Aturan Main

951 Words
Ada tiga aturan yang selalu kupegang sejak hari pertama aku menjadi companion. Satu: jangan pernah percaya kata-kata manis klien di tempat tidur. Dua: jangan pernah berharap lebih dari apa yang tertulis di kontrak. Tiga: jangan pernah membiarkan diri sendiri terlalu penasaran soal kehidupan pribadi klien. Ketiga aturan itu bukan sekadar prinsip yang kubuat asal-asalan. Mereka lahir dari luka-luka kecil di sepanjang delapan tahun aku bekerja di dunia ini—dari klien yang berjanji akan "menyelamatkanku" lalu menghilang begitu kontraknya habis, dari klien yang membuatku percaya ada sesuatu yang spesial lalu ternyata aku hanya satu dari lima companion lain yang dia sewa bergantian, dari rasa sakit karena berharap terlalu banyak pada orang yang jelas-jelas hanya menganggapku sebagai barang bernilai tinggi. Aku melanggar aturan ketiga di pagi setelah malam itu, saat aku duduk di meja makan sambil diam-diam memperhatikan Yudha menyeduh kopi untuk kami berdua, gerakannya rapi dan terbiasa, seolah dia sudah lama hidup sendiri dan terbiasa mengurus dirinya tanpa bantuan siapa pun. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara dia bergerak di dapur kecil itu—tidak terburu-buru, tidak dibuat-buat, seperti seorang laki-laki yang benar-benar terbiasa hidup sederhana, bukan sekadar berpura-pura sederhana di depanku. "Kamu nggak biasa punya asisten rumah tangga?" tanyaku, mencoba terdengar santai, meski sebenarnya aku sedang memancing informasi. "Nggak perlu," jawabnya singkat, meletakkan cangkir di depanku. Uap tipis mengepul dari permukaan kopi hitam itu, aromanya kuat dan sedikit pahit, persis seperti caranya menjawab pertanyaan-pertanyaan pribadi—singkat, tanpa banyak bumbu. "Aku terbiasa sendiri." Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuatku semakin penasaran. Klien-klienku yang lain—yang benar-benar kaya, bukan yang nekat seperti Yudha—selalu punya orang untuk mengurus segalanya: sopir pribadi, asisten rumah tangga, bahkan orang yang khusus mengatur jadwal olahraga mereka. Mereka terbiasa dilayani, bukan melayani diri sendiri. Melihat Yudha menyeduh kopinya sendiri dengan gerakan yang begitu wajar membuatku sadar, ada jarak besar antara dunia yang dia coba masuki dan dunia asalnya. Aku menyesap kopiku, memperhatikannya dari balik cangkir, mencoba membaca setiap detail kecil di wajahnya—cara dia mengernyitkan dahi ketika berpikir, cara dia menghindari kontak mata terlalu lama ketika membicarakan sesuatu yang personal. "Kamu tahu, aku bukan tipe yang biasanya diambil orang sepertimu," kataku akhirnya, mencoba memancing reaksi. Dia menatapku sebentar, lalu duduk di seberangku, jarak meja kecil di antara kami terasa lebih besar dari yang seharusnya. "Orang seperti apa maksudmu?" "Orang yang belum tentu mampu bayar cicilannya sendiri," jawabku, sengaja blak-blakan. Aku sudah cukup lama di dunia ini untuk tahu kapan harus berbasa-basi dan kapan harus langsung ke inti masalah, dan pagi itu, aku memilih yang kedua. Untuk sesaat, raut wajahnya berubah—bukan marah, tapi seperti orang yang ketahuan menyimpan sesuatu. Jemarinya mengetuk pelan tepi cangkir kopinya, sebuah gestur kecil yang menandakan dia sedang memikirkan jawaban yang tepat. "Aku mampu," katanya, meski nadanya tidak seyakin kata-katanya. Aku tidak mendesaknya lebih jauh, meski rasa penasaran itu terus menggerogotiku sepanjang hari. Ada sesuatu yang tidak pas antara harga kontrak ini dan gaya hidup Yudha yang sederhana—mobil biasa yang terparkir di garasi, apartemen yang meski nyaman tapi jauh dari kata mewah dibandingkan tempat tinggal klien-klien lamaku, kebiasaan menyeduh kopi sendiri alih-alih memanggil orang, bahkan caranya melipat kemeja kerjanya sendiri setiap pagi tanpa bantuan siapa pun. Dulu, aku selalu bisa membaca klien dalam lima menit pertama. Aku bisa menebak motif mereka, ketakutan mereka, bahkan kebohongan kecil yang mereka simpan di balik senyum ramah mereka. Kemampuan itu bukan bakat alami—itu hasil bertahun-tahun belajar bertahan hidup di dunia yang penuh dengan orang-orang yang pandai menyembunyikan niat sebenarnya. Tapi dengan Yudha, semakin lama aku bersamanya, semakin banyak pertanyaan yang muncul, bukan berkurang. Setiap kali aku merasa hampir memahami satu bagian dari dirinya, muncul detail baru yang membuat gambaran itu berantakan lagi. Sore harinya, saat dia sibuk dengan panggilan kerja di ruang kerjanya, suaranya samar terdengar membahas sesuatu tentang proyeksi anggaran dan tenggat waktu, aku duduk sendirian di balkon, memandang kota yang mulai temaram, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu seperti bintang buatan manusia. Angin sore membelai rambutku yang masih sedikit lembap dari mandi tadi pagi, dan aku memikirkan kembali kata-katanya semalam—kalau kamu ngasih itu karena kamu mau, bukan karena kontrak—dan untuk pertama kalinya, aku merasa aturan ketiga yang selama ini kupegang erat mulai retak tanpa bisa kucegah. Aku benci perasaan itu. Rasa penasaran yang tumbuh jadi sesuatu yang lebih besar, lebih berbahaya, dari sekadar rasa ingin tahu biasa. Aku sudah terlalu lama membangun tembok di sekitar diriku sendiri, menganggap setiap laki-laki yang membayarku sebagai sekadar transaksi yang akan berakhir tepat waktu, tanpa bekas, tanpa luka baru. Tapi Yudha, dengan segala keanehannya, mulai membuat retakan kecil di tembok itu—dan yang paling menakutkan, aku tidak sepenuhnya membencinya. Malam itu, ketika Yudha akhirnya keluar dari ruang kerjanya, wajahnya terlihat lelah namun ada semacam kepuasan tersembunyi, seperti orang yang baru saja memenangkan pertarungan kecil. Ia duduk di sampingku di balkon tanpa berkata apa-apa dulu, hanya menikmati keheningan yang, anehnya, terasa nyaman alih-alih canggung. "Kerjaan hari ini berat?" tanyaku, mencoba membuka percakapan dengan nada ringan. "Lumayan," jawabnya sambil menghela napas panjang, matanya menatap ke arah cakrawala kota yang mulai berkelip. "Tapi kelar. Untuk sekarang." Ada penekanan aneh di kata "untuk sekarang" itu, seolah dia tahu betul bahwa masalah yang satu ini hanya reda sementara, bukan benar-benar selesai. Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi aku menahan diri, mengingat aturan kedua yang kupegang: jangan berharap lebih dari yang seharusnya. Meski, jujur saja, aturan itu terasa semakin sulit kupertahankan setiap hari yang kulalui bersamanya. Kami duduk berdua dalam diam yang aneh tapi tidak canggung, menatap kota yang perlahan menyala sepenuhnya di bawah kami, dan untuk sesaat, aku membiarkan diriku menikmati momen itu tanpa terlalu banyak berpikir tentang apa artinya, atau ke mana semua ini akan berakhir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD