuk sarapannya setiap pagi, pekerjaannya sangat memuaskan dan cukup kompeten, meski sekarang Chris merubah pakaiannya ia rasa ia harus menaikan gaji sekretarisnya itu nanti. Setelah selesai memberitahu jadwal Jacob, Chris segera keluar seperti biasa. Hanya tinggal Jacob sendirian di ruangan itu, dan bayangan Vera kembali muncul dalam benaknya. "Damn!" umpat Jacob kesal, ia sama sekali tak bisa fokus untuk bekerja, bahkan ia kesulitan tidur karena terus penasaran dengan sosok Vera. Jacob beranjak dari tempat duduknya, beralih ke ruangan lain untuk meminum kopi. Mungkin segelas kopi bisa merilekskan otaknya, namun hingga tegukan kopi terakhirnya ia masih memikirkan tentang sosok Vera yang menurutnya misterius. Jacob menyerah, ia akan mencari tau segalanya sampai ke akar. Jacob kembali ke meja kantornya dan segera menekan tombol pada telfonnya. "Ada yang bisa dibantu Tuan Flint?" tanya Chris. "Panggil Alex aku ada pekerjaan untuknya," perintah Jacob. "Baik Tuan Flint," ucap Chris sebelum menutup panggilan telfonnya. Tak berapa lama, pintu ruangan Jacob di ketuk oleh seseorang. "Masuklah!" teriak Jacob kemudian. Sosok Chris masuk di ikuti oleh seorang pria muda berbadan tegap dan berkulit coklat gelap. Pria itu hanya berdiri dengan kaku, bahkan saat Chris sudah meninggalkan ruangan ia masih berdiri di tempat yang sama. "Alex aku ada pekerjaan. Cari tau tentang perempuan ini dan juga sejarah gedung tua di dalam foto itu, ada hal yang menggangguku," ucap Jacob dengan suara tegas. Pria yang di panggil Alex hanya mengangguk dan segera mengambil dua foto yang sudah disiapkan oleh atasannya itu. "Jangan sampai ketahuan, cari tau sedetail mungkin, kalau bisa kau harus bisa membuatku dekat dengan keluarganya," ucap Jacob kemudian. "Baik Tuan Flint," ucap Alex pendek, kemudian segera keluar dari ruangan Jacob. Jacob merasa lebih baik sekarang. Setidaknya ia sudah melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah kecilnya, dan ia hanya butuh menunggu beberapa hari sampai Alex kembali dan membawakannya informasi seperti yang ia inginkan. *** Di tempat lain Vera sedang duduk di dalam bus dengan keadaan cemas. Bagaimana tidak, ia baru saja mendapatkan kabar jika ayahnya kembali masuk rumah sakit akibat kangker pankreas yang ia derita sudah semakin parah. Vera mengatupkan tangannya sambil berdoa agar Tuhan memberinya sebuah keajaiban. Sesampainya di halte Vera segera turun karena ia masih harus berlari menuju rumah sakit yang berjarak sekitar dua blok, Vera tidak peduli meski harus menggunakan hight hells untuk berlari. Ia tidak ingin kehilangan momen terakhirnya bersama sang ayah. Sesampainya di rumah sakit Vera segera menuju ruang rawat milik ayahnya. Beberapa orang menatapnya aneh, Vera tau ia pasti terlihat acak-acakan karena berlari dengan kencang bahkan sampai hak sepatunya patah, namun ia tidak peduli dengan penampilannya sekarang. Yang terpenting adalah ayahnya. Hal pertama yang ia lihat saat masuk ke dalam ruangan ayahnya adalah kondisi ayahnya yang terlihat lemah dan cukup menyedihkan. Ibunya duduk di samping ayahnya sambil menggenggam tangan ayahnya, Vera yakin Ibunya sedang menangis sekarang. "Vera, bagaimana ini kita tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya operasi ayahmu, ibu tidak yakin ayahmu akan bertahan," lirih Janette, Ibu Vera. "Tenanglah Bu, semua pasti akan aku usahakan," jawab Vera cepat, padahal dalam hatinya Vera cukup tau diri jika ia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit milik ayahnya, apalagi untuk operasi, itu sungguh hal yang tidak mungkin. "Apa proyek yang kau kerjakan berjalan baik? Syukurlah, ibu sangat khawatir jika proyek terakhir kita akan berakhir sia-sia," ucap Janette penuh harap. Wajahnya terlihat sangat senang seolah baru saja menerima uang lotre. Vera hanya bisa tersenyum kecut sambil mengangguk mengiyakan, ia tidak bisa berkata jujur jika proyeknya bahkan belum ditanda tangani atau pun di setujui oleh perusahaan yang ia tawari. Jujur saja Vera sebenarnya sangat pesimis jika proposal yang ia ajukan akan di setujui oleh direktur perusahaan dari keluarga Flint. Vera hanya bisa pasrah sambil berharap adanya keajaiban sekarang. "Bu aku permisi sebentar," ucap Vera pamit, ia tidak bisa melihat kedua orang tuanya dengan kondisi yang seperti sekarang, ia juga harus keluar dan mencari pinjaman agar bisa membayar biaya rumah sakit milik ayahnya nanti. "Ibu percaya padamu sayang," ucap Janette sambil memeluk Vera, berharap putrinya bisa merasakan ketulusannya. Vera semakin merasa bersalah, kalau bukan karena dirinya, ayah dan ibunya tidak akan menderita seperti sekarang, bahkan meski ia sudah berusaha semampunya ia masih tidak bisa membawa perusahaan ayahnya menuju masa kejayaan seperti dulu, bahkan perusahaan yang ia pegang terus mengalami kemunduran karena kalah dengan persaingan. Vera menutup ruang rawat ayahnya kemudian berjalan dengan gontai menyusuri lorong rumah sakit yang masih terlihat ramai. Vera keluar dari rumah sakit dengan perasaan lesu dan juga bingung. Ia mencoba menghubungi beberapa teman dan juga saudaranya, berharap mereka mau meminjaminya uang. "Maaf kami tidak bisa lagi membantumu, keluarga kami juga cukup kesulitan karena ayahmu, kau bisa mencoba meminjam ke tempat lain." "Apa? Uang? Sudah berapa kali aku meminjamkan uang padamu! Apa kau tidak memikirkan jika Aku juga membutuhkan uang, dasar menyusahkan." "Aku tidak bisa, kau masih memiliki hutang padaku, maaf aku juga sedang membutuhkan uang." Jawaban dari setiap orang yang ia hubungi membuat Vera merasa sangat frustasi. Tidak ada lagi yang mau membantunya, bahkan pamannya dengan terang-terangan mengatakan jika ia sangat menyusahkan. Vera merasa sangat kesal sampai melemparkan ponselnya ke sembarang tempat. Tanpa Vera sadari, ponselnya mendarat di depan sebuah sepatu pantofel hitam yang entah milik siapa. Vera ingin mengambil ponselnya kembali, namun sebuah tangan kekar berwarna kecoklatan sudah lebih dulu mengambil ponselnya. Vera menatap pemilik tangan itu yang ternyata adalah seorang pria tegap dengan stelan jas berwarna hitam yang rapi. Pria itu mengulurkan ponsel milik Vera, bermaksud ingin mengembalikannya. "Terimakasih," ucap Vera sedikit malu. Vera segera mengambil ponselnya dari tangan pria itu, entah mengapa atmosfir di sekitarnya mulai terasa tidak nyaman, apalagi pria di depannya sama sekali jauh dari kata ramah. "Nona, Tuan Flint ingin bertemu denganmu, ia ingin membicarakan tentang proposal yang anda ajukan kemarin," ucap pria itu tiba-tiba. Vera segera membulatkan matanya karena terkejut, ia sampai tidak sadar jika belum memberikan jawaban apapun. Benarkan yang diucapkan pria asing itu? Bagaimana mungkin proposalnya mendapatkan respon secepat ini? Vera tidak punya waktu untuk memikirkan semuanya, ia harus secepatnya memastikan apakah proposalnya akan diterima atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD