Setibanya di apartemen, Rendy membuka pintu, lalu membawa Shafira langsung ke ranjang. Ia meletakkan Shafira dengan sangat hati-hati. Rendy berlutut di samping ranjang, melepaskan sepatu bot Shafira. Tiba-tiba, Shafira meraih tangan Rendy dengan kuat. "Mas Rendy... jangan pergi..." pintanya, suaranya pelan dan serak. Rendy menoleh. Ia menatap wajah Shafira yang cantik, kini dipenuhi rona merah karena mabuk. Ia tidak tahu apakah Shafira sadar sedang bicara dengan siapa. "Aku enggak akan pergi, Fira. Kamu tidur, ya," bisik Rendy, mengelus lembut pipi Shafira. Shafira tidak melepaskan tangan Rendy. Ia tiba-tiba menarik Rendy ke dalam pelukannya dengan sekuat tenaga, membuat tubuh Rendy kehilangan keseimbangan dan ambruk di sampingnya. "Mas Rendy, Shafira kangen..." gumam Shafira, matany

