Café itu masih sama seperti dulu, aroma kopi, alunan musik pelan, dan sudut jendela tempat mereka biasa duduk berdua. Sagara memilih duduk di sana, menatap kosong ke luar jendela sambil menggenggam secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Hatinya penuh sesak oleh kenangan. Bayangan Ayunda yang tersenyum malu-malu saat ia menggoda, suara tawa mereka ketika berdebat kecil, bahkan hangatnya genggaman tangan Ayunda saat hujan turun di sore terakhir sebelum ia berangkat ke Australia, semua berputar di benaknya, seperti film lama yang tak mau berhenti diputar. Sagara memejamkan mata. Ia masih bisa merasakan rasa dari ciuman perpisahan mereka di depan gerbang sekolah. Ciuman yang dulu ia yakini sebagai janji , bahwa setelah kuliah, ia akan kembali dan menikahi Ayunda. Namun sekarang… semuanya

