Klien Nomor 47
Aku sudah menghitung, kalau boleh jujur. Empat puluh enam. Itu jumlah laki-laki yang pernah membayar untuk waktu, senyum, dan tubuhku sejak aku bergabung dengan agency ini. Empat puluh tujuh nama, empat puluh tujuh wajah yang nyaris selalu punya satu ekspresi yang sama di menit-menit pertama: lapar.
Yudha adalah yang keempat puluh delapan, dan sejauh ini, dia satu-satunya yang belum pernah kulihat menatapku seperti itu.
Malam itu, apartemen mewah yang jadi rumah sementara kami terasa terlalu senyap untuk ukuran dua orang yang secara hukum sudah "hidup bersama" selama tiga minggu. Aku baru selesai mandi, rambutku masih setengah basah, dan aku sengaja hanya mengenakan kemeja tidur tipis yang kutahu persis efeknya kalau dilihat dari sudut yang tepat, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Ini bukan kebetulan. Delapan tahun di dunia ini mengajarkanku bahwa tidak ada yang namanya kebetulan—semua diperhitungkan, semua dipoles sampai terlihat seperti spontanitas.
Yudha duduk di tepi ranjang, masih dengan kemeja kerja yang belum sempat dia ganti, matanya menatap laptop yang menyala di pangkuannya. Aku mendekat, pelan, membiarkan langkahku terdengar cukup jelas supaya dia sadar aku ada di sana. Dia mendongak sebentar, lalu kembali ke layarnya seolah aku hanya bayangan lewat.
Itu yang paling membuatku gemas.
Aku duduk di sampingnya, cukup dekat sampai bahuku menyentuh lengannya. Aroma sabun masih menempel di kulitku, bercampur dengan wangi parfum ringan yang sengaja kupakai untuk momen seperti ini. "Kamu tahu, kan, aku bukan pajangan," bisikku, jariku bergerak pelan menyusuri kerah kemejanya. Kulitnya hangat, dan aku bisa merasakan otot rahangnya mengeras sesaat—reaksi kecil yang hampir tak kentara, tapi aku terlatih untuk menangkap hal-hal semacam itu. Aku pernah membaca reaksi seperti ini ratusan kali dari klien-klien lain, dan biasanya, itu adalah awal dari segalanya.
Yudha menutup laptopnya, akhirnya menoleh penuh ke arahku. Untuk sepersekian detik, ada sesuatu di matanya yang membuat napasku tertahan—bukan nafsu yang biasa kutemui, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih hati-hati, seperti orang yang sedang menahan diri mati-matian dari sesuatu yang dia inginkan lebih dari apa pun. Aku hampir bisa merasakan getaran itu dari jarak sedekat ini, seperti ada dua kekuatan yang saling tarik-menarik di dalam dirinya.
Lalu, seperti biasa, dia menariknya kembali.
"Sudah malam," katanya, suaranya pelan tapi tegas. "Kamu harus istirahat."
Aku menaikkan satu alis, mendekat lebih jauh, membiarkan jariku turun ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang—aku bisa memastikan—jauh lebih cepat dari yang seharusnya untuk orang yang "hanya ingin istirahat". "Aku nggak capek," gumamku, suaraku sengaja kubuat rendah, menggoda. "Dan kamu sudah bayar mahal untuk ini, Pak Yudha. Sayang kalau nggak dipakai."
Dia menahan tanganku, bukan dengan kasar, tapi dengan kelembutan yang justru lebih menggangguku daripada penolakan yang tegas. Genggamannya hangat, jari-jarinya menyelip di antara jariku sebentar sebelum melepaskannya perlahan, seolah dia sedang berusaha keras untuk tidak membiarkan dirinya sendiri kalah. "Bukan begitu caranya," katanya.
"Caranya apa?" Aku menarik napas, mencoba menutupi rasa kesal yang mulai menyeruak. Aku bukan perempuan yang biasa ditolak—bukan karena aku sombong, tapi karena selama ini penolakan bukan bagian dari kosakata dunia yang kutinggali. Di dunia ini, kalau kamu sudah bayar, kamu berhak. Titik. Aturan itu sesederhana matematika, dan seumur hidupku menjadi companion, tidak ada satu pun klien yang pernah membuatku mempertanyakan kesederhanaan itu.
Sampai malam ini.
Tapi Yudha melepaskan tanganku pelan-pelan, lalu berdiri, menjaga jarak seolah jarak itu satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya dari sesuatu. Punggungnya sedikit menegang, dan aku memperhatikan bagaimana dia menarik napas panjang sebelum berbalik menghadapku lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih terkendali.
Aku menatapnya lama, mencoba membaca apa yang sebenarnya terjadi di balik wajah tenangnya itu. Tidak ada rasa jijik. Tidak ada rasa takut. Justru yang paling aneh, matanya menyimpan sesuatu yang terlalu mirip dengan... rasa sayang. Dan itu jauh lebih membingungkan daripada penolakan itu sendiri. Aku sudah biasa dengan tatapan lapar, tatapan menghakimi, bahkan tatapan hampa dari klien yang hanya menganggapku sebagai pelampiasan. Tapi tatapan seperti ini—yang seolah menahan diri karena terlalu menghargai sesuatu—benar-benar baru bagiku.
Aku bangkit dari ranjang, melipat tangan di d**a, mencoba tetap terlihat tenang meski di dalam kepalaku berkecamuk seribu pertanyaan. "Atau," kataku akhirnya, dengan nada setengah mengejek, setengah putus asa untuk mencari jawaban yang masuk akal, "jangan-jangan kamu lemah syahwat, ya?"
Untuk sepersekian detik, dia terdiam. Lalu tawa kecil lolos dari bibirnya—bukan tawa tersinggung, bukan juga tawa yang dibuat-buat. Tawa itu terdengar tulus, hangat, seolah dia menemukan sesuatu yang lucu dari kesalahpahamanku. Suara tawanya, meski pelan, entah kenapa terasa menenangkan, seperti sesuatu yang jarang kudengar dari laki-laki manapun di ruangan ini sebelumnya.
"Kalau iya," katanya, masih dengan senyum tipis tersisa, "kamu bakal jadi orang pertama yang tahu."
Jawaban itu—entah kenapa—justru membuatku semakin penasaran, bukannya lega. Karena kalau bukan itu alasannya, lalu apa? Aku memutar otak, mencoba mencari kemungkinan lain: apakah dia sudah punya seseorang yang lain, sesuatu yang membuatnya merasa bersalah kalau menyentuhku? Ataukah ini semacam permainan psikologis yang belum pernah kutemui, cara baru untuk membuatku semakin penasaran, semakin terikat?
Dia berjalan ke sisi lain kamar, mengambil bantal dan selimut cadangan dari lemari, bersiap tidur di sofa seperti yang selalu dia lakukan setiap malam sejak kami mulai tinggal bersama. Aku memperhatikan punggungnya, caranya bergerak, caranya menghindar dariku bukan karena tidak tertarik, tapi karena sesuatu yang aku belum bisa pahami. Ada kedisiplinan aneh dalam caranya menolak, seolah ini bukan keputusan spontan, melainkan prinsip yang sudah dia pegang jauh sebelum kami bertemu.
"Selamat malam, Sandra," katanya sebelum mematikan lampu utama, meninggalkan hanya cahaya temaram lampu tidur di antara kami. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan, dan entah kenapa nama itu—namaku sendiri—terdengar berbeda ketika keluar dari mulutnya, bukan seperti sebutan untuk sebuah aset yang disewa, tapi seperti seseorang yang benar-benar dia lihat sebagai manusia.
Aku berbaring di ranjang yang terlalu besar untuk satu orang, menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya sejak aku memulai pekerjaan ini, aku benar-benar tidak tahu harus berpikir apa tentang seorang klien. Biasanya, di malam-malam seperti ini, kepalaku sudah penuh dengan strategi bagaimana menghadapi klien besok, bagaimana menjaga jarak emosional supaya semua tetap berjalan sesuai rencana. Tapi malam ini, yang ada di kepalaku hanya satu pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban: kalau bukan karena tubuhku, lalu untuk apa sebenarnya Yudha membayar semahal itu.
Di kegelapan kamar, aku bisa mendengar suara samar Yudha membenahi posisi tidurnya di sofa ruang tengah, dan entah kenapa, suara sesederhana itu membuat sesuatu di dalam dadaku terasa hangat—sebuah perasaan yang seharusnya tidak kubiarkan tumbuh, tapi malam itu, aku terlalu lelah untuk melawannya.