Aku menemukannya secara tidak sengaja.
Ponsel Yudha tergeletak di meja dapur saat dia sedang mandi, layarnya menyala karena notifikasi baru masuk. Aku tidak berniat mengintip—sungguh—tapi judul notifikasi itu terlalu mencolok untuk kuabaikan begitu saja, muncul terang di tengah layar yang menyala sendiri di atas meja kayu.
Pengingat Pembayaran Cicilan PayLater — Jatuh Tempo 3 Hari Lagi.
Aku menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya, rasa penasaran mengalahkan akal sehatku. Aku tahu aku tidak berhak, tapi jariku sudah bergerak sendiri, membuka notifikasi itu untuk melihat lebih jelas, seolah tubuhku bertindak lebih cepat daripada kesadaranku bisa mencegahnya.
Angkanya membuatku terdiam.
Bukan angka yang kecil. Sama sekali bukan. Ini cicilan bulanan yang nilainya setara dengan penghasilan tahunan orang kebanyakan—dan ini baru satu dari total dua belas kali cicilan yang harus dia bayarkan selama setahun kontrak kami. Aku menghitung cepat di kepalaku, mengalikan angka itu dengan dua belas, dan hasilnya membuat dadaku terasa sesak. Aku tahu aku “mahal”, tapi melihat angka konkretnya, hitam di atas putih, terasa jauh berbeda dari sekadar mendengar rumor tentang berapa nilai companion papan atas seperti diriku.
Aku meletakkan kembali ponsel itu tepat di posisi semula, jantungku berdebar lebih cepat dari yang seharusnya. Selama ini aku tahu nilai kontrakku tinggi—setiap companion papan atas tahu diri mereka “mahal”—tapi aku tidak pernah benar-benar tahu angka pastinya. Agency selalu merahasiakan nilai penuh kontrak dari kami, hanya memberi tahu berapa persen yang akan menjadi bagianku setiap bulan, sebuah kebijakan yang selama ini kuanggap wajar, bahkan tidak pernah kupertanyakan. Tapi sekarang, berdiri di dapur dengan jantung yang masih berdebar, aku mulai bertanya-tanya kenapa agency begitu berhati-hati menyembunyikan angka itu dari kami, para perempuan yang justru “dijual” dengan harga tersebut.
Tapi melihat angka cicilan itu membuatku sadar satu hal yang lebih penting: Yudha sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Ini bukan lagi soal seorang pengusaha muda yang iseng menghabiskan uang berlebih. Ini soal seseorang yang benar-benar mempertaruhkan masa depannya sendiri.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah, tetesan air kecil menempel di pelipisnya, aku berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, menyibukkan diri dengan menuangkan air ke gelas yang sebenarnya sudah penuh. Tapi dia menangkap sesuatu di wajahku—dia selalu jeli, aku baru menyadarinya belakangan ini, seolah dia punya kemampuan membaca perubahan sekecil apa pun di ekspresiku, sama seperti aku yang terlatih membaca ekspresi orang lain.
“Kamu kenapa?” tanyanya, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, matanya menatapku lekat dari balik helaian rambut basah yang jatuh ke dahinya.
“Nggak apa-apa,” jawabku cepat, mungkin terlalu cepat, suaraku sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Dia tidak mendesak, hanya menatapku sebentar sebelum berjalan ke lemari untuk mengambil pakaian. Tapi aku terus memperhatikannya dari sudut mataku, mencoba mencari petunjuk lain—tanda kelelahan, kekhawatiran, apa pun yang bisa menjelaskan kenapa seorang pengusaha dengan bisnis yang belum sepenuhnya mapan berani mengambil risiko sebesar itu. Aku memperhatikan bahunya yang sedikit menegang saat dia mengancingkan kemeja, gerakan tangannya yang sedikit lebih kaku dari biasa, seolah ada beban yang dia bawa diam-diam sepanjang hari tanpa pernah dia tunjukkan secara terbuka.
Malam itu, saat kami makan malam berdua dalam diam yang tidak seperti biasanya, suara sendok beradu piring terdengar lebih jelas dari biasanya di tengah keheningan yang canggung, aku akhirnya bertanya, meski aku tahu ini melanggar aturan keduaku sendiri. “Yudha,” kataku pelan, meletakkan sendok garpuku, “kenapa kamu ambil kontrak semahal ini? Jujur aja.”
Dia berhenti mengunyah sebentar, menatapku lama sebelum menjawab, seolah sedang menimbang-nimbang berapa banyak kebenaran yang siap dia bagikan malam itu. “Karena aku nggak sanggup lihat kamu jadi milik orang lain,” katanya, suaranya tenang tapi penuh keyakinan, matanya tidak sekali pun berkedip saat mengucapkannya.
Aku tertawa kecil, mencoba menganggapnya sebagai gombalan klien biasa, semacam pertahanan reflektif yang selalu kupakai setiap kali seorang laki-laki mulai mengucapkan kata-kata yang terlalu manis untuk dipercaya. “Itu jawaban klasik posesif,” ledekku, meski di dalam hati, sesuatu dalam diriku bergetar mendengarnya, sebuah sensasi asing yang tidak pernah kurasakan dari kalimat sejenis yang diucapkan klien-klien lain.
Tapi dia tidak tertawa. Dia hanya menatapku dengan mata yang terlalu jujur untuk sekadar gombalan, dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus percaya atau tidak pada kata-kata seorang klien. Aku menunduk, memainkan sisa makanan di piringku, mencoba mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan sebelum perasaan asing ini semakin membesar tanpa bisa kukendalikan.
“Kamu tahu,” kataku akhirnya, mencoba mengembalikan suasana ke titik yang lebih aman, “aku pernah dengar banyak alasan dari klien kenapa mereka mau bayar mahal. Ada yang bilang buat gengsi. Ada yang bilang buat pamer ke rekan bisnis. Tapi belum pernah ada yang bilang alasan sesimpel itu.”
“Karena memang sesimpel itu,” jawabnya, meletakkan sendoknya, menatapku dengan tatapan yang membuatku sulit mengalihkan pandangan. “Nggak ada yang rumit. Aku Cuma nggak mau nyesel karena nggak coba.”
Malam itu, setelah makan malam selesai dan piring-piring sudah dicuci, aku berbaring sendirian di kamar sambil memikirkan angka cicilan yang tadi kulihat, memikirkan risiko besar yang sedang ditanggung Yudha tanpa pernah dia keluhkan sedikit pun. Ada bagian dari diriku yang ingin menganggap ini semua sebagai permainan belaka, cara lain untuk membuatku merasa istimewa demi mengikat perhatianku lebih lama. Tapi bagian lain dari diriku—bagian yang selama ini kubungkam rapat-rapat demi bertahan hidup di dunia ini—mulai percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, ada laki-laki yang benar-benar bersedia mempertaruhkan segalanya bukan demi memiliki tubuhku, tapi demi sesuatu yang jauh lebih sederhana dan lebih menakutkan: demi diriku seutuhnya.