Aku berbaring di sofa yang terlalu pendek untuk tubuhku, kakiku menjuntai sedikit melewati sandaran, menatap langit-langit apartemen yang temaram, dan aku masih bisa merasakan detak jantungku yang belum sepenuhnya normal sejak Sandra duduk di sampingku tadi.
Bodoh. Aku bodoh sekali.
Aku menutup mata, mencoba mengatur napas, tapi bayangan itu masih terekam jelas—caranya mendekat, aroma sabun yang masih menempel di kulitnya, jarinya yang menyusuri kerah kemejaku dengan gerakan yang begitu ringan tapi terasa seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Aku sudah menahan diri sejak tiga minggu lalu, sejak hari pertama kami tinggal serumah, dan setiap malam rasanya semakin berat, bukan semakin mudah seperti yang kuharapkan.
Aku bahkan sempat berpikir, kalau begini terus, apa aku akan sanggup bertahan sampai setahun penuh.
Tapi aku tahu persis kenapa aku melakukan ini. Aku sudah memikirkannya berkali-kali, bahkan sebelum tanda tangan kontrak itu diteken, sebelum aku menjaminkan ruko peninggalan orang tuaku, sebelum aku menjual sebagian saham perusahaan yang susah payah kubangun dari nol. Aku tahu risikonya. Aku tahu ini gila. Tapi aku juga tahu, kalau aku tidak mengambil kesempatan ini, aku akan menyesalinya seumur hidup—menyesal karena membiarkan perempuan yang sudah lama kukagumi dari jauh, tanpa pernah berani mendekat, akhirnya jatuh ke tangan orang lain yang mungkin tidak benar-benar peduli padanya, yang hanya melihatnya sebagai barang mewah untuk dipamerkan.
Aku ingat pertama kali melihat Sandra, bertahun-tahun lalu, di sebuah acara amal yang kudatangi bersama rekan bisnis. Waktu itu aku masih jadi pengusaha kecil yang nyaris tidak punya modal, berdiri canggung di pojok ruangan sambil memegang gelas anggur yang tidak kusentuh, dan aku melihatnya berjalan melintasi ruangan itu seperti dia memiliki tempat itu sepenuhnya—percaya diri, anggun, tapi ada sesuatu di matanya yang terlihat lelah, seperti dia sedang menjalankan sebuah peran yang sudah dia hafal luar kepala tapi tidak pernah benar-benar dia sukai.
Aku tidak pernah berani mendekatinya waktu itu. Aku tahu diri. Perempuan seperti dia—yang dikelilingi laki-laki kaya, yang harganya saja sudah membuatku pusing membayangkan angkanya—jelas bukan level seorang pengusaha kecil sepertiku. Jadi aku hanya menyimpannya, jauh di sudut ingatanku, sebagai salah satu penyesalan kecil yang kupikir tidak akan pernah kudapat kesempatan untuk kuperbaiki.
Sampai lima tahun kemudian, ketika usahaku sudah cukup berkembang untuk mengambil risiko besar, aku melihat namanya lagi—kali ini di sebuah platform companion eksklusif, dengan harga yang membuat siapa pun berpikir dua kali.
Aku tidak berpikir dua kali. Aku bahkan tidak sempat berpikir sama sekali. Yang ada di kepalaku waktu itu hanya satu: ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali, dan kalau aku tidak mengambilnya sekarang, aku akan terus hidup dengan pertanyaan “bagaimana kalau” sampai tua.
Tapi sekarang, berbaring di sofa ini, mendengar suara samar Sandra yang mungkin sedang menyalakan lampu tidur di kamar, aku sadar ada satu hal yang tidak pernah kupikirkan matang-matang sebelumnya: bagaimana caranya membuat perempuan yang sudah terbiasa dianggap barang, yang sudah membangun tembok setebal apa pun demi melindungi dirinya sendiri, percaya bahwa aku menginginkannya bukan karena aku sudah bayar mahal, tapi karena aku benar-benar peduli padanya sebagai manusia.
Kalau aku menyentuhnya malam ini, seperti yang dia tawarkan, seperti yang jelas-jelas dia harapkan—apa bedanya aku dengan empat puluh tujuh laki-laki sebelumnya? Aku akan jadi satu lagi nama dalam daftar itu, satu lagi wajah yang dia ingat dengan ekspresi lapar yang sama, satu lagi bukti bahwa dunia ini memang seperti yang dia yakini: bahwa dia hanya berharga sebatas apa yang bisa dibeli dari tubuhnya.
Aku tidak mau jadi itu. Aku tidak akan sanggup jadi itu.
Aku menghela napas panjang, membenarkan posisi bantal di bawah kepalaku, mencoba mengusir bayangan Sandra yang berdiri di depanku tadi, lengannya terlipat di d**a, wajahnya yang setengah kesal setengah bingung saat aku menolaknya. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan dari caranya bertanya “jangan-jangan kamu lemah syahwat, ya” dengan nada mengejek itu—seolah dia benar-benar tidak bisa membayangkan alasan lain kenapa seorang laki-laki menolak kesempatan yang, di matanya, seharusnya dia terima tanpa pikir panjang.
Aku hampir tertawa mengingatnya, tapi di balik tawa kecil itu, ada rasa sedih yang menggantung. Berapa banyak laki-laki yang sudah membuatnya percaya bahwa itu satu-satunya nilai yang dia punya? Berapa lama dia harus hidup dengan keyakinan bahwa tubuhnya adalah satu-satunya alasan orang mau berada di dekatnya?
Aku bertekad, malam itu, sambil menatap langit-langit apartemen yang mulai terasa lebih familiar setiap harinya, bahwa aku akan bersabar. Aku akan menunggu sampai dia sendiri yang memutuskan untuk memberikan itu, bukan karena kontrak, bukan karena dia merasa berkewajiban, tapi karena dia benar-benar menginginkannya, sama seperti aku menginginkannya.
Meski aku tahu, menunggu itu akan jadi salah satu hal paling sulit yang pernah kulakukan dalam hidupku.
Aku memikirkan angka-angka di laporan keuangan usahaku yang masih menumpuk di meja kerja, memikirkan cicilan yang harus kubayar bulan depan, memikirkan agunan yang sudah kupertaruhkan tanpa jaring pengaman. Semua risiko itu terasa berat, tapi anehnya, tidak ada satu pun dari itu yang membuatku menyesal. Yang membuatku takut justru hal lain—kemungkinan bahwa setelah semua ini, setelah aku mempertaruhkan segalanya, Sandra tetap akan menganggapku sama seperti klien-klien lain begitu kontrak ini selesai.
Aku menutup mata, mendengarkan detak jam dinding yang berdetak pelan di ruang tengah, dan berjanji pada diriku sendiri: aku akan buktikan aku berbeda, secara perlahan, tanpa terburu-buru, meski itu berarti aku harus tidur di sofa sempit ini setiap malam sampai dia sendiri yang membuka pintu itu untukku.